MBG Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan

*Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Dosen Pascasarjana Ilmu Politik FISIP UMJ, Praktisi Pendidikan, Guru Utama di Rumah Perkaderan & Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang, Pengasuh Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Rembang.

Negara Indonesia bukan termasuk dalam kategori miskin. Secara statistik, pendapatan penduduk Indonesia masuk dalam kategori menengah atas.

Namun, secara kualitas hidup rakyat, masih lebih banyak rakyat Indonesia yang hidup seperti di negara-negara miskin karena ketimpangan yang terbilang sangat lebar. Padahal, pada keduanya terdapat hukum kausalitas dua arah.

Kualitas hidup yang buruk berimplikasi kepada tingkat kecerdasan bawaan anak. Kualitas hidup yang buruk yang di antaranya berupa gizi buruk akibat kemiskinan menyebabkan IQ turun, sedangkan IQ yang rendah menyebabkan kian miskin.

Di Indonesia, level rendah IQ ini di antaranya nampak dalam level PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia yang menempati posisi ke-68 dari 81 negara yang disurvey. Dibandingkan dengan angka rata-rata yang dikumpulkan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), Indonesia tertinggal cukup jauh. Di bidang matematika, skor Indonesia hanya 266, sedangkan rata-ratanya 472 (selisih -106).

Di bidang literasi, skor Indonesia hanya 359, sedangkan rata-ratanya 476 (selisih -117). Dan di bidang sains, skor Indonesia hanya 383, sedangkan rata-ratanya 485 (selisih -102). Ini bukan takdir, melainkan efek dari kebijakan politik yang tidak menyentuh persoalan paling dasar yang menjadi hajat hidup warga negara.

Kemiskinan dan kebodohan telah menjadi lingkaran setan, yang jika tidak segera diputus, maka akan menyebabkan Indonesia tertinggal makin jauh dari negara-negara lain, terutama yang sekarang telah mencapai status sebagai negara maju.

Kebijakan yang kemudian diimplementasi dalam program MBG (Makan Bergizi Gratis) sesungguhnya berfungsi untuk memutus lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan ini. Pilihan untuk menjalankan program MBG sangat tepat, karena ingin menghilangkan sumber masalahnya.

Sebelumnya, yang dilakukan adalah berfokus kepada penyelenggaraan pendidikan. Namun, sudah berulang kali terjadi pergantian menteri pendidikan, sampai tak kurang 30 menteri bidang pendidikan, yang seringkali diikuti dengan pergantian kurikulum, sampai muncul ungkapan “ganti menteri, ganti kurikulum”, tapi tidak ada perubahan keadaan sama sekali. Itu merupakan bukti bahwa pangkal persoalannya bukan kurikulum.

Apakah bukan karena guru dan sarana-prasarana sekolah? Tentu saja keduanya sangat penting. Namun, kualitas murid bukan saja penting, tetapi penentu utama.

Bagaimana cara membuktikannya? Indonesia memiliki kasus yang bisa digunakan untuk membuktikan ini dengan sangat mudah dan jelas, yaitu sekolah unggulan yang “tiba-tiba” nyaris hilang karena kebijakan zonasi.

Ternyata, setelah kebijakan zonasi, sekolah-sekolah unggulan, dengan guru, kurikulum, dan sarana-prasarana yang sama, tidak mampu menunjukkan prestasi sebagaimana sebelumnya. Indikatornya paling sederhana adalah prosentase lulusan yang berhasil masuk perguruan tinggi excellent turun drastis, bahkan sampai 50%. Penyebabnya adalah kualitas input murid. Karena itu, yang harus diperbaiki adalah kualitas murid. Memperbaikinya tidak bisa melalui pendidikan, dan tidak bisa instan. Butuh waktu untuk melahirkan dua generasi atau setara dengan minimal 40 tahun. Bagaimana penjelasannya?

Proses kejadian manusia dimulai dengan bertemunya sel telur dengan sperma. Karena siklus sperma hanya 74 hari, maka untuk mempersiapkan sperma yang berkualitas, bisa dilakukan dengan cara instan. Yang tidak bisa dilakukan secara instan adalah kualitas sel telur.

Sebab, sel telur sudah terdapat pada indung telur ketika janin baru berusia enam sampai dua puluh pekan di dalam kandungan ibunya. Pada usia dua puluh pekan, indung telur sudah dipenuhi oleh calon sel telur. Dan kualitasnya juga dipengaruhi oleh kualitas asupan nutrisi.

Karena itu, kualitas nutrisi ini harus mendapatkan perhatian serius. Dalam konteks ini, program MBG bukan hal remeh, sebaliknya adalah langkah awal untuk menghasilkan generasi berkualitas di masa depan.

Untuk menunggu kelahirannya bahkan bisa jadi harus menanggung kesabaran selama dua generasi. Ini adalah program yang memang belum dipahami oleh banyak orang, karena berbasis data saintifik yang sangat mendalam dan multidisipliner. Kompleksitasnya hanya bisa dicerna oleh mereka yang memiliki kualitas akan untuk paham sunnatullah.

Sementara lebih banyak yang menganggap bahwa semua itu adalah bagian dari taqdir, karena malas atau memang tidak mampu berpikir. Karena itu, perlu orang kuat yang memiliki pengetahuan luas, agar mampu membangun kebijakan politik yang tidak dipahami oleh banyak orang yang biasanya berkonsekuensi kepada penolakan.

Yang harus benar-benar diperhatikan oleh Presiden Prabowo Soebinato sebagai penggagas kebijakan yang sangat visioner ini adalah memastikan bahwa setiap porsi MBG benar-benar memenuhi kualifikasi sebagai makanan bergizi seimbang.

Sebab, saat ini masih banyak kritik terhadap pelaksanaan MBG, di antaranya kualitasnya yang jauh dari standar. Harus ada tindakan tegas dari BGN terhadap SPPG yang tidak bekerja dengan benar. Sebab, kinerja untuk menyediakan MBG yang sesuai dengan ketentuan sangat berpengaruh pada kualitas generasi masa depan. Dan para pendukung Presiden Prabowo Soebianto tidak perlu antikritik, karena suara-suara kritis itu bisa membuat petugas-petugas di dapur MBG bekerja dengan lebih cermat dan hati-hati. Apalagi jika mengingat bahwa program MBG ini menempati peringkat pertama sebagai program yang paling identik dengan Presiden Prabowo. Konsekuensi bisa sangat ekstrem: jika program ini dianggap gagal, maka Presiden Prabowo akan berhenti dalam hanya satu periode saja.

Sebaliknya, jika program ini dianggap berhasil, ia akan mendapatkan kesempatan besar melanjutkan kepemimpinan pada periode berikutnya dan akan dicatat sebagai presiden yang benar-benar mampu melihat pokok permasalahan untuk memutus lingkaran setan kemiskinan dan kebodohan. Itu adalah landasan pacu untuk Indonesia mengalami akselerasi dan bahkan kemudian bisa “terbang”.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *