Menggali Pesan al-Qur’an untuk Melahirkan Ilmu, Memandu Aksi, dan Mempertinggi Dedikasi

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Pengajar Ilmu Politik di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang, dan Pengasuh Pondok Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang.

(Disampaikan dalam Halal Bi Halal Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Bogor)

 

 

Bacaan Lainnya

Pendahluan

Al-Qur’an telah membuktikan kebenarannya dalam setidaknya tiga aspek, yaitu: keunggulan sastranya, prediksinya bukan hanya akurat tapi presisi, dan isyarat ilmiahnya makin banyak yang terbukti. Berdasarkan ketiga hal itu, tak mungkin jika al-Qur’an adalah karangan seorang pun manusia, bahkan walaupun berkolaborasi dengan yang lainnya. Dengan keluasan isinya yang membicarakan tidak hanya kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan setelahnya, hanya mungkin kalau al-Qur’an adalah firman pencipta alam semesta, Allah Swt.. Karena itu, kandungan al-Qur’an sejatinya adalah ilmu untuk memandu amal atau aksi yang sebagiannya harus dilakukan dengan sepenuh dedikasi.

Al-Qur’an—dengan ayat-ayat yang ada di dalamnya—dan alam semesta, keduanya merupakan tanda-tanda dari Allah. Jika dikaji secara kebahasaan, ayat dan alam yang menurunkan kata alamat, keduanya berarti tanda. Manusia dengan akal yang dianugerahkan kepadanya, harus menggunakan ayat dan alam, keduanya secara bersamaan sebagai panduan dan sarana untuk menjalani kehidupan yang baik di dunia dan mendapatkan kehidupan kekal yang baik di akhirat. Ayat al-Qur’an adalah dalil. Sedangkan yang terbentang dalam alam semesta adalah data. Dan al-Qur’an, dalam banyak sekali ayatnya menegaskan agar manusia beriman Islam dengan dalil dan data. Dalil tanpa data bisa menjerumuskan kepada takhayyul dan khurafat. Sebaliknya, data tanpa dalil bisa menjerumuskan kepada sekularisme yang bentuk paling ekstremnya adalah ateisme. Akal adalah sarana untuk memahami bahwa wahyu Allah benar-benar sesuai dengan kenyataan di alam semesta. Jika ada yang diklaim sebagai wahyu, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di alam semesta, maka yang diklaim sebagai wahyu itu tidak lain adalah kebohongan semata.

Tiga Bukti Kebenaran al-Qur’an
A. Ketinggian Sastranya Tak Tertandingi

Sejak awal diturunkan, al-Qur’an ditampilkan sebagai puisi super indah. Sesungguhnya keindahan al-Qur’an itu adalah bentuk mu’jizat untuk menundukkan atau mengalahkan keindahan karya sastra yang dihasilkan oleh para penyair atau pujangga yang saat itu dijadikan sebagai kebanggan suku. Sebagaimana, Nabi Musa yang diberi mu’jizat berupa tongkat ajaib yang bisa berubah menjadi ular dan membelah lautan karena menghadapi tukang sihir, juga Nabi Isa yang diberi mu’jizat bisa menghidupkan orang mati karena menghadapi para tabib berkemampuan tinggi, Nabi Muhammad diberi al-Qur’an dengan ketinggian sastra yang jauh melampaui yang telah ada untuk mengalahkan seluruh penyair yang pernah ada.

Keindahan sastra itu muncul dari mulut Nabi secara tiba-tiba, ketika beliau sedang ber-tahannuts di gua Hira’. Dalam keheningan malam penuh berkah dan kemuliaan, datanglah Malaikat Jibril yang memerintahkan Nabi Muhammad untuk melantunkan sesuatu. “Iqra’”, kata Malaikat Jibril. Nabi, karena merasa tidak memiliki rekam jejak sebagai penyair, dengan tegas menyatakan: “Aku benar-benar bukan seorang qâri’”. Kisah itu dinarasikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ: اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

“Awal turunnya kepada Rasulullah saw. dimulai dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian beliau dianugerahi rasa ingin untuk menyendiri. Nabi pun memilih gua hira’ dan ber-tahannuts, yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali. Kemudian beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang al-Haqq saat beliau di gua hira’. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Nabi saw. menjelaskan: “Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari no. 6982, Muslim no. 160).

Kejadian ini membuat Nabi Muhammad terkejut luar biasa. Sebab, secara tiba-tiba, karena bertemu dengan sosok yang belum pernah dikenalnya, Nabi Muhammad mampu melantunkan untaian kalimat indah dengan rima yang benar-benar sesuai dan lebih dari itu penuh makna karena sarat pengetahuan. Ayat pertama menggebrak paradigma umum masyarakat kala itu bahwa kemampuan ber-qira’ah (melantunkan puisi/syi’r) hanya mungkin kalau seseorang memiliki khadam jin. Karena itu, kejadian pertemuan Nabi dengan Malaikat Jibril membuatnya gundah gulana. Dalam gelap malam, Nabi Muhammad bergegas pulang menemui istrinya dan menceritakan apa yang telah terjadi padanya.

Khadijah yang sudah mendapatkan informasi tentang nubuwwat akan datangnya rasul terakhir yang ciri-cirinya ada pada suaminya, justru menyemangatinya lalu mengajaknya bertemu dengan Waraqah bin Naufal, sepupunya. Waraqah menjelaskan bahwa yang datang di gua Hira’ itu adalah Namus, yang dulu pernah datang kepada Nabi Musa. Waraqah juga memberitahunya bahwa jika ia masih hidup saat kaumnya nanti mengusirnya, maka ia akan membelanya dengan sepenuh kemampuannya. Ketika Nabi heran dan mempertanyakannya, Waraqah mengatakan bahwa tidak ada orang yang mengatakan apa yang dikatakannya itu, kecuali pasti akan diusir oleh kaumnya.

Dalam kegalauan yang tersisa sebagai orang yang didatangi oleh jin, Allah menurunkan wahyu yang berisi bahwa ia telah dingkat menjadi utusan Allah dan bukanlah orang yang kerasukan jin. Dan karena itu, Muhammad memeluk agama yang mulia, yang kemudian secara formal disebut Islam. Dalam rangkaian ayat ini, Allah mengakhiri dengan penghiburan bahwa dia dan orang-orang yang menentangnya akan mengetahuinya.

ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ – مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ – وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ – وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ – فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ – بِأَيِّكُمُ الْمَفْتُونُ – إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Nun. Demi qalam dan apa yang mereka tulis; berkat nikmat Tuhanmu, kamu (Muhammad) sekali-kali bukan majnûn (kerasukan jin). Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar atas agama yang luhur. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang terpedaya/tertipu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-Qalam: 1-7)

Frase “berkat nikmat Tuhanmu” ini menunjukkan bahwa Allah telah memilihnya sebagai seorang nabi. Sesungguhnya ini merupakan penguatan pesan dari rumpun wahyu pertama yang di dalamnya terdapat frase “dengan nama Tuhanmu”. Dan perspektif bahwa kenabian adalah sebuah nikmat dari Allah ini konsisten dan makin nampak pada ayat-ayat yang turun jauh setelahnya.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah telah memberikan nikmat kepada mereka, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam: 58)

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. (QS. al-Thur: 29)
Dengan wahyu kedua tersebut, Nabi diyakinkan Allah bahwa beliau telah menjadi nabi dan rasulNya. Konsekuensi status seorang rasul adalah menyampaikan ajaran Allah kepada umatnya. Perintah pertama untuk menyampaikan wahyu dari Allah ini terdapat dalam akhir surat al-Dluha setelah ayat-ayat sebelumnya mengungkapkan penghiburan kepada Nabi Muhammad saw. karena kurang lebih dua tahun Malaikat Jibril tidak datang lagi kepadanya.

وَالضُّحَىٰ – وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ – مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ- وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ- وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ- أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ – وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ – وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ – فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ – وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ – وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (QS. al-Dluha: 1-11).

Nikmat yang dimaksud dalam ayat terakhir ini adalah kenabian dan kerasulan. Sekali lagi bukan sebagaimana pandangan tafsir yang mengartikan nikmat sebagai sesuatu yang tidak spesifik ini, sehingga melahirkan istilah yang cukup umum yaitu tahadduts bi al-ni’mah untuk menghindarkan tuduhan riya’.
Allah kemudian memberikan panduan dalam menyampaikan wahyu itu kepada Nabi Muhammad agar memulainya dari keluarga terdekat.

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ – وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ – فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ – وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ – الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ – وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ – إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ – هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ – تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ – يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”; Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Apakah perlu Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. (QS. al-Syu’ara’: 214-223).

Ternyata tantangan dalam menyampaikan risalah ini tidak mudah. Elite-elite Makkah, bahkan keluarga Nabi sendiri bukan hanya tidak bisa menerimanya, bahkan di antaranya melakukan penentangan sangat keras. Abu Lahab adalah di antara paman Nabi yang paling keras menolak ajaran yang disampaikan olehnya. Dia didukung juga oleh istrinya, sampai-sampai keduanya diabadikan di dalam surat al-Lahab. Ketika Nabi Muhammad memproklamirkan dirinya sebagai utusan (rasûl) Allah dengan mengatakan bahwa ayat-ayat sarat sajak itu berasal dari Allah, mereka tidak percaya dan menuduhnya sebagai majnûn (kerasukan jin). Seluruh kata majnûn sama sekali tidak bisa diartikan dengan gila, karena sesungguhnya mereka, terutama para elite suku di Arab saat itu, menganggap bahwa majnûn adalah julukan kehormatan untuk orang dengan kemampuan luar biasa untuk menghasilkan karya sastra dalam keaslian dan sekaligus keindahan bahasa. Perpektif ini bisa didapatkan dengan cara membandingkan secara sederhana dua kata kâhin (dukun) dan majnûn (kerasukan jin) yang terdapat dalam al-Thur: 29 dan dua kata syâ’ir (penyair) dan kâhin di al-Haaqqah: 41-42.

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. (QS. al-Thur: 29).

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ – وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ – وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ – تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar perkataan Rasul yang mulia (Muhammad), dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. (QS. al-Haaqqah: 40-43)

Di dalam al-Haaqqah: 41 nampak bahwa kata syâ’ir menempati atau menggantikan posisi kata majnûn di al-Thur: 29. Hanya saja, kata kâhin diletakkan belakangan. Nampak makin jelas lagi ketika al-Qur’an menjadikan majnûn sebagai atribut bagi syâ’ir.

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

Dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair yang majnûn?” (QS. al-Shaaffaat: 36).

Mereka mengakui bahwa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad adalah kalimat-kalimat berkualitas tinggi melampaui apa yang pernah mereka capai. Namun, mereka tidak mau posisi mereka dikalahkan oleh Nabi Muhammad, karena dia bukan sekedar majnûn, tetapi nabi dan rasul. Mereka tidak mau ada suku atau kelompok lain mendapatkan kehormatan yang melebihi rata-rata karena masing-masing memiliki keunggulan komparatif. Jika pun suatu saat tertentu satu kabilah memiliki keunggulan tertentu, pada saat kemudian bisa dikejar dengan keunggulan yang sama atau yang lain yang setara. Sebab, sebelumnya mereka telah berusaha bersaing dalam melakukan sesuatu yang membuat mereka mendapatkan kemuliaan. Gambaran tentang persaingan atau perebutan pengaruh itu terdapat dalam dialog antara Abu Jahal dengan al-Akhnas bin Syuraiq pada menjelang perang Badar.

فالتقى الأخنس وأبو جهل، فخلا الأخنس بأبي جهل فقال: يا أبا الحكم! أخبرني عن محمد: أصادق هو أم كاذب؟ فإنه ليس هاهنا من قريش غيري وغيرك يسمع كلامنا، فقال أبو جهل: ويحك! والله إن محمداً لصادق، وما كذب محمدٌ قط، ولكن إذا ذهبت بنو قصي باللواء والسقاية والحجاب والنبوة، فماذا يكون لسائر قريش؟ فذلك قوله: فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ. فآيات الله: محمد صلى الله عليه وسلم.

Al-Akhnas dan Abu Jahal bertemu, lalu mereka berdua menyendiri. Al-Akhnas berkata: “Wahai Abal Hakam, ceritakanlah kepada tentang Muhammad, apakah dia orang yang jujur atau pendusta? Di sini tidak ada satu pun orang Quraisy yang mendengar pembicaraan kita.” Abu Jahal menjawab: “Celaka kamu. Demi Allah, sungguh Muhammad adalah orang yang jujur. Dia tidak pernah berdusta sama sekali. Akan tetapi, jika Bani Qushay telah mengambil peran dalam membawa bendera perang, memberi minum jama’ah haji dan umrah, memberikan kiswah ka’bah, lalu ditambah lagi dengan kenabian, lalu Quraisy yang lain dapat bagian apa?” Karena itulah turun firman Allah: “Maka, sesungguhnya mereka tidak mendustakanmu, akan tetapi orang-orang dhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” Dan ayat-ayat Allah dalam konteks ini adalah Muhammad saw..
Mereka tidak mau menerima klaim Nabi Muhammad sebagai utusan Allah yang telah mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril. Mereka selalu berusaha mendegradasi kualitas Nabi Muhammad dari seorang yang berstatus nabi dan rasul dengan hanya sebagai majnûn yang mendapatkan inspirasi dari jin dan di antara kelompok jin adalah setan.

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ – لَوْ مَا تَأْتِينَا بِالْمَلَائِكَةِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ – مَا نُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَا كَانُوا إِذًا مُنْظَرِينَ – إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Mereka berkata: “Hai orang yang diturunkan al-Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang kerasukan jin. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?” Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa adzab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. al-Hijr: 6-9)

Ada juga cukup banyak ayat yang menggambarkan tuduhan mereka kepada Nabi Muhammad sebagai sekedar orang yang menjiplak dan majnûn, dengan motif menolak kerasulan Nabi Muhammad saw..

أَنَّىٰ لَهُمُ الذِّكْرَىٰ وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ – ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ

Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan, kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang kerasukan jin”. (QS. al-Dukhan: 13-14)

Al-Qur’an menolak tuduhan itu dengan memberikan perspektif bahwa al-Qur’an di lauh mahfudh tidak bisa diakses kecuali oleh malaikat yang disucikan.

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ – فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ – لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Sesungguhnya al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudh), tidak menyentuhnya kecuali malaikat-malaikat yang disucikan. (QS. al-Waqi’ah: 77-79).

Jin yang dulunya pernah memiliki akses untuk berkumpul untuk mengakses pembicaraan di kalangan elite malaikat pun kemudian tidak hanya terblokir, tetapi bahkan terusir.

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا – وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا – وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (QS. al-Jinn: 8-10).

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ – وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ – إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِينٌ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk, kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (QS. al-Hijr: 16-18)

Al-Qur’an secara tegas menyatakan secara lebih spesifik lagi bahwa penyampai al-Qur’an kepada Nabi Muhammad adalah Malaikat Jibril.

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ – نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ – عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ

Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Al-Ruh al-Amin (Jibril) membawanya turun, ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (QS. al-Syu’ara’: 193-194).

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah ketetapan dan iman itu, tetapi Kami menjadikannya (al-Qur’an) itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. al-Syûrâ: 52).

Al-Qur’an memberikan penegasan bahwa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad bukanlah dari jin dalam arti umum, atau setan secara lebih spesifik lagi sebagai entitas yang mengajak kepada kejahatan.

وَمَا تَنَزَّلَتْ بِهِ الشَّيَاطِينُ – وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ – إِنَّهُمْ عَنِ السَّمْعِ لَمَعْزُولُونَ

Dan al-Qur’an itu bukanlah dibawa turun oleh syaitan-syaitan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun al-Qur’an itu, dan merekapun tidak akan kuasa. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar al-Qur’an itu. (QS. al-Syu’ara’: 210-211)
Sebagai deklarasi bahwa al-Qur’an yang dalam penyampaiannya kepada Nabi Muhammad sama sekali tidak ada hubungannya dengan selain Malaikat Jibril, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar berlindung kepada Allah dari segala godaan setan. Ini untuk menegaskan bahwa al-Qur’an benar-benar diturunkan dari Allah Swt..

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (QS. al-Nahl: 98)

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ

Dan jika menimpamu sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah (QS. al-A’raf: 200, QS. Fushshilat: 36).

وَقُلْ رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ – وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ

Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku”. (QS. al-Mu’minun: 97).

Permohonan perlindungan kepada Allah dari setan ini agar orang-orang yang menuduh Nabi Muhammad bahwa beliau mendapatkan inspirasi dari setan berhenti melancarkan tuduhan. Sebab, tidak mungkin setan datang kepada orang yang sudah memohon perlindungan kepada Allah dari godaannya. Namun, karena mereka memiliki kepentingan duniawi, maka mereka tetap saja melakukan tuduhan yang sebelumnya telah mereka gencarkan. Tuduhan itu turus mereka ulang-ulang, walaupun al-Qur’an sudah memberikan tantangan mulai yang masih terbilang berat dengan mendatangkan sepuluh surat saja, sampai hanya satu surat saja yang seperti al-Qur’an.

فَلَعَلَّكَ تَارِكٌ بَعْضَ مَا يُوحَىٰ إِلَيْكَ وَضَائِقٌ بِهِ صَدْرُكَ أَنْ يَقُولُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ جَاءَ مَعَهُ مَلَكٌ ۚ إِنَّمَا أَنْتَ نَذِيرٌ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ – أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ- فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنْزِلَ بِعِلْمِ اللَّهِ وَأَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu. Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”. Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (QS. Hud: 12-14)

Setelah tantangan untuk membuat sepuluh surat tidak dipenuhi oleh para penentang al-Qur’an, maka al-Qur’an kemudian menurunkan tantangan hanya dengan satu surat saja.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ – فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) — dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. al-Baqarah: 23-24)

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar”. (QS. Yunus: 38)

Tantangan yang tak terjawab ini merupakan bukti kuat bahwa al-Qur’an benar-benar firman Allah, bukan karang manusia secerdas apa pun, dengan siapa pun menjadi kolaboratornya.

B. Prediksinya Presisi
Bukti kebenaran al-Qur’an yang sangat megagumkan adalah prediksinya bukan hanya tepat, tetapi lebih dari itu sangat presisi. Setidaknya ada dua kasus yang menunjukkan bahwa prediksi al-Qur’an sangat tepat dan juga presisi.

Pertama, Abu Lahab dan istrinya akan masuk neraka. Prediksi ini dinyatakan dengan sangat jelas dan tegas di dalam surat al-Lahab.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ – مَا أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ – سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ – وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ – فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. al-Lahab: 1-5).

Padahal saat surat al-Lahab yang memuat prediksi itu diturunkan, Abu Lahab dan istrinya masih dalam keadaan segar bugar dan usia keduanya juga terbilang belum terlalu tua. Masih banyak kesempatan untuk berubah pikiran dan beriman kepada Nabi Muhammad. Namun, kesempatan itu ternyata tidak dimanfaatkan oleh keduanya. Dan sesuai dengan prediksi surat al-Lahab, keduanya mati dalam keadaan kafir. Dan jika mati dalam keadaan kafir, maka tempat kembali mereka adalah neraka.

Kedua, prediksi al-Qur’an bahwa Romawi akan menang kembali atas Persia. Pada saat itu, dua adikuasa yang selalu bersaing dan melakukan peperangan untuk menunjukkan superioritas adalah Romawi dan Persia. Romawi mengalami kekalahan yang sangat dahsyat. Kekalahan Romawi yang beragama Nasrani oleh Persia yang beragama Majusi membuat banyak sahabat Nabi bersedih. Sebab, masih ada kesamaan antara Islam dengan Nasrani dalam hal menyembah Allah. Sedangkan kaum Majusi menyembah api. Karena kekalahan itu, orang-orang musyrik juga mengancam para sahabat bahwa tinggal menunggu waktu mereka akan mengalahkan umat Islam sebagaimana para penyembah api itu mengalahkan orang-orang Nasrani Romawi. Karena ancaman orang-orang musyrik itu, para sahabat kemudian mengadu kepada Rasulullah. Karena itulah, turun ayat yang memberikan prediksi sebaliknya, bahwa Romawi akan menang kembali atas Persia, bahkan waktunya pun disebutkan.

الم – غُلِبَتِ الرُّومُ – فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ – فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa (baca: antara 3-9) tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, (QS. al-Rum: 1-4)

Ayat tersebut pernah menjadi bahan olok-olok orang-orang musyrik. Sebab, para pakar strategi perang memperkirakan bahwa perlu minimal dua dekade untuk melakukan recovery akibat kekalahan perang tersebut. Namun, al-Qur’an menyatakan dengan terang bahwa Romawi akan menang kembali pada waktu antara 3-9 tahun saja. Dan ternyata benar. Romawi menang kembali atas Persia pada tahun ke-7. Jika peristiwa Romawi menang kembali atas Persia terjadi pada tahun ke-11 saja, maka al-Qur’an sudah kelihatan kekeliruannya. Dari kasus inilah, al-Qur’an menunjukkan bahwa prediksinya tidak hanya benar, tetapi bahkan sangat presisi. Jika meleset, sekali lagi, al-Qur’an sudah kehilangan relevansi.

C. Isyarat Ilmiahnya Makin Banyak Yang Terbukti

Al-Qur’an memiliki banyak isyarat ilmiah dalam cukup banyak ayat yang di zaman modern makin banyak terbukti. Di antara contoh yang paling mencengangkan adalah: Pertama, proses penciptaan manusia di dalam rahim ibunya yang disebutkan fase-fasenya secara detail yang jika kurang atau terbalik satu saja, maka al-Qur’an akan kehilangan relevansinya.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ – ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ – ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. al-Mu’minun: 12-14)

Jauh hari sebelum teknologi USG ditemukan, al-Qur’an sudah menjelaskan tentang proses kejadian manusia di dalam perut ibunya dengan sangat detail. Jika proses kejadian dengan fase yang dinyatakan tegas itu terbalik satu saja, maka al-Qur’an akan kehilangan relevenasinya.

Contoh lain adalah al-Qur’an mengisyaratkan bahwa ada sesuatu di atas nyamuk.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS. al-Baqarah: 26)

Pemahaman yang dihasilkan dari ayat ini pada zaman mikroskop tentu saja bisa sangat berbeda dengan pemahaman zaman sebelumnya, termasuk zaman sahabat. Para sahabat hanya memahami bahwa ada hewan yang rendah atau kecil dibandingkan nyamuk. Namun, ada “lapisan pemahaman” yang ternyata menjadi kesempatan bagi para peneliti yang hidup jauh berbeda zaman dengan Nabi dan para sahabat.

Al-Qur’an Sebagai Sumber Ilmu
Proposisi paling penting dari fakta kebenaran al-Qur’an adalah: “Jika al-Qur’an mengatakan tentang segala sesuatu yang bersifat verifikatif ternyata terbukti, maka ketika al-Qur’an mengatakan tentang sesuatu yang tidak bisa diverifikasi, haruslah diimani”. Karena itu, al-Qur’an menjadi rujukan untuk membangun ilmu atau pengetahuan tentang iman dan bersamaan dengan itu bisa digunakan sebagai untuk tidak hanya menemukan ilmu pengetahuan baru, tetapi juga mengakselerasi capaian dalam bidang sains dan juga teknologi.

Al-Qur’an memberikan perspektif dasar dalam pembangunan ilmu pengetahuan ini dengan konsep takdir dan sunnatullah. Namun, kedua konsep ini sering dipahami secara keliru. Di antara bentuk kekeliruannya adalah memahami keduanya secara terbalik. Yang takdir dianggap sunnatullah dan yang sunnatullah dianggap takdir. Salah paham tentang kedua konsep ini pada umumnya menghasilkan inkonsistensi dalam sikap hidup dan paling fatalnya melahirkan fatalisme.

Al-Qur’an menyebut kata takdir, belum termasuk turunannya, sebanyak tiga kali, dan semuanya berkaitan dengan sesuatu yang benar-benar tidak bisa diubah.

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An’am: 96)

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ – وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (QS. Yasin: 38)

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Fushshilat: 12)

Tentang sunnatullah, al-Qur’an memberikan banyak informasi, di antaranya untuk membangun sumber daya manusia yang unggul dengan mulai memberikan ASI selama dua tahun di masa awal setelah kelahiran dan kemudian juga dilanjutkan dengan makan makanan yang tidak hanya halal tetapi juga thayyib.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Baqarah: 233).

