*Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi
Kerap kali kita dengar dari pemuka-pemuka agama kita bahwa rezeki itu tertakar, tidak bakalan tertukar. Lebih jelasnya lagi, setiap orang memiliki jatah rezekinya masing-masing.
Pengertian macam itu kadang hanya menyelinap dalam akal pikiran, tapi entah kenapa dalam laku hidup keseharian, kita seolah belum betul-betul memahaminya. Contoh sederhanya yaitu manakala ada tetangga yang mendapatkan “durian jatuh” alias rezeki yang nomplok, kita hati dan pikiran kita seolah “mendidih”, tidak terima, dan muncullah rasa iri dan dengki itu secara perlahan. Ibarat kata, ada tetangga yang membeli kulkas baru, kita yang “kedinginan”.
Ada tetangga mendatangkan kompor baru, kita pula yang “kepanasan”. Seakan tidak terima dengan nikmat yang Tuhan anugerahkan untuk orang lain.
Lagi pula, terkadang, pemahaman kita terkait rezeki itu sebatas pada apa yang bisa dikonsumsi, apa yang bisa dipakai, apa yang bisa ditunggangi, apa yang bisa ditinggali, dan segala hal yang bisa dinikmati dengan pancaindera kita.
Padahal, rezeki tersebut, sebenarnya tidak terbatas pada makanan lezat, pakaian branded, tas mahal, mobil mewah, dan semacamnya. Rezeki memiliki dimensi yang luas, bukan hanya sekadar makanan, minuman, pakaian, rumah, emas, tanah, dan sejenisnya yang sifatnya material. Rezeki juga bsia berupa kesehatan, lingkungan yang agamis, anak yang sholeh, istri yang sholehah, waktu luang, dan sebagainya yang selain benda-benda yang nampak.
Rezeki itu, ada yang terlihat dan tidak terlihat. Percayalah, nikmat Allah yang diberikan kepada kita itu sangat banyak, tidak terhitung, dan bahkan kita sendiri tidak akan sanggup untuk menghitungnya.
Kembali lagi terkait rezeki beruapa harta benda yang diberikan Allah kepada orang lain, harusnya kita memandang bahwa di balik itu, ada kebijaksanaan Allah, ada kasih sayang Allah, ada keadilan Allah yang mana kita sendiri kadang sukar untuk mencernanya. Kita lupa bahwa semua kejadian di alam semesta ini ada yang mengatur dan mengendalikan.
Kita barangkali lupa lagi bahwa semua gerak-gerik kita dan bahkan hidup kita ada dalam genggamannya. Lantas, kenapa pikiran dan hati kita begitu berburuk sangka pada orang lain yang sedang mendapatkan nikmat. Bukankah Allah yang memberikan nikmat? Beranikah kita menuntut kepada-Nya? Pantaskah kita menuntut keadilannya? Bukankah pengetahuan dan ilmu kita terbatas dan tidak akan mampu memahami rahasia-rahasia di balik pembagian rezeki oleh Sang Pencipta?
Dengan menerima penuh lapang dada semua ketentuan Allah, hati kita akan terhindar dari ketidaktenangan, kegelisahan, apalagi sampai frustasi. Sebab, sedari awal sudah yakin betul bahwa semua yang terjadi dalam hidup kita, adalah atas izin dan kehendak-Nya. Termasuk dalam pembagian rezeki.
Lagi pula, apa gunanya menyimpan rasa iri dan apalagi dengki kepada orang lain. Sifat semacam itu lambat laun akan menjadi penyakit yang menggerogoti hati, mental, dan kepribadian kita. Kita akan selalu gusar ketika ada orang lain lebih kaya, lebih sukses, secara dunawi. Padahal, dalam pandangan kita, orang tersebut usahanya biasa-biasa saja. Atau bahkan intensitas kerja kerasnya, barangkali ada di bawah kita.
Dengan begitu, kita secara tidak langsung beranggapan bahwa kerja keras itu yang menentukan takaran rezeki. Semakin getol bekerja siang malam, lembur tiada henti, berarti rezekinya harus meningkat? Sekali lagi, pandangan semacam itu, tidak tepat. Sebab, pembagian rezeki itu, murni ada dalam kekuasaan Allah.
Kita, selaku manusia, memang diwajibkan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga kita. Diwajibkan bekerja sebagai sebuah ikhtiar agar tidak bergantung kepada orang lain dan apalagi menjadi beban bagi orang lain. Begitulah Islam mengajarkan. Tetapi, persoalan hasil, tentu itu bukan ranah kita. Ada orang yang kerjanya biasa-biasa saja, tapi hasilnya melimpah, luar biasa, dan bahkan tidak habis dimakan tujuh turunan aset-aset yang dimiliki. Ada orang yang banting tulang sampai tidurnya hanya beberapa jam dalam sehari, tapi hasilnya jauh dari yang diperkirakan, alias hanya cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan primer. Artinya adalah masalah rezeki itu sudah diatur dengan sedemikian rupa oleh Tuhan. Kita hanya berkewajiban untuk menjemputnya lewar bekerja. Masalah berapa yang diberikan dari hasil kerja kita, itu adalah sepenuhnya bergantung kehendak dan ketentuan Allah.
Dengan memahami sepenuhnya bahwa rezeki itu tertakar, maka jiwa kita tidak mudah tercemari oleh rasa iri dan dengki. Sebab, hati sudah legowo, pikiran sudah memahami, bahwa di balik itu ada “Sutradara Agung” yang mendesain skenaria perjalanan masing-masing manusia, termasuk urusan rezekinya. Lagi pula, untuk urusan dunia, alangkah lebih bijaksananya kita melihat kepada mereka yang berada di bawah kita. Dan begitulah seharusnya. Melihat dengan penuh kesadaran bahwa masing masing orang-orang yang tidak seberuntung kita. Hal itu akan membuat kita semakin bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah. Bukan sebaliknya, justru melihat mereka yang di atas, yang lebih kaya, lebih banyak mobil dan sawahnya, dan segala perangkat duniawai lain yang dimiliki. Kalau demikian yang terjadi, hati akan selalu gersang, jauh dari yang namanya kedamaian. Sebab, tidak puas dengan pemberian dari Allah kepada kita.
Memang, perlu ditegaskan kembali bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Mempunyai permasalahannya masing-masing. Selama nyawa di kandung badan, masalah demi masalah pasti akan berdatangan. Sebab, masalah itu sejatinya adalah ujian bagi kita selama hidup di dunia. Apakah bisa mengatasi atau tidak? Apakah ktia mampu bersabar atau tidak? Apakah kita mau naik derajat atau tidak? Itu semua adalah pilihan. Hidup adalah pilihan. Dan setiap pilihan memerlukan kebijaksanaan. Setiap keputusan perlu adanya landasan ilmu. Sebab, ilmu sendiri adalah pelita yang menerangi jejak langkah kita di dunia ini. Ilmu sebagai panduan agar kita tidak semberono menjalani hidup. Termasuk ilmu tentang sabar dan syukur. Bersabar ketika diuji dan bersyukur saat mendapatkan nikmat.
Seoptimal mungkin, dengan kesungguhan niat, sudah semestinya kita menghindarkan diri sejauh-jauhnya agar tidak sibuk memotret, menganalisis, dan mengomentari nikmat orang lain. Daripada begitu, lebih mending kita menyibukkan diri untuk intospeksi diri, evaluasi diri, atau bahasa lainnya muhasabah.
Lagian, ketenangan hati tidak bergantung pada seberapa banyak materi yang kita kantongi. Ketenangan jiwa samasekali tidak ada kaitannya dengan seberapa banyak kepemilikian harta benda kita. Sebab, nyatanya, banyak orang yang super kaya justru bingung dalam limpahan kekayaannya. Jiwanya gersang. Hari-harinya hanya diliputi dengan kekhawatiran demi kekhwatiran.
Alias tidak tenang. Mungkin, orang kaya macam itu, salah kaprah dalam memaknai esensi hidup di dunia yang seharusnya difokuskan mengbadi total kepada all-Khalik. Tapi, nyatanya, orang kaya macam itu, beranggapan hidup hanya sekali, dan harus dinikmati sedemikian rupa dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Masalah bekal pasca kematian, urusan nanti. Mungkin semacam itu pandangannya.
Agaknya, saya harus segera memungkasi catatan ini agar tidak melebar ke mana-mana. Pada intinya, catatan ini menjadi peningat buat diri saya sendiri dan pembaca sekalian, agar kita bisa sawang sinawang dalam hidup.
Tidak membanding-bandingkan keadaan diri ini dengan orang lain. Apalagi, hanya masalah urusan dunia dengan segela pernak-perniknya. Sebab, dunia ini panggung sandiwara. Dunia ini bisa menipu, menjebak, dan menjerumuskan. Maka dari itu, buanglah jauh-jauh rasa iri dan dengkit terhadap nikmat orang lain.
Bersihkan hati dari beragam penyakit dan virus yang bisa menggerogoti kebeningan hati kita. Jangan biarkan hatia kita tercemar dan berpenyakit. Hati tenang dengan berzikir kepada Allah. Dan hidup kita akan selalu tentran ketika kita meyakini semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak Allah. Lagi-lagi, perlu saya garisbawahi lagi bahwa kunci hidup tenang itu adalah dengan bersyukur dan bersabar.
Sebab, hidup di alam dunia, sejatinya adalah penuh dengan ujian. Termasuk ketika ekonomi kita dengan tidak baik-baik saja. Termasuk ketika kita dihadapkan pada lingkungan yang mendewa-dewakan hedonisme. Di situlah tantangannya.
*) Esais asal Madura






