Bila langit malam berhias dua purnama
Dalam kerlipan bintang yang saling bersua puja
Aku tetap teguh memilih sepasang punca
Yang memerangkap dewi jelita
Juga mungkin dewa asmara

Bila matahari terbit dari riam
Hingga pagi dan senja penuh ular mengiang
Aku ‘kan tetap kian memuja puncamu yang dalam tatapannya seperti telaga
Mengaramkan setiap laki-laki pencari afeksi dan hingga berpeluh darah mencari pinggiran

Dalam tatapan matamu
Tak hanya purnama, telaga, gunung dan isi semesta
Namun juga bayangan masa lampau
Stori hari ini
Pun harapan di masa depan
Hasrat menyambut akad
dan akad menanti lisan yang akan berucap

Mungkin aku ‘kan mengaji
Memandang purnama berlarut malam
dan mengamati pelangi berhari-hari
Supaya ketika merenungi mata yang indah
Aku tak mudah untuk menyerah
Kepada sua tatapan prima atau kedua

Dan bila saat nanti
Punca yang selalu aku pandang tak ku jumpai sebelum mata terlayang
Ku telah terbiasa

 

Oleh: Senior Muda

Baca Juga  Terdekap Ilahi

Santri: Bejuang untuk Negeri

Previous article

Simbol-simbol Penolak dan Penghalang Kebenaran

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Puisi