Oleh: Zahrotul Jannah, mahasiswi Prodi Ekonomi Syariah
UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Pernah kepikiran nggak, video receh berdurasi 10 detik bisa bikin seseorang jadi miliarder muda? Itulah kekuatan ekonomi kreatif di era digital. Menurut data Kemenparekraf 2024, sektor ini menyumbang lebih dari Rp1.300 triliun terhadap PDB nasional, dan konten digital jadi salah satu penyumbang terbesar. Fenomena ini menunjukkan kalau Gen Z bukan cuma pengguna media sosial, tapi juga penggerak ekonomi baru berbasis kreativitas dan ide segar.
Generasi Z tumbuh di dunia yang serba digital. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, hampir semua aktivitas mereka bersinggungan dengan internet — mulai dari cari hiburan, belajar, sampai cari uang. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube bukan sekadar tempat nongkrong virtual, tapi juga ladang rezeki bagi mereka yang kreatif dan konsisten. Contohnya banyak banget. Ada yang mulai dari bikin konten edukasi ringan, video lucu, resep makanan, sampai promosi produk lokal. Beberapa bahkan berhasil membangun brand sendiri dari nol. Di balik itu semua, yang jadi modal utama bukan uang besar, tapi ide, konsistensi, dan kemampuan membaca tren. Inilah alasan kenapa Gen Z disebut sebagai generasi paling adaptif di dunia digital.
Namun, nggak semua jalan mulus. Tantangan paling sering muncul adalah soal keberlanjutan. Banyak kreator yang viral sesaat, lalu hilang karena nggak punya strategi jangka panjang. Ada juga yang bingung cara mengelola penghasilan digital — mulai dari pajak, manajemen waktu, sampai keuangan. Di sisi lain, akses internet cepat dan alat produksi seperti kamera atau laptop masih belum merata, terutama di daerah. Padahal potensi di daerah luar Jawa juga luar biasa besar.
Misalnya, konten yang mengangkat budaya lokal, kuliner khas, atau kerajinan tangan sering banget viral karena unik dan autentik. Kalau Gen Z di daerah bisa memanfaatkan itu dengan baik, ekonomi lokal bisa ikut naik. Selain dapat penghasilan pribadi, mereka juga bantu UMKM buat lebih dikenal luas lewat promosi digital yang menarik.
Ekonomi kreatif berbasis konten ini juga punya efek berantai. Ketika satu kreator sukses, otomatis ada peluang kerja baru: editor video, manajer media sosial, fotografer, bahkan desainer grafis. Dunia konten bukan cuma soal tampil di depan kamera, tapi juga kerja tim di belakang layar. Kalau ekosistemnya sehat, semua lapisan bisa ikut tumbuh bareng.
Biar potensi besar ini nggak berhenti di tren semata, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Pelatihan digital kreatif berkelanjutan untuk anak muda dan UMKM, biar mereka ngerti cara bikin, mengelola, dan memonetisasi konten.
- Dukungan pembiayaan tanpa bunga untuk alat produksi kreator pemula, misalnya lewat kerja sama pemerintah dan lembaga keuangan syariah.
- Kolaborasi antara kreator muda dan UMKM lokal, agar produk daerah bisa naik kelas lewat promosi digital yang kekinian.
Dengan dukungan ini, kreativitas Gen Z bisa berubah jadi kekuatan ekonomi nyata.
Gen Z sudah membuktikan kalau kreativitas bisa jadi sumber penghasilan dan dampak sosial. Mereka nggak hanya menciptakan tren, tapi juga membuka peluang kerja baru. Tantangannya tinggal satu: gimana caranya agar semangat itu terus hidup dan didukung oleh ekosistem yang adil serta inklusif. Karena di tangan generasi ini, masa depan ekonomi Indonesia bisa lahir dari ide-ide sederhana yang luar biasa.






