Niat Menghafalkan al-Qur’an

Niat Menghafalkan al-Qur'an
Baladena.ID

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pengasuh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE Semarang

Niat merupakan satu hal yang sangat fundamental. Niat akan melahirkan keteguhan dan juga tenaga yang optimal. Dengan niat yang kuat, tenaga akan besar, lelah akan sirna, kantuk akan menjauh, bahkan haus dan dahaga akan terlupakan. Niat akan mengkondisikan mental menjadi siap mengerjakan sesuatu, termasuk yang berat sekalipun. Kesiapan mental berpengaruh kepada kelenjar-kelenjar hormonal, terutama adrenalin, untuk melakukan usaha secara optimal. Kinerja akan jauh melampaui yang biasanya.

Niat juga akan mengondisikan daya ingat. Membaca apa pun dengan niat untuk dihafal dengan tanpa niat untuk dihafal, akan menyebabkan hasil yang berbeda. Sebab, terutama untuk menghafal 30 juz al-Qur’an, diperlukan berbagai macam kesiapan yang benar-benar total. Ibaratnya, niat itu adalah kesengajaan membuka tutup-tutup wadah barang-barang yang akan dimasukkan.

Niat inilah yang akan membuka selubung pada memori, sehingga bisa mewadahi ayat-ayat yang akan dihafalkan. Tanpa niat, bacaan yang diulang sekalipun akan lepas begitu saja. Sebab, memang tidak ada kesengajaan tujuan untuk mengikatnya. Bagaikan hewan yang dibiarkan begitu saja. Bila tidak hilang, maka adalah sebuah keberuntungan. Bahkan diikat pun belum ada jaminan tidak lepas. Dalam jumlah besar, hewan-hewan yang tidak diikat, besar potensi hilang. Dalam konteks ini, pernyataan Nabi Muhammad sangat relevan.

Bacaan Lainnya
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنِّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عاهَدَهاَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَ إِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ (رواه البخاري

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan shahib al-Qur`an seperti pemilik onta yang bertali kekang. Jika ia terus-menerus menjaganya (tali) atasnya (onta) ia menahannya dan jika ia melepasnya (tali) maka ia (onta) pergi”. (HR. Bukhari)

Bagi kebanyakan orang yang tidak memiliki daya ingat yang istimewa, niat inilah yang akan meningkatkan daya tahan mental dan juga fisik untuk terus mengulang bacaan sampai benar-benar hafal. Dengan daya ingat yang biasa-biasa saja, diperlukan rata-rata dua puluh kali pengulangan bacaan. Dan untuk menguatkan hafalan, sampai seolah-olah otak berada di atas bibir, diperlukan pengulangan tanpa batas. Untuk melakukan itu, waktu istirahat akan terkurangi secara drastis. Tenaga akan terkuras, tetapi tidak boleh habis. Hanya niat yang tak tergoyahkan yang akan membuat penghafal mampu melakukannya.

Untuk membulatkan tekad, diperlukan perspektif yang bisa dikaitkan. Tentu saja niat dasar menghafal al-Qur’an haruslah hanya karena Allah saja. Namun, karena Allah saja ini bisa diturunkan secara lebih detil, di antaranya karena ingin memahami perintah dan larangan Allah, janji dan ancamanNya, ilmu pengetahuan yang terhampar dan tergambar di dalam al-Qur’an, dan lain-lainnya, sehingga bisa menjadi hamba yang senantiasa berada dalam koridor yang telah dibuat oleh Allah.

Dan untuk bisa memahami dengan benar, tidak ada jalan yang lebih strategis, bahkan bisa dikatakan tidak ada jalan lain, selain melalui terlebih dahulu menghafalkan al-Qur’an. Dengan hafalan al-Qur’an, ilmu pengetahuan yang lengkap dari Allah akan berada dalam kepala dan dada, sehingga kapan pun dan di mana pun, dalam gelap maupun terang, ayat-ayat al-Qur’an bisa direnungkan untuk mendapatkan pemahaman yang benar dan utuh.

Bagi yang ingin menjadi guru misalnya, al-Qur’an adalah bahan ajar yang terbaik dan tidak pernah usang. Bahkan cerita yang ada di dalamnya bernilai sebagai ilmu pengetahuan, karena ia diperlukan sampai akhir zaman. Berbeda dengan cerita lain di luar al-Qur’an yang hanya dalam jangka waktu tak terlalu lama saja sudah menjadi tidak relevan. Dengan bahan ajar ini, retorika yang disampaikan seorang guru bukan sekedar retorika kosong, melainkan retorika yang sarat dengan isi, berupa ajaran-ajaran substansial dari Allah Swt.. Itu yang akan mengantarkan kepada derajat sebagai manusia terbaik. Sebab, Rasulullah pernah mengatakan:

عَنْ عُثْمَانَ رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ. (رواه البخاري)

“Ustman bin Affan ra., dia berkata: “Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Bagi yang ingin menjadi saintis, al-Qur’an mengandung banyak kata kunci untuk memecahkan fenomena alam semesta, baik makro kosmos maupun mikro kosmos. Menghafalkannya, berarti menginterkoneksikan berbagai informasi yang berserakan di banyak tempat yang bisa mengarahkan kepada penelitian objektif di alam. Ayat-ayat al-Qur’an tentang alam semesta bisa menjadi pemicu yang kuat untuk menghasilkan ilmu pengetahuan baru.

Bagi yang ingin menjadi politisi, al-Qur’an sesungguhnya adalah ajaran yang di dalamnya terdapat aturan untuk membangun kehidupan, tidak hanya dalam konteks individu dan masyarakat, tetapi juga negara. Dengan mengetahui perspektif tentang kebenaran dan kebathilan di dalam al-Qur’an, politisi akan memiliki kepastian tentang apa yang hendak diperjuangkan untuk mewujudkan kebaikan bersama. Ia tidak akan kebingungan oleh keinginan-keinginan yang bersumber dari hawa nafsu, sehingga bersifat temporer atau jangka pendek dan subjektif.

Ketetapan-ketetapan dalam al-Qur’anlah yang dipandang sebagai objektivitas sehingga menghindarkan dari kebingungan dan keraguan. Di antara contohnya, seorang politisi yang memahami dengan baik al-Qur’an tidak akan pernah menyetujui legalisasi LGBT. Tanpa ada landasan al-Qur’an, LGBT bisa ditolak, tetapi juga bisa diterima, sebagaimana telah menjadi nyata di Amerika. Baru pada menjelang akhir pemeritahan Obama, LGBT legal di sana. Padahal sebelumnya dianggap tindakan menyimpang.

Aspek, bidang, dan profesi apa pun sesungguhnya bisa membuat niat menghafalkan al-Qur’an menjadi lebih kuat, karena di dalam al-Qur’an terdapat petunjuk atau panduan bagi seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu pun yang terlewatkan oleh al-Qur’an. Dengan pemahaman yang detil dan komprehensif kepada al-Qur’an, maka petunjuk itu bisa ditangkap untuk diterapkan.

Dan dengan keyakinan bahwa petunjuk itulah yang akan mengantarkan kehidupan terbaik di dunia dan di akhirat, maka menghafalkannya akan melahirkan semangat yang menyala dan tak akan pernah padam. Makin memahami isi al-Qur’an, maka semangat akan makin menyala dan energi akan makin besar. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *