Dua puluh tahun berlalu
Tulus pengorbananmu tak henti-hentinya ditelan waktu
Kau bagai pelita yang benderang dalam dalamnya Malam
Kau bagai mentari yang tulus ikhlas menerangi semesta ini
Bu, aku tahu
Dua puluh tahun merawatku pasti tak lepas dari pilu
Kau rela jatuh bangun demi gurutan senyuman di wajahku, anakmu
Jika aku teringat semua pengorbananmu
Tak sanggup aku membendung air mataku
Justru makin deras membanjiri pipiku
Kini, jarak sedang tak bersahabat
Terbentang dan membuatku kehilangan peluk hangat
Tapi, aku tak peduli itu
Masih ada waktu yang akan membuat kita bahagia dalam temu
Terima kasih, Tuhan
Aku bersyukur terlahir dari bidadari dunia yang kau ciptakan
Bidadari yang tak pernah mengajarkanku untuk menyalahkan
Meski pada keadaan
Bidadari yang selalu mengajarkanku bersyukur di setiap waktu atas butiran-butiran nikmat-Mu
Bidadari yang tak pernah lelah mengobarkan api semangatku saat putus asa melandaku
Maafkan aku, Bu
Aku belum bisa melukis senyum terindah di dunia ini di wajahmu
Tapi, asal Ibu tahu, sekarang aku sedang mengusahakan
Selamat ulang tahun, Ibu
Semoga berkah selalu ada dalam setiap langkah
Semoga Tuhan semakin sayang
Semarang, 18 April 2020







