Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pengasuh Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang
Al-Qur’an dan al-Hadits (baca: sunnah Nabi Muhammad saw.) merupakan sumber ajaran Islam yang di antara makna paling generiknya adalah keselamatan (salaam). Makna lainnya adalah ketundukan, kepatuhan, dan kepasrahan. Sebab, di dalamnya ada petunjuk yang jika ditunduk-patuhi, akan mengantarkan kepada kebaikan, baik di dunia mupun di akhirat. Orang yang ingin mendapatkan keselamatan, maka harus mengikutinya (al-Baqarah: 38,143, 170, Ali Imran: 31, 53, al-An’am: 106, 153, 155, al-A’raaf: 3, 157, 158, 203, Yunus: 15, 109, Thaha: 123, Luqman: 21, al-Ahzab: 2, Yasin: 21, al-Zukhruf: 61, al-Ahqaf: 9). Sebaliknya, orang yang tidak mengikutinya alias mengingkari atau membangkang, maka akan mengalami kerugian dan kesengsaraan, baik di dunia maupun–dan pasti–di akhirat.
Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Saw. harus diikuti, karena keduanya adalah panduan kepada kebenaran. Allah menurunkan al-Qur’an karena manusia tidak mengetahui apa pun tentang kebenaran. Dengan al-Qur’an, Nabi Muhammad yang ummiyy yang karena itu tidak mengetahui apa pun tentang ketetapan dan juga iman, menjadi mengetahuinya.
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (al-Syura: 52).
Penegasan untuk mengikuti al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad diperlukan, karena keduanya menyampaikan berbagai hal yang bisa langsung dicerap–maupun yang tidak bisa dijangkau–oleh panca indera. Untuk hal-hal yang bisa dicerap oleh panca indera, manusia mudah menerimanya sebagai kebenaran. Bahkan, ini kemudian dijadikan sebagai kriteria utama di dalam sains modern dengan kerangka positifisme. Namun, kepada hal-hal yang bersifat tidak verifikatif dan terlebih lagi yang masuk dalam kategori yang oleh al-Qur’an disebut sebagai yang ghaib (al-ghayb), mereka tidak bisa menerimanya sebagai realitas atau kebenaran. Padahal untuk sampai kepada simpulan tentang kebenaran ajaran Islam, terutama al-Qur’an dan juga Nabi Muhammad telah membuktikan banyak hal yang disebut mu’jizat yang di antaranya masih bisa dibuktikan oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Karena itulah, al-Qur’an menegaskan tentang dirinya sendiri bahwa ia adalah kitab (ketetapan) yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya (al-Baqarah: 2). Tanpa ketetapan itu, manusia akan terombang-ambing oleh dugaan-dugaan semata, yang jika pun kebetulan sama dengan kebebaran yang ditetapkan Allah, menjadi tidak bernilai kebenaran sama sekali (al-Najm: 23, 28).
Al-Qur’an telah membuktikan kebenaran seluruh ajaran yang ada di dalam dirinya dengan berbagai cara yang meyakinkan, di antaranya dengan:
Pertama, ketinggian bahasa sastranya yang mengalahkan bahasa sastra seluruh karya pujangga terhebat yang pernah dan akan ada. Namun, bahkan sejak awal, kaum kafir menganggap ayat-ayat al-Qur’an yang luar biasa indah itu hanyalah sekedar perkataan seorang penyair yang kerasukan jin (syaa’ir majnuun). “Dan mereka berkata: “Apakah sesngguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair yang kerasukan jin?” (al-Shaaffaat: 36). Karena mereka sudah keterlaluan dengan tuduhan yang merendahkan, maka tidak ada jalan lain, kecuali al-Qur’an sendiri mengambil sikap tegas dengan cara menantang untuk membuat yang seperti al-Qur’an. “Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (al-Isra’: 88). Karena tidak ada satu pun yang memenuhi tantangan itu, maka al-Qur’an menurunkan tantangan untuk membuat hanya sekedar sepuluh, bahkan satu surat saja (Hud: 13, al-Baqarah: 23, Yunus: 38)
Kedua, prediksi al-Qur’an terbukti, bahkan sampai pada sebuah kejadian dengan angka yang cukup rigid. Di antara prediksi itu adalah Abu Lahab dan istrinya akan masuk neraka (al-Lahab: 1-5). Terbukti bahwa keduanya mati dalam keadaan kafir. Sedangkan prediksi dengan angka rigid adalah kemenangan Romawi atas Persia hanya dalam rentang waktu tiga sampai sembilan tahun saja (al-Rum: 2-3). Di dalam prediksi al-Qur’an tersebut ada kata bidl’un yang oleh bangsa Arab saat itu digunakan untuk menyebut angka tiga sampai dengan sembilan. Memang ada perbedaan rentangnya, tetapi tidak banyak. Nah, prediksi ini sempat ditertawakan juga oleh para penentang Islam, tetapi kemudian al-Qur’an benar-benar terbukti sebagai yang benar. Romawi menang kembali atas Persia pada tahun ketujuh, setelah kekalahannya. Berarti waktu kemenangan itu benar-benar berada dalam rentang yang diprediksi oleh al-Qur’an. Reputasi al-Qur’an dipertaruhkan besar-besaran di sini. Jika pun menang, tetapi di luar rentang waktu itu, maka al-Qur’an akan terbukti keliru. Konsekuensinya, al-Qur’an layak tidak dipercaya lagi.
Ketiga, semakin banyak informasi saintifik al-Qur’an terbukti. Di antaranya yang sangat populer adalah temuan jasad Fir’aun yang masih utuh (Yunus: 92) yang kemudian diteliti oleh seorang ilmuan Perancis Maurice Bucaille, gerakan lempeng tektonik yang menyebabkan gunung-gunung berjalan sebagaimana awan di angkasa berjalan (al-Naml: 88), dll. Faktor kebenaran saintifik inilah yang menyebabkan banyak ilmuan Barat yang objektif dan tidak memiliki kepentingan besar yang bersifat duniawi kemudian melakukan konversi agama, memilih Islam sebagai jalan baru dalam sisa hidup mereka, dan menjadi pendakwah-pendakwah yang sangat gigih dengan menunjukkan bukti-bukti saitifik yang mereka temukan.
Keempat, al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dihafalkan di luar kepala oleh siapa pun yang memiliki usaha sungguh-sungguh untuk melakukannya, bahkan oleh anak kecil sekalipun. Dan ini sesungguhnya juga merupakan bukti kebenaran pernyataan al-Qur’an bahwa Allah memang telah memudahkan al-Qur’an untuk dihafalkan, yang di antara hikmahnya adalah untuk memastikan orisinalitas al-Qur’an sebagaimana awal diturunkan kepada Nabi Muhammad, tidak ada perubahan sedikit pun (al-Qamar: 17, 22, 32, 40).
Keempat bukti di atas merupakan pernyataan-pernyataan yang bersifat verifikatif alias bisa dibuktikan oleh siapa pun di dunia ini. Namun, al-Qur’an juga mengandung berbagai pernyataan yang tidak bisa diverifikasi, karena akan terjadi bersamaan dengan kehancuran alam semesta dan setelahnya, di antaranya adalah kiamat dan kehidupan akhirat. Juga tedapat pernyataan dan perintah yang pelaksaanaanya menjadi indikator keimanan seseorang, di antaranya adalah masa ‘iddah untuk perempuan yang ditinggal mati dan diceraikan oleh suami. Jika untuk hal-hal yang bersifat verfikatif terbukti, maka untuk hal-hal yang tidak verifikatif, harus diikuti. Dengan mengikuti semuanya itu, maka manusia akan bisa menjalani kehidupan di dunia ini dengan benar, sesuai dengan keinginan Allah. Dengan mengikuti semua keinginan Allah, maka manusia akan mendapatkan keselamatan. Terhindar dari siksaan yang menyakitkan dan menghinakan di neraka yang oleh sebagian besar orang tetap saja diragukan. Wallahu a’lam bi al-shawab






