*Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi
Merantau, setidaknya bagi saya pribadi, adalah ikhtiar untuk menemukan diri. Selepas mengenyam pendidikan menengah atas di Pamekasan, Madura, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi Surabaya. Kala itu, saya berpandangan bahwa dengan kuliah di Kota Pahlawan, saya bisa mendapatkan akses pendidikan tinggi yang berkualitas. Tentu saja untuk menempa diri menjadi pemuda yang lebih mandiri dari segala sisinya.
Konsekuensi atas pilihan saya itu adalah harus rela hati berjauh-jauhan dengan orang tua, saudara, sanak famili, dan seluruh teman-teman di kampung halaman. Saya pun menyadari betul bahwa keputusan tersebut ternyata membawa pengaruh yang cukup besar dalam proses pendewasaan diri dan terutama dalam pematangan karakter saya. Surabaya, menjadi salah satu perantauan pertama saya, yang betul-betul mengubah cara pandang saya terhadap dunia ini. Bahwa ternyata banyak hal yang belum saya pahami.
Perihal merantau, sebenarnya bukan suatu hal yang asing lagi terutama bagi suku Madura. Adakah rahasia umum bahwa sebagian orang Madura adalah perantau. Hampir di seluruh titik penjuru negeri dan bahkan di luar negeri seperti halnya Arab Saudi, Malaysia, Australia, Uni Emirat Arab, dan negara-negara lainnya, bisa dipastikan ada orang Madura di dalamnya. Entah itu sebagia pelajar, pegawai perusahaan swasta, pedagang, dan semacamnya. Umumnya, orang Madura di tanah rantau mengais rezeki sebagai pedagang. Tengok saja toko kelontong/warung Madura, bertebaran di mana-mana, bersaingan dengan ritel-ritel modern. Spirit berwirausaha manusia-manusia Madura memang bukan kaleng-kaleng.
Bahkan karakter pemberani dan pekerja keras itu tertuang dalam sebuah peribahasa Madura yang terkenal yakni, “Abhantal omba’ asapok angin” (berbantal ombak, berselimut angin). Sebuah peribahasa yang mengandung artian bahwa masyarakat Madura itu sebagai pribadi-pribadi yang yang pantang menyerah dan penuh keuletan dalam bekerja. Menggambarkan pula keteguhan hati dan keberanian orang Madura mengentaskan persoalan dan tantangan yang dialaminya, khususnya dalam hal ini di tanah perantauan. Boleh jadi tidak ada istilah santai dalam kamus orang Madura saking semangatnya mereka dalam bekerja. Buktinya, Warung Madura rata-rata buka 24 jam. Bukankah itu menunjukkan etos kerja orang-orang Madura di perantauan.
Memang betul bahwa merantau bagi sebagian orang adalah menjadi satu-satunya pilihan ketika di kampung halaman tidak begitu menjanjikan kejelasan penghidupan dan apalagi masa depan. Jelasnya lagi untuk menari penghidupan yang lebih baik lagi. Belum lagi, saat ini, seperti yang kita tahu, lapangan pekerjaan formal begitu terbatas. Jumlah pelamarnya tidak sebanding dengan ketersediaannya. Problematika ekonomi semacam itu menjadi stimulator bagi sebagian orang untuk mengadu nasib ke luar kota-kota besar, baik di dalam maupun di luar negeri. Ada pula yang terdorong untuk memperluas jaringan bisnisnya, meningkatkan kualitas pendidikannya, atau sekadar menambah pengalaman baru.
Jika ditelisik lebih lanjut, istilah merantau berasal dari bahasa dan budaya Minangkabau yaitu “rantau”. Semula, kata rantau mengandung makna: wilayah-wilayah yang berada di luar wilayah inti Minangkabau atau tempat awal mula peradaban Minangkabau. Merantau dalam hal ini, mengandung artian perginya atau perpindahan seseorang untuk meninggalkan tempat dimana dia lahir, tumbu, dan besar menuju wilayah lain dalam rangka melakoni kehidupan baru maupun untuk sebatas mencari pengalaman hidup atau pekerjaan. Definisi semacam itu, sama persis dengan apa yang kita pahami bersama bahwa merantau adalah perginya seseorang dari kampung halamannya untuk tujuan tertentu.
Hidup di negeri perantauan sendiri, tentunya tidak semudah atau semulus seperti di film-film misalnya. Perantau dihadapkan pada lingkungan dan budaya baru yang mana mereka mau tidak mau, harus beradaptasi di dalamnya. Melebur dan membaur dalam lingkaran sosial yang barangkali bertolak belkang dengan kebiasaan-kebiasaannya di kampung halaman. Dari situlah, para perantau akan belajar lebih banyak hal terkait keberagaman. Dari situlah para perantau akan lebih mengerti dan memahami arti toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sehingga, secara tidak langsung, sebenarnya para perantau akan belajar bagaimana cara menghargai dan menghormati orang-orang yang berbeda dengan mereka baik dari segi suku, agama, budaya, karakter, dan lain sebagianya. Dari situlah, perantau akan bersentuhan langsung dengan masyarakat yang sangat plural.
Selain itu, kita selaku perantau akan dipaksa untuk keluar dari zona nyaman ketika berada di tanah rantauan. Sebab, di tanah rantau, kita dipaksa untuk bukan sekadar bertahan hidup, tapi bagaimana mampu bersosialisasi dengan orang-orang yang heterogen yang mungkin tidak kita jumpai di kampung halaman kita. Pun demikian dengan ketahanan mental kita, saya kira akan diuji dengan sendirinya. Bagaimana menghadapi situasi yang kadang penuh dengan ketidakpastian. Di tanah rantau, kita dituntut untuk adaptif, kreatif, dan inovatif untuk bukan sekadar bertahan hidup. Lebih dari itu, untuk meraih apa yang dicita-citakan dulu sejak di kampung halaman. Apalagi, bagi perantau yang sekaligus menjadi tulang punggung keluarga, pastinya harapan besar disematkan padanya untuk menjadi sukses di perantauan.
Barangkali, kegetiran hidup, kerap kali dialami oleh perantau. Mati-matian berjuang untuk tetap membuat asap dapur keluarganya di kampung halaman. Nasib mujur tak segampang membalikkan telapak tangan untuk memperolehnya. Ranah kita selaku manusia adalah berusaha dan berdoa. Selebihnya, bukankah urusan Sang Pencipta? Tapi, bagaimanpun juga, perantau akan menemukan banyak perubahan, yang disadari atau tidak, akan menentukan perjalanan dan langkah-langkahnya ke depan.
Bekal ilmu, wawasan, dan pengetahuan, yang dipungut di berbagai titik, seperti halnya pasar, terminal, stasiun, warung kopi, dan lain-lainnya, mengukuhkan keberadaan dirinya sebagai pembelajar sepanjang hayat atau mahasiswa di “Universitas Kehidupan”. Semua hal baik itu, mungkin sama sekali sukar didapatkan, ketika berdiam diri di kampung halaman. Termasuk mengenali dan memahami rupa-rupa manusia dengan ragam wataknya. Termasuk mengetahui keanekaraaman kultur dan adat istiadat di tanah rantau.
Mengakhiri catatan ini, perkenankan saya selaku penulis mengutip syair yang penuh makna dari Imam Syafi`i yang termaktub dalam karyanya yang berjudul Diwan al-Imam asy-Syafi’I, seperti yang juga dirilis di portal kisahmuslim.com (3/2014):
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika dalam hutan
Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.
Sungguh sebuah syair yang sarat nilai dan makna. Bahwa merantau mengandung banyak faedah bagi yang berani untuk melakukannya. Bahwa merantau adalah sebenarnya proses menemukan dan menempa diri menjadi lebih arif dan bijaksana. Bukan sekadar mencari penghidupan yang lebih baik. Bukan sebatas untuk menumpuk rupa-rupa ilmu dan pengetahuan. Bukan hanya untuk menambah lingkaran sosial pertemanan. Bukan hanya untuk menaikkan derajat status sosial dan ekonomi, lebih dari itu, merantau, sekali lagi, adalah jalan untuk menganal hakikat diri dan hidup ini.
Bahkan untuk lebih menjadikan hidup kita lebih bermakna. Menjadikan keberadaan kita di alam dunia ini menjadi jauh lebih berarti. Merantau, dari lain sisi, adalah sebuah proses memandang apa yang sebelumnya luput dari pandangan. Mendengar apa yang sebelumnya tak terdengar. Mengendus apa yang sebelumnya tidak terendus. Termasuk perihal kesejatian diri. Termasuk menemukan diri yang sebenarnya. Dan bekal perantau itu adalah iman, ilmu, dan takwa. Dan di tanah rantau itu, ketiga hal itu bisa dilatih, diasah, dan ditingkatkan sedemikian rupa. Selagi muda, selagi sehat, selagi sempat, alangkah indahnya berproses di tanah rantau. Menabung cerita dan pengalaman. Dan pastinya untuk memetik kebijaksanaan hidup yang kelak bisa jadi bahan pembelajaran untuk anak cucu dan masyarakat.






