*Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Dosen Ilmu Politik FISIP UMJ, Praktisi Pendidikan, Guru Utama di Rumah Perkaderan & Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang, Pengasuh Pesantren & Sekolah Alam Planet NUFO Rembang.
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri atas aspek fisik dan non-fisik. Namun, bukan berarti bahwa yang non-fisik terpisah sama sekali dari aspek fisiknya. Bahkan aspek non-fisik sangat dipengaruhi oleh—bahkan berdasarkan hasil riset terbaru, berasal dari—aspek fisiknya.
Ungkapan kuno “al-aql al-sâlim fi al-jism al-sâlim”, akal yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat tetap relevan. Hanya saja, tubuh sehat yang dimaksud di sini, harus dipahami secara komprehensif, bukan sekedar tidak sedang menderita penyakit atau sakit, tetapi tubuh yang sejak awal penciptaannya tumbuh dengan optimal. Perkembangan yang optimal itu pulalah yang akan menjadi salah satu penopang optimal akal yang sehat.
Dan untuk mengalami tumbuh kembang secara optimal, kebutuhan paling dasar yang harus dipenuhi adalah asupan makanan yang bergizi seimbang.
Bahkan, seorang yang diangkat menjadi utusan (rasul) Allah, yang berarti telah mencapai derajat spiritual tertinggi, tetap digambarkan oleh al-Qur’an harus memenuhi kebutuhan fisiknya dengan mencukupi asupan makanan. Tanpa makanan itu, tentu saja seorang nabi pun tidak akan mampu bertahan hidup.
وَمَا جَعَلْنٰهُمْ جَسَدًا لَّا يَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوْا خٰلِدِيْنَ ٨
Kami tidak menjadikan mereka (para utusan) sebagai jasad yang tidak membutuhkan makanan. Mereka tidak (pula) hidup kekal. (al-Anbiya’: 8)
Dan agar biaya untuk itu cukup, bahkan seorang rasul pun harus bekerja di pasar. Dengan kata lain, al-Qur’an tidak menampilkan keajaiban pada seorang rasul pun dengan hidup tanpa makan dan minum, atau mendapatkan makanan dan minuman itu tanpa bekerja, kecuali dalam dua kasus tertentu dengan konteks mu’jizat yang karena itu tidak berlaku terus menerus.
وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةًۗ اَتَصْبِرُوْنَۚ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيْرًاࣖ ٢٠
Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Nabi Muhammad), melainkan mereka pasti menyantap makanan dan berjalan di pasar. Kami menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Tuhanmu Maha Melihat. (al-Furqan: 20)
Ini selaras dengan perkataan Nabi Muhammad sendiri bahwa makanan yang terbaik adalah makanan yang dihasilkan dengan kerja tangan sendiri. Nabi Muhammad menyebut Nabi Daud sebagai contoh, karena walaupun Nabi Daud adalah seorang raja yang sangat berkuasa, ia tetap bekerja dengan tangannya, alias tidak melakukan penyelewengan kekuasaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan korupsi.
عَنِ الْمِقْدَامِ رَضِي اللَّهم عَنْه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ)) رواه البخاري.
Dari al-Miqdam ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri), dan sungguh Nabi Dawud as. makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)” (HR. al-Bukhari)
Ayat dan hadits di atas bukan saja menjelaskan bahwa indikator spiritualitas bukan berarti fisik sudah tidak memerlukan materi dan meninggalkan aktivitas-aktivitas untuk memenuhinya dengan bekerja. Pemahaman ini ditegaskan oleh al-Qur’an untuk menangkal pemahaman yang telah ada sebelumnya dan mempengaruhi pandangan sebagian sahabat Nabi Muhammad.
Mereka berasumsi bahwa untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, mesti selalu meninggalkan hal-hal duniawi. Maka mereka bertekad untuk selalu berpuasa, tidak akan tidur, dan tidak berhubungan seksual. Karena asumsi keliru mereka itu, maka turun ayat yang melarang tindakan-tindakan yang mereka lakukan itu.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ ٨٧
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan sesuatu yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-Maidah: 87)
Di dalam beberapa ayat yang lain, secara langsung dan tegas, al-Qur’an memerintahkan untuk makan dan juga minum dengan makanan dan minuman yang tidak hanya halal, tetapi juga baik (thayyib). Dalam hal ini, al-Qur’an kembali menunjukkan sisi perspektif futuristik-saintifiknya. Sebab, al-Qur’an sudah memberikan panduan tentang makanan dengan menggunakan kata thayyib. Saat itu, ilmu gizi belum dikuasai secara canggih sebagaimana di era modern. Karena itu, al-Qur’an cukup menggunakan kata yang bisa menggugah rasa ingin tahu tentang rahasia yang terkandung di dalamnya.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ١٦٨
Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. (al-Baqarah: 168)
Secara tersirat, makanan yang baik itu juga berulang-ulang disebutkan oleh al-Qur’an dalam berbagai model ilustrasi yang menarik. Bahkan di antaranya dalam kisah sekelompok pemuda yang tertidur di gua selama 309 tahun, yang ketika bangun kemudian membutuhkan makanan. Yang mereka butuhkan adalah juga makanan yang terbaik.
وَكَذٰلِكَ بَعَثْنٰهُمْ لِيَتَسَاۤءَلُوْا بَيْنَهُمْۗ قَالَ قَاۤىِٕلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۗ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍۗ قَالُوْا رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْۗ فَابْعَثُوْٓا اَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هٰذِهٖٓ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَلْيَنْظُرْ اَيُّهَآ اَزْكٰى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ اَحَدًا ١٩
Demikianlah, Kami membangunkan mereka agar saling bertanya di antara mereka (sendiri). Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Mereka (yang lain lagi) berkata, “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka, utuslah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini. Hendaklah dia melihat manakah makanan yang lebih baik, lalu membawa sebagian makanan itu untukmu. Hendaklah pula dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali memberitahukan keadaanmu kepada siapa pun. (al-Kahfi: 19)
Dalam ayat yang lain, al-Qur’an menyebut secara langsung nama-nama makanan dan minuman yang baik itu, di antaranya: daging, ikan, susu, dan madu yang dalam disiplin ilmu gizi ternyata adalah sumber protein tinggi.
وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ١٤
Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur. (al-Nahl: 14)
وَاِنَّ لَكُمْ فِى الْاَنْعَامِ لَعِبْرَةًۚ نُسْقِيْكُمْ مِّمَّا فِيْ بُطُوْنِهٖ مِنْۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَّدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَاۤىِٕغًا لِّلشّٰرِبِيْنَ ٦٦
Sesungguhnya pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberi kamu minum dari sebagian apa yang ada dalam perutnya, dari antara kotoran dan darah (berupa) susu murni yang mudah ditelan oleh orang-orang yang meminumnya. (al-Nahl: 66)
ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗۖ فِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٦٩
Kemudian, makanlah (wahai lebah) dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perutnya itu keluar minuman (madu) yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (al-Nahl: 99)
وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُوْنَۙ ٢٠ وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَۗ ٢١
(Mereka menyuguhkan pula) buah-buahan yang mereka pilih; dan daging burung yang mereka sukai. (al-Waqi’ah: 20-21)
Jika perspektif Islam ini dipahami dengan benar oleh umat Islam dan dijalankan dengan baik, maka umat Islam akan melahirkan generasi terbaik yang memiliki kesiapan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dengan umat-umat lain. Wallahu a’lam bi al-shawab.







