Guru yang Mengobarkan Api

Baladena.ID

Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pendiri Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Desa Mlagen, Pamotan, Rembang, Jateng; Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ

Socrates pernah mengatakan: “Pendidikan itu mengobarkan api, bukan mengisi bejana.” Ini soal paradigma sangat dasar untuk membangun pendidikan yang sesungguhnya. Jika guru menjadikan murid sebagai bejana kosong yang harus terus diisi, padahal akan ada satu saat guru berhenti mengisi karena berbagai sebab, maka proses pendidikan akan berhenti.

Jika tidak beruntung, isi bejana akan menguap lalu mengering kembali, menjadi kosong sama sekali. Itu banyak terjadi pada banyak orang yang berhenti belajar karena telah keluar dari dari lingkungan formal pendidikan. Dan karena banyak persoalan hidup yang tidak, atau sesungguhnya belum, terkoneksi dengan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan, seolah-olah pengetahuan yang didapatkan itu tidak fungsional. Lalu, cepat atau lambat hilang dari ingatan.

Berbeda jika murid diibaratkan sebagai bara api yang kecil, kemudian dikobarkan, maka ia akan terus membesar dan menjelajah ke semua yang bisa dibakar dan melumerkan semua yang dilewatinya. Ia akan menjadi orang yang sangat rakus ilmu pengetahuan, sampai lupa bahwa ia memerlukan makan, minum, dan juga tidur. Kerakusan itulah yang akan mengantarkan kepada kemampuan untuk membangun interkoneksi antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lain, sehingga terbangun konsepsi pengetahuan bagaikan jaring laba-laba dengan banyak simpul yang semuanya saling terhubung.

Bacaan Lainnya

Paradigma Socrates menjadi semakin relevan di era disrupsi informasi akibat digitalisasi. Ilmu pengertahuan tersedia tanpa batasan. Mendapatkannya, menjadi semudah menggerakkan kedua jempol tangan. Murid yang sudah benar-benar dikobarkan semangatnya, sehingga menjadi pecinta ilmu pengetahuan, maka dia tidak akan pernah berhenti mencari. Pencariannya tidak bisa lagi dibatasi oleh ruang dan waktu.

Di mana saja dan kapan saja, ia memiliki kesempatan untuk terus menambah pengetahuan, melakukan konfirmasi, ferifakasi, bahkan juga falsifikasi. Padahal makin banyak pengetahuan akan menimbulkan kesadaran tentang betapa kecil seorang diri. Dan itu akan semakin memicu diri untuk terus melakukan pencarian tanpa batas, mengoptimalkan segenap daya dan akal budi. Jika segala daya dan akal budi sudah didorong sedemikian rupa, maka segala tembok penghalang akan jebol. Segala tabir pengetahuan akan tersingkap. Ilmu penetahuan akan nampak sebagai sinar yang terang benderang sebagai keindahan yang menawan.

Untuk melahirkan murid-murid yang tak pernah mau berhenti mencari, diperlukan guru yang mampu memberikan inspirasi. Guru harus bisa menggerakkan murid, sehingga punya inisiatif lebih untuk meninggalkan fase mendengar dan menurut, tetapi punya keinginan untuk menyampaikan pengetahuan baru dan bahkan menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Guru inspiratif memerlukan beberapa prasyarat, di antaranya yang terpenting adalah:

Pertama, memiliki basis keilmuan yang benar, mengendap, dan kokoh. Guru berkualifikasi ini memerlukan proses yang panjang, tidak hanya melakukan pencarian dan verifikasi, tetapi juga falsifikasi yang terus menerus. Ia mampu mengoptimalkan daya nalarnya untuk melakukan perenungan yang intensif kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun, baik berdiri, duduk, mapun apalagi terbaring.

Bahkan pada saat memejamkan mata menjelang tidur dan setelah baru saha terjaga. Dan jangan pernah mengira bahwa kapasitas itu hanya penting untuk murid yang sudah menginjak dewasa. Kapasitas itu bahkan diperlukan oleh para murid belia. Bahkan, sejak dini mereka sudah harus dibiasakan dengan kerangka berpikir yang benar, ditandai dengan berbahasa dengan logika yang tepat; jangan sampai terjerumus ke dalam kebiasaan-kebiasaan berpikir yang nampak dalam susunan bahasa yang tidak benar.

Kebiasaan berpikir tidak logis, membutuhkan dekonstruksi yang tidak mudah untuk memperbaikinya. Dan yang pasti, kebiasaan buruk itu telah menyebabkan waktu yang terus berjalan maju dan tidak tergantikan menjadi sia-sia.

