Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen, Rembang. Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI
Nabi Muhammad saw. telah diakui sebagai orang yang sangat dipercaya sebelum diangkat oleh Allah menjadi utusanNya. Bahkan inisiatifnya yang sangat cerdas saat mengembalikan hajar aswad ke tempatnya setelah diterjang banjir membuat perselisihan yang berpotensi menyebabkan perselisihan selesai dengan indah. Semua entitas merasa diposisikan secara adil. Namun, setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul dan melakukan dakwah agar masyarakatnya memeluk Islam, sebagian besar menolaknya, mendustakannya, dan bahkan melakukan upaya makar untuk mengusir dan membunuhnya.
Motif tidak mau menerima dakwah Nabi Muhammad sangat beragam. Dan masing-masing terwujud dalam figur-figur tertentu. Figur-figur itu akan tetap ada dan terus menjadi penghalang dakwah di mana pun dan kapan pun. Di antara figur yang menonjol sebagai simbol penolakan, pendustaan, dan upaya makar terhadap Nabi Muhammad adalah sebagai berikut:
Pertama, Abu Thalib.
Abu Thalib, terutama dalam literatur bertradisi Sunni, dikenal sebagai tokoh yang memberikan perlindungan kepada Nabi Muhammad, tetapi sampai akhir hayatnya tidak bersedia masuk Islam. Abu Thalib memilih sikap itu bukan karena tidak tahu bahwa semua yang disampaikan Nabi Muhammad adalah kebenaran. Bahkan Abu Thalib melihat dan mendengar sendiri keutamaan Nabi Muhammad.
Lebih baik berkoalisi dengan musuh Islam asalkan mendapatkan bagian yang mereka anggap sebagai keunggulan dibanding bersama dengan saudara seideologi sendiri tetapi pada saat yang bersamaan marwah kelompok atau organisasi kalah.
Saat Muhammad masih belia dan mengikuti perjalanan dagangnya, ia bertemu dengan–dan diberitahu oleh–seorang pendeta Nestoriyah bahwa keponakannya itu akan menjadi orang besar. Ia adalah calon utusan yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Namun, karena Abu Thalib tidak mau tertimpa oleh kecaman masyarakatnya yang masih sangat berpegang teguh kepada segala tradisi yang diterima turun-temurun dari nenek moyang, maka Abu Thalib tidak bersedia mendeklarasikan penerimaannya kepada Islam. Suatu ketika, Abu Thalib mengemukakan penyebab ia tidak mau menerima Islam.
لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ؛ يَقُولُونَ: إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ لأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ
“Sekiranya bukan karena cemoohan orang-orang Quraisy. Mereka akan mengatakan, ‘Dia mengucapkan itu karena jiwanya panik (takut)’. Pasti kuucapkan kalimat itu agar jiwamu tenang.”
Dalam konteks kehidupan sekarang, figur simbolik ini tentu saja ada dan banyak jumlahnya. Karena tidak mau menangung risiko omongan negatif banyak orang, maka mereka tidak mau menerima kebenaran. Namun, karena hari kecil mereka sesungguhnya melihat kebenaran itu, maka mereka tidak mau menghalangi, bahkan memberikan perlindungan dengan caranya sendiri.
Kedua, Abu Lahab dan isterinya, Ummu Jamil.
Abu Lahab awalnya juga menyayangi Muhammad. Saat Muhammad lahir, karena ikut merasa gembira, ia memerdekakan seorang budaknya bernama Tsuwaibah. Namun, setelah Nabi Muhammad melakukan dakwah Islam, ia dan istrinya melakukan penolakan yang sangat keras. Bahkan melakukan tindakan-tindakan yang menyakitkan sebagaimana diungkapkan dalam QS. al-Lahab.
Di antara motif penolakan keras Abu Lahab adalah ketidakharmonisannya dengan Abu Thalib. Sementara Abu Thalib adalah pelindung Nabi Muhammad. Selain itu, dia tidak ingin, ada permusuhan seluruh Arah terhadap Quraisy. Sebab, dalam pandangannya pengumuman adanya agama baru yang lahir di kalangan Quraisy berarti pengumuman perang dengan seluruh Arab selain Quraisy. Abu Lahab tidak mau ini terjadi. Dia tidak mau menanggung kerugian karena kejadian ini.
Dalam konteks saat ini, Abu Lahab tersimbolkan dalam diri orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran hanya karena penyampainya lebih dekat dengan orang yang dimusuhi. Masalah teknis mengalahkan hal yang bersifat sangat ideologis. Tentu saja, motif terdalamnya adalah kepentingan mempertahankan pengaruh dan gengsi.
Ketiga, Abu Jahal. Artinya bapak kebodohan.
Ia adalah pemimpin Bani Makhzum. Nama aslinya adalah ‘Amr bin Hisyam. Karena kejeniusannya, sampai-sampai ia menjadi anggota Dar al-Nadwah dalam usia masih sangat muda, kira-kira 25-30 tahun, padahal pada umumnya anggota lembaga ini di atas 40 tahun, ia mendapatkan julukan Abu al-Halam. Artinya adalah bapak kebijaksanaan, alias filsuf. Ia tidak mau menerima Islam karena fanatisme yang kuat kepada sukunya.
Sudah sejak lama, antara Bani Hasyim yang Nabi Muhammad lahir di dalamnya, berkompetisi berebut kehormatan dengan Bani Makhzum. Kenabian adalah kehormatan tertinggi, yang Abu Jahal sendiri sesungguhnya menginginkannya. Motif Abu Jahal ini terungkap dalam dialognya dengan al-Akhnas, pemimpin Bani Zuhrah.
“Wahai Abu al-Hakam, apakah engkau pernah melihat Muhammad berdusta?” Abu al-Hakam menjawab: “Tidak. Bahkan kami menjulukinya al-Amîn (yang terpercaya). Namun, apabila peran al-siqâyah (memberikan minuman segar secara cuma-cuma kepada jama’ah haji dan umrah), al-rifâdah (katering, perbekalan untuk makan jama’ah haji dan umrah), dan al-masyûrah (konsultansi, memberikan nasehat untuk urusan-urusan penting) sudah ada di Bani Hasyim, lalu kenabian juga ada di sana; lalu Bani Makhzum dapat apa?”.
Fanatisme macam ini bisa dengan mudah ditemukan pada tokoh-tokoh kelompok-kelompok atau organisasi yang selalu bersaing dalam peran. Lebih baik berkoalisi dengan musuh Islam asalkan mendapatkan bagian yang mereka anggap sebagai keunggulan dibanding bersama dengan saudara seideologi sendiri tetapi pada saat yang bersamaan marwah kelompok atau organisasi kalah.
Penghalang-penghalang inilah yang harus dihadapi oleh setiap pejuang missi dakwah. Karena itu, para pejuang dakwah harus mempersiapkan diri secara total, baik secara keilmuan maupun finansial. Dengan kesiapan total ini, segala halangan, termasuk di dalamnya embargo finansial tidak akan pernah bisa mematikan api dakwah yang telah dinyalakan. Wallahu a’lam bi al-shawab.





