Wahai Pemimpinku! Kau Temanku? Atau Musuhku?

Marah, kesal, jengkel adalah kesan saya melihat kinerja pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19. Langkah-langkah yang dikerjakan tidak menunjukkan nilai kepemimpinan yang asasi. Tidak ada tindakan konkrit dari pemerintah untuk mengurangi jumlah korban yang terkena virus Covid-19 ini. Terlihat bagaimana setiap hari jumlah korban semakin bertambah banyak. Sampai pada tanggal 28 Mei 2020, tercatat korban telah sampai pada angka 24.538 jiwa, yang jumlah korban perharinya telah mencapai 600an jiwa.

Langkah yang dilakukan oleh pemerintah sekilas hanya mementingkan aspek ekonomi tanpa memperhatikan aspek kesehatan yang seharusnya merupakan hal yang paling primer untuk diperhatikan. Ditambah lagi kebijakan yang hanya membuat patah hati rakyat. Salah satunya ketika kebijakan pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT), tapi malah disusul dengan kebijakan biaya BPJS yang dinaikkan. Sungguh membuat saya, secara pribadi berpikir, apakah pemimpin negara ini paham dengan tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin yang sesungguhnya.

Dalam kehidupan kita, jika kita melihat seorang jatuh, maka seseorang yang memiliki empati, pasti menolong. Minimal kita bantu dia berdiri. Jika yang jatuh teman dekat kita, tidak hanya kita bantu berdiri, jika ada luka, pasti kita antar ke Rumah Sakit/Puskesmas terdekat untuk diobati, kalau perlu kita tidak segan untuk membiayai biaya perawatannya. Ini idealnya. Tapi ketika ada orang jatuh, kemudian kita tidak berbuat apa-apa. Bisa jadi, tidak ada rasa kasih dalam diri kita, atau karena yang jatuh musuh kita, jadi kita pun tak peduli bahkan mungkin senang dia jatuh.

Pemimpinku Adalah Teman Dekatku

Bacaan Lainnya

Masih ingat dengan surat al-Maaidah ayat 51? Ayat ini pasti tidak asing bagi kita. Apalagi mengingat ayat ini yang membuat orang yang sangat penting di Jakarta saat itu dipenjara. Ayat ini dipahami oleh sebagai umat Islam tentang larangan bagi kaum muslimin memilih pemimpin dari kalangan non-muslim. Ada juga sebagain umat Islam yang memahami ayat ini dengan larangan menjadikan kaum non-muslim kawan dekat bagi kaum muslim. Bahwa kata auliyaa’, sebagain mengartikan dengan makna pemimpin, sebagain memaknainya teman/kawan dekat.

Menurut sebagin para pakar Bahasa Arab, kata auliyaa’ terambil dari kata walii yang makna dasarnya adalah dekat. Dari sini kemudian berkembang makna-makna  baru, seperti: pendukung, pembela, pelindung, yang mengurus, yang menguasai, yang mencintai, lebih utama, teman, anak paman (sepupu), dan tetangga. Ada juga sebagian yang mengatakan bahwa kata auliyaa’ terambil dari kata al-waalii yang berarti penguasa. Oleh karena itu, salah satu makna walikota adalah penguasa kota itu. Bisa juga berarti siapa yang dekat dengan masyarakatnya, yang mengurus, dan membela kepentingan mereka.

Dalam memahami surat al-Maaidah ayat 51 di atas, saya menggunakan pendekatan yang berbeda. Saya menggunakan teori yang sering dipakai dalam pemahaman hadits (fahm al-hadiits). Yaitu teori al-Jam’u (kompromi). Teori yang digunakan ketika ada dua keterangan yang sama-sama mengandung kebenaran. Teori ini digunakan ketika ada dua hadits yang sama pembahasannya, kualitas haditsnya sama kuatnya, tetapi yang satu berkata boleh, yang satu berkata tidak boleh. Karena tidak mungkin untuk memenangkan salah satunya, maka harus dikompromikan dalam aplikasinya.

Bagi saya, kata auliyaa’ pada ayat 51 surat al-Maaidah, dipahami dengan makna karakter pemimpin adalah seperti teman/kawan dekat. Jadi maksudnya adalah pemimpin yang baik adalah pemimpin yang seperti teman akrab kita. Teman akrab adalah orang yang selalu membantu kita, menolong kita ketika kita dalam kesusahan. Pertemanan mengandung kesan hubungan dua pihak yang sama-sama merasakan satu perasaan dan tidak rela jika salah satu pihak tersakiti.

Idealnya, kepemimpinan bukan keistimewaan, tetapi tanggung jawab. Ia bukan fasilitas, tetapi pengorbanan. Ia bukan leha-leha, tetapi kerja keras. Ia juga bukan kesewenang-wenangan bertindak, tetapi kewajiban melayani. Pertanyaannya adalah apakah kepemimpinan di Indonesia sudah ideal seperti itu?

Saat ini, saya mengajak para pembaca bertanya, apakah benar pemimpin kita sudah selayaknya teman kita atau malah ternyata musuh kita? Atau malah jangan-jangan dia musuh yang menyamar menjadi teman kita?

Tulisan ini adalah ajakan saya kepada para pembaca untuk menjawab pertanyaan di atas. Dan akhirnya saya sebagai penulis, mengajak kita semua untuk merenung. Lebih sakit mana, antara disakiti oleh seseorang yang jelas-jelas musuh kita, atau disakiti oleh seseorang yang kita kira teman kita tapi ternyata musuh kita? Mari kita jawab dengan hati nurani kita masing-masing. Semoga kita sadar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Ya, sy sadar sepenuhnya. Pemimpin Indonesia sdh IDEAL spt kriteria tsb. Tapi kitapun hrs sadar bhw tdk ada pemimpin/manusia yg sempurna. Bijaklah dlm menyikapi sgl kekurangan yg ada pd siapapun. Alangkah baiknya klo kita bergandengan tangan utk mendukung semua keberhasilannya dan membantu segala kekurangannya. Smg Indonesia tetap Jaya. Tks