Karena itu, guru tidak boleh diperankan oleh orang yang biasa-biasa saja dalam hal keilmuan. Guru bisa memiliki karakter yang kuat atau akhlak yang mulia, hanya apabila memiliki ilmu yang tinggi. Antara ilmu dan akhlak tidak dikotomis. Bahkan basis akhlak sesungguhnya adalah ilmu. Tanpa ilmu, tidak diketahui konstruksi akhlak mana yang baik dan yang buruk. Guru haruslah SDM terbaik. Dan melakukan peran guru haruslah merupakan pilihan hidup. Ia harus merupakan panggilan untuk mencerdaskan seluruh umat manusia, sebanyak-banyak yang bisa dijangkau olehnya.

Kedua, memiliki soft skill untuk hidup mandiri dan cukup. Seorang guru tidak boleh menggantungkan hidup dari pihak lain. Sebab, ketergantungan itu akan menyebabkannya tidak memiliki independensi yang merupakan prasyarat yang diperlukan untuk menyampaikan kebenaran ilmu. Bahkan, jika mengalami ketergantungan kepada pihak lain, bisa kehilangan harga diri. Guru yang sejati juga tidak pernah, dan tidak akan pernah mau, menggantungkan hidup kepada negara.

Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan tugas negara, memang diperlukan jalan tengah. Negara harus menjamin kehidupan guru yang belum sampai kepada level kesejatian sebagai guru berkemandirian untuk hidup dengan cukup di satu sisi, dan di sisi lain negara tidak melakukan intervensi kepada guru dalam konteks menjalankan proses pendidikan yang mengobarkan, bahkan jika pun itu di luar kelaziman. Otonomi guru dalam menjalankan proses untuk mengobarkan, harus di jamin, karena hanya gurulah yang mengetahui detil murid yang menjadi peserta didiknya. Selain itu, semua inovasi dan kebaruan, selalu muncul dari yang tidak, bahkan bertentangan dengan yang, lazim.

Ketiga, mampu berinteraksi secara luas dengan berbagai kalangan. Guru harus memberikan contoh sikap terbuka kepada banyak kalangan. Sikap terbuka lebih memungkinkan untuk menyerap berbagai pengetahuan dan informasi, termasuk dan terutama metodologinya. Dengan pergaulan yang luas, guru akan menyerap bahwa perkembangan baru yang sangat bermanfaat untuk menambah cakrawala dunia yang tak diketahui batasnya kepada para murid. Dengan demikian, murid tidak akan menjadi katak dalam tempurung.

Sebaliknya, murid akan selalu tertantang untuk membuntuti rasa penasaran untuk sampai kepada level manusia jenius dalam arti yang sesungguhnya. Kejeniusan tidak hanya terbatas pada teori tentang kecerdasan intelektual dengan IQ di atas 140, melainkan menjadi pribadi yang selalu memiliki rasa penasaran, selalu ingin dan mau membuntutinya untuk menemukan sesuatu yang baru. Yang sering terjadi, guru membatasi diri pada lingkungan sekolah dan rumah. Seolah tugasnya hanya menyampaikan materi ajar dalam buku yang monoton. Untuk menjadi guru yang inspiratif, daya untuk ruang jelajah harus terus ditambah.

Keempat, lebih spesifik lagi terampil dalam memberikan solusi-solusi cerdas pada setiap masalah yang muncul. Guru akan makin memiliki kekuatan inspirasi apabila ia tidak hanya mampu menyelesaikan soal-soal ujian, tetapi yang lebih penting lagi menunjukkan kemampuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Guru yang memiliki kemampuan ini akan menjadi sangat memukau di mata para murid. Sebab, tidak ada persoalan pelik baginya. Kepelikan persoalan hanyalah tantangan yang kemudian bisa diselesaikan dengan cara-cara yang disederhanakan. Kebiasaan menghadapi berbagai persoalan pelik akan membuat persoalan yang bagi banyak orang masih pelik menjadi terasa sederhana.

Agar guru memiliki banyak kesempatan untuk selalu meningkatkan kualitas diri, beban-beban administratif harus dikurangi secara signifikan, bahkan dihilangkan. Sebab, urusan administratif bisa menjadi jebakan yang membuat pikiran para guru menjadi beku. Selain itu, di masa yang akan datang, rekrutmen guru harus dilakukan dengan jalan baru untuk mendapatkan SDM-SDM yang terbaik.

Bisa saja guru direkrut dari universitas di luar bidang keguruan, tetapi memiliki kemudian terpanggil untuk menjadi pendidik. Agar mereka benar-benar menjadi pendidik yang bisa fokus memantif akselerasi kemajuan, maka segala kebutuhan mereka harus diperhatikan. Negara harus benar-bebar memiliki cara pandang baru tentang guru, walaupun untuk itu harus dilakukan revolusi anggaran.

Selamat hari guru! Semoga lahir semangat baru yang bisa memantik api untuk mengobarkan perubahan menuju perbaikan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *