Banyak orang berasumsi bahwa dunia politik itu tidak terlalu penting. Apalagi pandangan pemikiran kebanyakan orang di kampung terkait politik. Anggapan mereka tentang dunia politik hampir selalu negatif. Mereka berpikir kalau politik itu kotor. Bahkan, terkadang ada yang sampai beranggapan kalau politik itu kejam. Seburuk itukah politik di pikiran mereka? Padahal, tidak selamanya politik itu selalu negatif, sebagaimana yang mereka asumsikan.
Mereka berpikir seperti itu karena pengalaman mereka melihat banyak terjadinya praktek politik hitam yang dilakukan oleh beberapa orang yang kurang profesional dan bertanggungjawab dalam berkecimpung di dunia politik. Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana sikap para penguasa untuk memperoleh kekuasaan. Mereka rela melakukan apa saja dan menghalalkan segala cara demi memperoleh jabatan atau kekuasaan. Misal, saat detik-detik menjelang akan diadakannya sebuah pemilu, berbagai tindakan kriminal dan kasus suap-menyuap yang didalangi oleh oknum-oknum yang ingin berkuasa hampir selalu terjadi dan mendadak booming menjadi bahan pembicaraan publik. Bukan hanya di awal saja, tetapi juga setelah pemilu itu usai. Berbagai bentrok antar warga yang berbeda kubu pasti tidak pernah absen dari catatan sejarah. Entah itu, karena perjudian atau memang ada pihak-pihak yang sengaja membiayai mereka untuk melakukan aksi itu.
Partisipasi politik bebas terbuka bagi siapapun. Namun, belum banyak partisipan, khususnya dari kalangan generasi muda yang berminat terjun dalam dunia politik. Toh, kalaupun ada untuk masuk ke dalam sebuah partai politik juga sulit. Sesuai realita pada umumnya, kebanyakan yang berkecimpung dalam partai politik hanyalah orang-orang yang memiliki relasi dalam partai tersebut. Terkadang, mereka yang terjun ke dunia politik dan masuk dalam sebuah partai politik bukan karena keinginan sendiri, tetapi bisa jadi karena rekomendasi. Itu sama saja menunjukkan kalau dalam budaya partai politik di negara kita saat ini terdapat adanya sebuah nepotisme.
Kita ini hidup di Indonesia yang hampir semua masyarakatnya mayoritas beragama Islam. Sehingga, tidak heran jika di seluruh bagian negara Indonesia terdapat banyak pondok pesantren yang di dalamnya memiliki ribuan santri. Seharusnya, dengan background seperti ini, kita bisa memfungsikan peran santri-santri untuk terjun mengisi partai-partai politik sebagai sarana untuk berdakwah. Mengapa harus peran santri? Karena, santri dipandang sebagai intelektual muslim yang mengetahui dan mendalami tentang ajaran agama. Tujuannya dengan adanya keterlibatan para santri dalam partai politik umum bisa mengislamkan pemikiran partai politik tersebut.
Tapi, kenapa dalam partai-partai politik umum, tokoh-tokoh politisi muslim masih belum bisa mendominasi? Kenyataan yang ada di negara kita masih banyak terdapat partai yang di dalamnya minoritas muslim. Itu menunjukkan bahwa harus ada gerakan yang perlu dilakukan oleh para intelektual muslim khususnya dari kalangan santri untuk terlibat dalam partai politik.
Menurut kacamata penulis bahwa belajar, menekuni, serta terjun ke dunia politik itu perlu. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini. Mungkin saja, kalau masih ada orang awam yang beranggapan buruk terhadap dunia politik itu wajar, karena kurangnya pemahaman mereka terhadap politik. Padahal, dalam praktek kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah lepas dari unsur politik. Oleh karena itu, paradigma kurang tepat mengenai politik oleh masyarakat kebanyakan perlu diluruskan.
Langkah yang perlu dilakukan untuk rekonstruksi pemikiran masyarakat yang kaku terkait politik adalah dengan menjadikan partai-partai politik sebagai wadah untuk berdakwah dengan menerlibatkan santri-santri sebagai intelektual muslim agar masuk dalam partai-partai politik, lebih khususnya dalam partai-partai politik umum yang kuantitas anggota muslimnya masih minoritas. Jangan sampai partai politik dikendalikan oleh orang-orang yang kurang cakap dalam mewarnai dunia politik dan tidak memiliki pemahaman tentang ajaran-ajaran agama Islam secara benar.
Perkaderan kepada para santri terkait politik memang perlu diberikan. Banyak partisipan generasi muda dari kalangan santri yang bisa dikaderisasi untuk terjun dalam dunia politik sekaligus berdakwah. Dengan terlibatnya para santri yang berkecimpung di dalam partai-partai politik akan dapat meminimalisir terjadinya tindakan-tindakan politik yang kurang baik. Karena adanya penanaman nilai-nilai keagamaan pada diri mereka. Sehingga, mereka tidak sewenang-wenang dalam berpolitik. Mereka juga tidak akan tega/tegel untuk menghalalkan segala cara dalam mendapatkan kekuasaan, karena di dalam diri mereka (para santri) sudah dibekali ilmu agama.
Kader-kader politik di kalangan umat harus ditumbuhkan. Hal ini, bisa diusahakan dengan memainkan peran para santri yang bisa memberikan kemajuan untuk negeri ini. Mereka harus selalu diberi bimbingan agar bisa menjadi kader-kader politik yang berakidah, tangguh, dan menguasai persoalan-persoalan yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Oleh karena itu, mari para santri siapkan diri kalian untuk dikader dan berdakwah di dunia politik.
Wallahua’lam bi al-shawwab.