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. al-Ahqaf: 15)

Sains modern menemukan bahwa makanan adalah faktor yang sangat menentukan kualitas hidup manusia. Namun, jauh sebelum itu, al-Qur’an sudah memberikan isyarat ilmiahnya dengan menyebut kriteria lain yang mestinya dikonsumsi denga kata thayyib.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, (QS. al-Baqarah: 168)

Al-Qur’an sebagai Panduan Amal
Pengetahuan yang benar akan menghasilkan amal yang tidak hanya benar yang bisa mendatangkan manfaat di dunia, tetapi juga di akhirat. Pengetahuan yang parsial akan menghasilkan amal yang tidak benar. Jika pun benar, tetapi tidak bisa menjadi bekal dalam kehidupan kedua yang kekal. Sebab, amal yang tidak didasarkan kepada iman yang benar, akan menjadi sia-sia, karena terhapus di sisi Allah Swt..

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا – الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا – أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. al-Kahfi: 103-105)

Amal bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dilakukan sembunyi-sembunyi agar tidak mendatangkan perasaan riya’ dan benar-benar ikhlash karena Allah Swt.. Sedangkan amal yang dilakukan secara terang-terangan dimaksudkan agar menjadi contoh bagi orang lain, sehingga mendatangkan efek amal secara massal. Yang terpenting sesungguhnya adalah niat yang murni hanya karena Allah Swt., bukan karena yang selainNya.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. al-Baqarah: 274) Lihat juga QS. al-Ra’d 22, QS. Ibrahim: 31, QS. Fathir: 29)

Al-Qur’an Memotivasi Dedikasi
Agar amal mendatangkan efek yang signifikan, maka harus dilakukan dengan sepenuh kesungguhan. Itulah yang disebut dengan jihad. Yang tak kalah penting dalam jihad ini adalah melakukan amal kebajikan dengan strategi dan taktik. Kesungguhan tanpa strategi dan taktik seringkali justru menyebabkan kegagalan, bahkan kekalahan dan kebinasaan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. al-Maidah: 35)

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. al-Taubah: 41).

وَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُوا بِاللَّهِ وَجَاهِدُوا مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُولُو الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوا ذَرْنَا نَكُنْ مَعَ الْقَاعِدِينَ

Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk”. (QS. al-Taubah: 86)

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS. al-Hajj: 78)

Strategi dan taktik dalam beberapa kasus disebut dengan hikmah. Karena itulah, Allah menyatakan bahwa orang yang diberi hikmah, maka sesungguhnya dia diberi kebaikan yang banyak.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS. al-Baqarah)

Amal yang dikerjakan dengan menggunakan hikmah, akan mendatangkan hasil yang berkali-kali lipat. Karena itu, diperlukan menejemen dan juga pengorganisasian yang efektif dan efisien dengan bingkai siyasah.
Untuk bisa menjalankan jihad secara optimal, al-Qur’an secara realistis menyebut harta kekayaan. Al-Qur’an tidak mengingkari bahwa sejarah digerakkan juga oleh materi. Di samping ada kekuatan jiwa (nafs) dengan beragam rupa mulai dari inspirasi, pikiran atau imajinasi, sampai motivasi, juga harus ada materi.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. al-Hujurat: 15)

 

Simpulan

Untuk mendapatkan ilmu yang utuh, sumbernya adalah firman dan alam. Keduanya adalah sama-sama tanda dari Allah, Pencipta alam semesta. Orang yang menggunakan akalnya untuk memahami dalil dan data, akan memiliki paradigma hidup yang berkualitas, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Paradigma dan budaya yang lahir dari manusia berparadigma keilmuan utuh ini adalah yang mampu membuktikan keunggulan sebagaimana dijanjikan oleh al-Qur’an. Untuk mencapai keunggulan itu, tentu diperlukan usaha yang tidak hanya dalam kategori rata-rata, tetapi diperlukan kesungguhnya yang sepenuhnya (jihâd). Merekalah yang diisyaratkan oleh al-Qur’an sebagai khayru ummah dan ummatan wasathan (ummat terbaik) dengan keunggulan itu, kehidupan yang baik didunia akan bisa diwujudkan, dan kehidupan yang baik di akhirat juga bisa didapatkan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *