Urgensi Dakwah Islam dalam Era Digital

Kitab yang diturunkan kepada hamba terpilih, dengan izin Allah, kitab itu digunakan sebagai alat untuk membebaskan manusia dari gelapnya kebodohan menuju kebenaran mutlak tentang kepercayaan yang diibaratkan sebagai cahaya terang penuntun manusia. Itulah Al-Quran, panduan benar menuju Tuhan yang mutlak Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Kitab yang memberikan pemahaman manusia bahwa Allah-lah pemilik segala hal yang di langit dan di bumi, dan bahwa orang kafir pasti akan celaka.

Orang bisa disebut kafir jika orang tersebut sangat mencintai kehidupan dunia, meremehkan kehidupan akhirat, dan berupaya mencitrakan petunjuk (Al-Quran) sebagai sebuah kebohongan agar tidak ada yang mendengarnya bahkan mengikutinya. Orang-orang yang seperti itu diibaratkan sebagai orang-orang yang tersesat dalam jurang kebinasaan yang dalam. Refleksi orang-orang seperti itu bisa kita lihat di kolom komentar YouTube para ustadz, selalu saja ada orang-orang yang rasis, mengejek, menyalahkan dan bahkan menghina Islam tanpa bukti sumber yang kuat, hanya asumsi-asumsi belaka, sangat miris bila mana mereka tidak menggunakan internet sebagai alat pencari kebenaran, ataukah ini tugas kita sebagai umat Muslim yang hendaknya mampu membuat konten-konten yang menyadarkan mereka akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudahan dalam menyebarkan informasi tentang kebenaran Islam seharusnya semakin mudah di era digital ini. Namun, entah mengapa konten-konten Islam yang mendidik dan memiliki substansi keilmuan yang baik justru tenggelam, tertutupi oleh konten-konten yang dibuat oleh orang-orang yang termasuk dalam golongan di atas, yakni orang-orang yang cinta akan dunia, mengabaikan akhirat dan menutupi kebenaran. Kontekstualisasi orang-orang kafir bisa digambarkan dan dicocokan dalam keadaan nyata sekarang ini.

Pertama, orang-orang yang sangat cinta dan sangat menginginkan kehidupan dunia, bisa kita lihat dalam konten-konten yang dibuat dalam rangka yang katanya menghibur. Namun, menyebarkan nuansa kesombongan entah itu showoff outfit, pamer harta benda serta sumbangan-sumbangan tetapi berkedok konten. Hal itu sangat mengancam pemikiran dan perspektif anak-anak muda, seharusnya mereka diajarkan berlaku rendah hati, suka memberi, dan dermawan. Malah diperlihatkan dan dipertontonkan contoh-contoh yang buruk dan tidak mendidik.

Bacaan Lainnya

Kedua, orang-orang yang mengabaikan kehidupan akhirat, lagi-lagi bisa kita temukan mereka di dalam konten-konten Tiktok dan sejenisnya, mereka ini adalah orang-orang yang tidak punya rasa malu atas perbuatan yang tak senonoh, contoh saja para penyanyi dan penari di Tiktok, demi ketenaran dan popularitas, mereka rela mengumbar-umbar aib di depan kamera. Seakan mengabaikan bahwa semua hal yang mereka lakukan itu pasti akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Ketiga, orang-orang yang menutupi jalan kebenaran agar orang-orang awam tidak akan pernah tahu tentang kebenaran yang sebenarnya (hak). Contoh yang sekali lagi bisa kita temukan di media sosial Tiktok dan sebangsanya. Namun, bedanya sekarang, mereka yang melakukan jenis ketiga ini adalah orang-orang yang sangat berpengaruh dalam media. Layaknya pengatur dunia, mereka mampu membuat pengaruh besar dalam kontribusi pemikiran dan perspektif khalayak umum.
Pemberi peringatan dan kabar gembira bukan hanya tugas bagi seorang Nabi. Warisan dari para nabi adalah ilmu, maka sebagai muslim perlu berdakwah untuk menyebarkan agama islam sebagai penghormatan atas warisan nabi. Berdakwah tak harus keluar menuju daerah yang asing, atau bahkan sampai daerah yang kita tidak paham bahasa mereka. Substansi terpenting dalam berdakwah adalah memahamkan, cukup dengan bahasa yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang tertulis di dalam QS. Ibrahim ayat 4, bunyinya:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا بِلِسَا نِ قَوْمِهٖ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۗ فَيُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa bilisaani qoumihii liyubayyina lahum, fa yudhillullohu may yasyaaa-u wa yahdii may yasyaaa, wa huwal-‘aziizul-hakiim

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Ibrahim 14: Ayat 4)
Ambil contoh Nabi Musa. Nabi Musa adalah nabi yang diutus untuk bangsa Israel, Nabi Musa datang dengan membawa bukti-bukti dari Allah SWT untuk mengeluarkan bangsanya dari kegelapan yakni kebodohan tentang kebenaran dan hakikat Tuhan menuju cahaya keilmuan tentang hakikat Tuhan yang sejati. Nabi Musa juga diutus sebagai pemberi peringatan kepada kaumnya agar mereka benar-benar menyembah Allah.

“Ingatlah nikmat Allah yang diberikan atas kalian wahai kaumku, ketika dia menyelamatkan kalian dari bala tentara Fir’aun yang menyiksa kalian dengan siksaan yang sangat pedih serta menyembelih anak laki-laki kalian dan membiarkan hidup anak-anak perempuan kalian, itulah bentuk cobaan besar dari Tuhanmu” Setidaknya seperti itu Nabi Musa berkata kepada kaumnya untuk berusaha mengingatkan kaumnya akan kebesaran Allah.

Berdasarkan ayat dan contoh di atas, maka muslim di Indonesia setidaknya tidak takut berdakwah di negeri sendiri, karena hanya menggunakan bahasanya sendiri. Harapannya dengan menggunakan bahasa sendiri, muslim paham atas maksud dari perkataannya dan perkataan lawan bicara, sehingga mampu memahamkan dan meluruskan perspektif tentang kebenaran Al-Quran dan Islam. Sekarang waktunya umat muslim bangkit dengan rasa tanggung jawab tinggi mengemban semangat berdakwah lewat media apapun. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Ada satu perumpamaan yang cocok dalam hal ini yakni lakukanlah sekarang, maka kau hanya perlu berjalan, lakukan besok, maka kau perlu berlari untuk menyelesaikannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *