Kurangnya Tata Krama Anak kepada Orang Tua Akibat Penggunaan Handphone yang Berlebihan

Oleh: Abdur Rosyid, Mahasiswa UIN Salatiga

“Dek, tolong ke sini sebentar.” Kalimat sederhana yang sering diucapkan orang tua kini tidak selalu mendapat respons cepat dari anak. Bukan karena tidak mendengar, melainkan karena perhatian mereka sedang tertuju pada layar handphone. Fenomena ini semakin sering terlihat di berbagai keluarga, ketika kebersamaan tergantikan oleh kesibukan masing-masing di dunia digital.

Perkembangan teknologi memang membawa banyak manfaat. Handphone memudahkan komunikasi, akses informasi, dan sarana belajar. Namun, penggunaan yang berlebihan juga menimbulkan dampak negatif, terutama bagi anak dan remaja. Banyak anak menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game, menonton video, atau berselancar di media sosial hingga mengurangi interaksi dengan orang tua di rumah. Akibatnya, hubungan emosional dalam keluarga menjadi kurang erat.

Pada dasarnya, seorang anak diajarkan untuk menghormati dan berbakti kepada orang tua. Tata krama seperti menjawab panggilan dengan sopan, mendengarkan nasihat, dan membantu pekerjaan rumah merupakan bagian dari adab yang harus dijaga. Namun, realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa sebagian anak lebih memprioritaskan handphone dibandingkan komunikasi dengan orang tua. Tidak sedikit yang menunda menjawab panggilan, bahkan mengabaikan nasihat karena terlalu fokus pada layar gawai.

Dari sudut pandang komunikasi keluarga, handphone dapat menjadi penghambat apabila digunakan tanpa batasan. Komunikasi yang efektif membutuhkan perhatian, empati, dan interaksi langsung. Ketika anak lebih banyak berinteraksi dengan dunia digital daripada dengan keluarganya, kualitas komunikasi dalam keluarga pun menurun. Kondisi ini dapat memengaruhi pembentukan karakter, sikap hormat, dan nilai-nilai moral yang seharusnya ditanamkan sejak dini.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan kerja sama antara anak dan orang tua. Orang tua perlu memberikan pengawasan dan batasan waktu penggunaan handphone secara bijak. Selain itu, keluarga dapat membuat aturan, seperti tidak menggunakan handphone saat makan bersama atau ketika sedang berkumpul. Anak juga perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah alat, bukan sesuatu yang harus menguasai seluruh waktu dan perhatiannya.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai adab dalam keluarga. Handphone dapat memberikan manfaat besar jika digunakan secara tepat, tetapi dapat menjadi penyebab lunturnya tata krama apabila digunakan secara berlebihan. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penghormatan kepada orang tua harus terus dijaga, karena keluarga yang harmonis dibangun melalui komunikasi yang baik dan sikap saling menghargai.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *