KENDAL – Transformasi digital menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam mempertahankan daya saing di tengah perubahan perilaku konsumen. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT Posko 170 UIN Walisongo Semarang melaksanakan pendampingan pengembangan UMKM berbasis digital di Dukuh Krajan, Desa Cepokomulyo, Kecamatan Gemuh, Kabupaten Kendal.
Program tersebut diawali dengan pemetaan potensi dan kebutuhan pelaku UMKM melalui wawancara bersama Rifki Fakhrudin, pemilik konveksi jeans lokal yang telah memasarkan produknya melalui berbagai kanal penjualan, baik secara daring maupun luring. Wawancara dilakukan oleh mahasiswa KKN MIT Posko 170, Salva Ahmad Firdaus dan Mhd. Rayhan Fadhil, pada Rabu (29/7).
Rifki menilai kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan perubahan pasar menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha. Menurutnya, pelaku UMKM tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan pola konsumsi masyarakat yang kini semakin terhubung dengan ekosistem digital.
“Pelaku UMKM harus adaptif terhadap perkembangan zaman dan mengikuti arus pasar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemanfaatan platform digital seperti TikTok dan Shopee telah membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk menjangkau konsumen di berbagai daerah. Meski demikian, pemasaran secara langsung masih tetap dipertahankan sebagai strategi untuk membangun kedekatan dengan pelanggan sekaligus menjaga loyalitas konsumen.
Selain membahas strategi pemasaran, Rifki turut menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar terus melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang berkaitan dengan perdagangan digital, termasuk regulasi perpajakan pada penjualan melalui platform daring. Menurutnya, kebijakan yang lebih adaptif akan memberikan ruang tumbuh yang lebih baik bagi UMKM dalam menghadapi persaingan di era ekonomi digital.
Melalui program kerja tersebut, mahasiswa KKN MIT Posko 170 berkolaborasi dengan pelaku usaha setempat untuk memperkuat kapasitas pemasaran digital UMKM. Pendampingan difokuskan pada optimalisasi penggunaan media digital sebagai sarana promosi, peningkatan visibilitas produk, serta penguatan strategi pemasaran yang sesuai dengan perkembangan perilaku konsumen.
Koordinator program KKN menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi desa yang lebih adaptif terhadap perubahan.
Pendekatan kolaboratif antara perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat daya saing UMKM lokal, memperluas akses pasar, serta meningkatkan nilai tambah produk unggulan Desa Cepokomulyo.
Di akhir wawancara, Rifki mengajak generasi muda dan para pelaku UMKM untuk tetap konsisten dalam mengembangkan usahanya di tengah berbagai tantangan.
“Tetap berjalan dan istiqomah dalam menjalankan usaha. Saya berharap kehadiran mahasiswa KKN melalui program pendampingan ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan UMKM di Desa Cepokomulyo sehingga mampu berkembang dan semakin dikenal masyarakat luas,” tuturnya.
Kegiatan pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dalam mendukung transformasi digital sektor UMKM. Sinergi antara perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan dapat menjadi fondasi bagi penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan serta mendorong UMKM agar semakin kompetitif di tingkat regional maupun nasional.







