Sarjana Pendobrak

Muhammad Aufal Fresky

*Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

Salah satu pertanyaan yang masih mengganjal alam pikiran saya yaitu: “Apakah Perguruan Tinggi hari ini sebatas bertujuan untuk mencetak sebanyak-banyaknya sarjana untuk memenuhi kebutuhan dunia industri?” Seakan menjadi perpanjangan tangan industri dengan memoles sedemikian rupa mahasiswa agar siap menjadi tenaga-tenaga terampil yang terserap di dunia kerja?

Jika demikian, apa bedanya dengan lembaga-lembaga kurus dan pelatihan yang memang fokusnya mencetak tenaga kerja yang cekatan dan profesional? Belum lagi, kenyataan yang sukar dibantah adalah kuantitas sarjana kita hari ini begitu membeludak. Belum lagi kualitas sarjana kita pun dipertanyakan. Masalah kian rumit dan kompleks manakla ribuan sarjana, dari tahun ke tahun, masih belum menemukan pekerjaan yang barangkali diidam-idamkan.

Terkat hal tersebut, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mengeluarkan hasil riset terbaru dengan judul ‘Membaca Sinyal Putus Asa di Pasar Kerja Indonesia’ dalam Labor Market Brief Volume 6, Nomor 11, edisi November 2025. Laporan yang disusun oleh Muhammad Hanri dan Nia Kurnia Sholilah tersebut secara terang-terangan menyebut dari keseluruhan total pengangguran di Indonesia, 45.000 di antaranya lulusan S1 dan lebih dari 6.000 lulusan pascasarjana (S2 dan S3).

Bacaan Lainnya

Laporan dari LPEM FEB UI tersebut seakan semakin menguatkan persepsi kita bahwa memang ada kesenjangan kebutuhan industri dan jumlah lulusan perguruan tinggi. Permintaan terhadap lapangan pekerjaan jauh lebih banyak dibandingkan penawaran pekerjaan oleh instansi pemerintah ataupun swasta. Alih-alih mempersiapkan kelompok usia produktif sebagai penopang pembangunan nasional, tapi realitasnya berbicara sebaliknya, sebagian kaum muda justru menanggur, bahkan hampir putus asa mencari pekerjaan.

Hal tersebut menjadi alarm keras bagi kita agar berhati-hati dan waspada betul agar bonus demografi tidak berubah menjadi petaka demografi. Pemuda, yang digadang-gadang sebagai problem solver dan pemimpin masa depan, bisa jadi akan berubah menjadi problem maker, menjadi beringas, barbar, dan tak terkendali sebab hampir frustasi mencari penghidupan.

Apabila ditelisik lebih lanjut, ada beberapa faktor yang mengemuka kenapa sebagian lulusan perguruan tinggi masih kesulitan mencari pekerjaan. Mulai dari ekspektasi gaji yang tidak sesuai harapan, kapasitas atau skill yang masih belum mumpuni untuk mengarungi dunia profesional, dan ketidaksesuaian antara bidang studi dan peluang kerja. Belum lagi ketidaktertarikan sebagian sarjana kita untuk kembali ke desa untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi yang ada di desa sebagai sarana penghidupan.

Sebagian memilih migrasi ke kota, seperti halnya ke Surabaya atau Jakarta, untuk mengadu nasib. Dan pada akhirnya, desa-desa kita akan kehilangan sumber daya manusia (SDM) yang potensial. Semua menumpuk di kota. Itu pun kalau lekas menemukan pekerjaan. Bagaimana jika tidak? Bukankah jadinya akan luntang-lantung tidak jelas?

Usut punya usut, ternyata pendidikan tinggi pun tidak menjamin bagi setiap mahasiswa untuk segera menemukan pekerjaan yang diimpikan. Dosen, Kaprodi, Dekan, dan Rektor di kampus tempat kita menimba ilmu juga tidak menjamin semua yang kuliah akan merdeka secara finansial pasca menyelesaikan studinya. Mereka hanya memfasilitasi. Di kampus, kita belajar dulu baru ujian. Sementara di universitas kehidupan, kita dihadapkan ragam ujian, baru bisa belajar.

Ternyata memang ijazah itu hanya sekadar bukti bahwa kita pernah mengenyam pendidikan di universitas tertentu. Persoalan kualitas pemilik ijazah, itu beda persoalan. Sebab, nilai-nilai yang tertera di lembar ijazah tersebut, sama sekali bukan jaminan bahwa pemiliknya betul-betul berkualitas. Nyatanya, banyak jebolan perguruan tinggi bonafid yang masih bingung dan gusar terkait masa depannya. Termasuk perihal bagaimana mendapatkan pekerjaan. Padahal akreditasi Prodinya A, padahal akreditasi kampusnya A, padahal tenaga pengajarnya bukan kaleng-kaleng, padahal fasilitas di kampusnya cukup mewah. Ini menjadi sebuah ironi tersendiri bagi dunia perguruan tinggi kita.

Inflasi sarjana sukar dibendung. Ribuan sarjana menganggur semakin membuat kita mengelus dada. Bahwa nama besar perguruan tinggi nyatanya tidak menjamin lulusannya akan mampu memenangkan pertarungan atau kompetisi pasca kehidupan kampus. Daya tahan dan mentalitas sarjana hari ini benar-benar diuji. Apakah mereka mampu beradaptasi dengan persaingan kerja yang kian kompetitif, dunia yang berubah cepat, sistem meritokrasi yang semakin diterapkan di berbagai perusahaan, sempitnya lapangan pekerjaan, dan beragam ujian lainnya.

Rasa-rasanya kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik kita harus selalu dikembangkan. Rasa-rasanya kecerdasan intelektual, emosional, dan spritual kita harus senantiasa diasah. Kiranya kita, selaku jebolan perguruan tinggi, harus bergegas cepat membaca realitas dan gerak zaman.

Sebab, bergantung pada pemerintah, sekali lagi, ujung-ujungnya kadang kala kekecewaan yang diperoleh. Menuntut 19 juta pekerjaan pun sepertinya adalah upaya yang sia-sia. Sebab, hemat pandangan saya, itu sebatas janji politisi saat ada maunya. Kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri. Terutama agar tidak memilih berhenti atau mundur ketika semua kondisi tidak berpihak. Sarjana, sekali lagi, memang harus memiliki kemampuan adaptasi tinggi, kreativitas yang di atas rata-ratas, dan daya inovasi yang brilian.

Saya pribadi optimistis, sarjana-sarjana kita hari ini, sebenarnya adalah orang-orang pintar, cerdas, dan tangguh. Hanya saja, barangkali kesempatan untuk berkarya di dunia kerja belum mereka dapatkan. Jika kesempatan tidak diperoleh, lantas bagaimana jika sarjana-sarjana tersebut menciptakannya sendiri? Artinya tanpa harus menunggu info loker di berbagai macam platform. Lewat progresivitas, ide-ide cemerlang, dan skill di berbagai bidang, saya yakin, sarjana hari ini, bukan hanya mampu mendapatkan pekerjaan layak, tapi bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang sebanyak-banyaknya,

Persolannya adalah apakah perguruan tinggi dan pemerintah bisa mendukung hadirnya lebih banyak lagi sarjana yang visioner, idealis, kompeten, berintegritas, nasionalis, dan penuh empati terhadap kondisi rakyat? Jujur saja, kita membutuhkan lebih banyak lagi sarjana-sarjana pendobrak. Sarjana-sarjana yang mampu mendobrak berbagai ketidakmungkinan, melewati batas-batas, dan menjadi pioner utama kemajuan di berbagai bidang. Terutama dalam rangka menyongsong masa depan Indonesia yang gilang-gemilang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *