Sore hari yang indah. Aku yang duduk di kursi di ujung taman mampu melihat hampir semua pemandangan. Pohon mangga besar menaungiku sedari tadi dari terik matahri siang dan hangat matahari sore. Di langit yang kini berubah jingga kebiru-biruan, aku dapat melihat kawanan burung berformasi menuju Sang Surya berada. Ia masih tampak agung di fuk barat sana, menuju tempat lain. Purnama telah pula tampak di timur, bersiap menggantikan.
Sejujurnya aku tak tahu apa yang kulakukan di taman ini. Aku hanya tahu seorang lelaki yang berhasil menarik perhatianku membuat janji temu di sana. Diriku hanya mengiyakan kala itu sambil menatap penasaran kepadanya. Kala itu diriku berpikir alasan Azkha, seseorang yang ku bicarakan kini mengapa ia mengajakku bertemu.
Dan lihatlah aku yang hanya mampu melihat orang-orang berlalu-lalang di taman ini. Sedang aku sendirian di pojok, hanya ditemani sebotol air mineral. Mengenaskan, bukan?
Kutundukan kepala, melihat pergelangan tanganku. Ada jam di sana, hadiah ulang tahun dari Azkha. Sudah pukul 17.59 WIB, huh? Kulihat sekeliling dan terdengar nyata walau samar, suara adzan magrib berkumandang dari masjid terdekat. Mendengar seruan itu aku pun segera beranjak, bermaksud menunaikan tugasku.
Baru setengah jalan dari taman, mataku menangkap bayangan seseorang. Ialah Azhka, seseorang yang sedari tadi tak kulihat batang hidungnya. Kulihat ia berlari kencang menuju ke arahku. Aku yang melihatnya hanya diam di tempat, tak berbuat apa-apa. Aku ingin sedikit membalas perbuatannya.
Azkha telah berhasil mencapaiku. Dapat kulihat jelas bulir-bulir keringat di keningnya yang mulus. Ia masih tertunduk memegang lututnya, sepertinya kelelahan? Aku mundur beberapa langkah karena dirinya yang terlalu dekat saat berhenti tadi.
Aku mengisyaratkan kepada Azkha untuk jangan berbicara terlebih dahulu ketika kulihat ia mulai mengangkat kepalanya bersiap untuk bicara. Lebih baik kami bergegas menuju masjid sebelum telat shalat berjamaah, bukan?
Aku berjalan mendahuluinya. Sebelum itu, aku dapat melihat wajah terkejut Azkha. Rasakan itu! Aku tertawa kecil dalam hati. Tapi menyadari waktu yang terus berjalan, aku setengah berlari menuju masjid. Tak kutengok walau sedikit ke belakang. Kelakuan Azkha hari ini mampu membuatku kesal setengah hati.
***
Shalat berjamaah telah selesai dilakukan meski aku harus menjadi makmum masbuk. Kulipat mukena milikku yang senantiasa kubawa di dalam tas, sandangku jika berniat pergi terlalu lama dari rumah. Aku usai melaksanakan shalat ba’diyah maghrib sebelum benar-benar pergi.
Melewati undakan yang bertuliskan “BATAS SUCI” dapat kulihat ia yang juga keluar dari pintu keluar khusus laki-laki di seberang sana. Memiliki tinggi di atas rata-rata orang Indonesia membuatku mampu melihat jelas sosok itu. Hhh … bagaimana mungkin aku bisa tertarik dengan orang seperti dirinya?
Jika kalian kebingungan dengan sosok Azkha ini, maka izinkan aku untuk memperkenalkan dirinya. Ia bernama lengkap Azkha Zaim, akrabnya dipanggil Azkha. Ia anak tunggal dari seorang ayah tunggal yang kaya raya. Ia pribadi yang manis dan hangat.
Azkha memiliki segudang prestasi yang mengagumkan, namun hal tersebut tak pernah membuatnya sombong. Ia tak peduli akan hal itu karena baginya yang penting adalah ayahnya tak marah kepadanya. Ia hanya tak ingin ayah yang hangat meski sibuk berubah karena kelakuannya. Ia juga memiliki begitu banyak kenalan.
Dan di sinilah aku menjadi temannya. Meski jujur aku awalnya risih mendapati Azkha yang selalu mengikutiku kemana-mana sejak pertengahan semester. Sekaligus juga khawatir dengan perlakuan yang Azkha berikan padaku akan mengundang orang-orang kampus untuk berbicara yang tidak-tidak. Meski di semester terakhir seperti ini aku sudah jarang datang ke kampus.
Pada pukul seperti ini seharusnya aku hanya istirahat di rumah sembari membaca buku yang sudah menjadi makananku sehari-hari. Namun, aku malah terjebak di taman untuk menunggu Azkha. Dan sepertinya aku juga harus pulang kemalaman, ya?
Ku hampiri ia yang terlihat kebingungan mencariku. Sengajaku ambil langkah cepat-cepat agar urusan ini cepat selesai pula. Ia awalnya tampak terkejut melihatku yang tiba-tiba muncul di hadapannya, namun segera dapat mengendalikan diri.
Ia mempersilahkan aku duduk di kursi sebuah kafe. Ya, kami sedari tadi telah berada di sebuah kafe yang tak terlalu jauh dari lokasi kami sebelumnya. Kafe itu sepertinya laris manis melihat banyaknya pengunjung di sana. Bau khas kopi pun segera menyambut begitu kami masuk.
“Assalamu’alaikum, Teh Lea. Maaf saya telah membuat teteh menunggu lama di taman. Saya seharusnya nelpon dulu ke teteh kalau saya akan datang terlambat,” ucapnya pelan namun masih dapat kudengar.
Aku hanya melihatnya datar. Membalas salamnya dalam hati. Namun tingkah lakunya mampu membuatku memperhatikannya lebih.
Hei, ke mana Azkha yang kukenal. Yang biasanya selalu ingin tampak seperti pahlawan di hadapanku? Apa yang terjadi? Tapi sisi hatiku yang lain berucap, aku sudah menunggu kamu selama satu jam lebih! Dasar laki-laki yang tak bertanggung jawab! Bagaimana mungkin aku akan membuatmu begitu mudah mengucapkan maaf!?
Ia merapikan anak rambutnya yang jatuh ke dahi dan melanjutkan perkataannya. “Alasan saya membuat janji temu dengan Teteh adalah saya ingin memberikan penjelasan atas sikap saya beberapa taahhun terakhir ini terhadap Teteh,” ucapnya terus terang. Sebenarnya aku sudah bisa menebak-nebak berbagai macam pembicaraan yang akan ia ambil. Namun tak kusangka salah satunya menjadi kenyataan.
Sikapku yang awalnya terkesan dingin sedikit berubah. Jantungku berdegup kencang. Apakah itu sama seperti yang kupikirkan beberapa bulan terakhir? Aku membetulkan dudukku dan kerudungku, berusaha mendengar dengan baik.
“Alasan yang sebenarnya adalah bahwa sebenarnya saya tertarik dengan adik Teteh yang satu jurusan dengan saya,” ucapnya tegas namun entah mengapa ia menundukan kepalanya.
Namun meski diucapkannya dengan lembut tapi tegas, ucapapanya itu pula bagai badai di lautan untuk hatiku yang biasanya tenang. Jadi seperti ini ya, kenyataannya? Aku memasang senyum, senyum yang jarang kuperlihatkan pada orang-orang. Kupasang itu karena aku tahu jika tidak, bisa-bisa aku meneteskan air mata. Huh, lemah sekali diriku ini kan?
Ia mengangkat kepalanya ketika tak mendapatkan respon apa-apa dariku. “Teteh Lea, boleh saya lanjutkan?” izinnya. Aku menundukan kepala, “Lanjutkan!” suruhku.
“Saya suka, tapi saya tidak cinta kepada adik Teteh. Sebenarnya kami berdua sudah kenal sejak kelas 1 SMA, hanya saja waktu itu saya belum berani bilang karena belum punya apa-apa. Anggap saja saya ini telah mengalami love at first sight sama adik Teteh.”
“Lalu, kamu mau apa dari saya? Minta izin buat ngelamar?” ucapku, to the point. Aku mengangkat kepalaku lagi, menatapnya tegar di mata.
Azkha gelagapan. Buru-buru ia tundukan pandangan. Ia tak menyangka aku akan langsung dapat menebak maksudnya. Menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. “Iya, Teh. Saya ingin melamar adik Teteh. Saya mohon ke Teteh agar memperbolehkan saya melakukannya,” ucapnya, mengangkat kepala dan membalas tatapanku. Meski tadi ia terlihat tidak siap mengatakannya langsung, aku terkesan dengan ketegasannya dalam berucap.
Aku berdehem keras, berusaha mengusir suasana hatiku yang tengah mendung. Memperbaiki posisi tanganku di atas meja, “Meski ayah kamu kaya, bukan berarti itu benar-benar uang milikmu, bukan? Memangnya kamu yakin uang itu akan benar-benar dialih kuasakan pada kamu? Kalau tidak, sekarang kamu mau lamar adik saya dengan segi ekonomi kamu yang terlihat tidak pasti ini? Kamu mau kasih apa untuk adik saya setelah menikah?”
Ia sepertinya telah siap dengan pertanyaanku. Segera ia mengambil hp-nya yang ada di saku celana. Diperlihatkannya isi di layar itu padaku. “Perihal itu sudah saya rencanakan matang-matang sejak enam tahun lalu. Saya juga tentu tidak ingin membawa Alia ke gerbang kemiskinan. Lagipun saya akan menunggu sampai kami berdua lulus S2, baru menikahinya. Sekarang saya hanya ingin melamar terlebih dahulu, supaya calonnya tidak ke mana-mana.”
Aku menghela napas panjang. Ini keputusan yang sulit. Meski aku yakin Ayah dan Ibu tak akan menentang hal ini, tapi tidak dengan keluarga dari Ayah. Keluarga Ayah yang orang Jawa tulen tidak mungkin membolehkan karena masih menganggap bahwa seorang adik tidaklah sopan menikah melangkahi kakaknya.
“Azkha, kamu yakin siap melamar adik saya? Karena jika kamu benar-benar siap, maka ayah mohon ke kamu untuk datang ke rumah. Be gantle, man! Bicara sama ayah saya untuk melamar Alia. Jangan ke saya! Kamu laki-laki, kan?”Aku menatapnya begitu serius ketika berbicara seperti itu. Persetan dengan perasaanku. Jika aku memberikan jawaban yang salah, maka masa depan adik ku-lah yang terancam. Entah darimana aku mendapatkan keberanianku itu, namun sepertinya memang ketika menyangkut Alia aku bisa melakukan segalanya.
Azkha tertegun melihatku seperti itu. “Teh, berarti Teteh ini setuju sama saya? Beneran, Teh?”
Kuanggukan kepala sebagai jawaban semvari menyilangkan tangan di dada, ersender pada kursi. “Kamu mau saya jadi backing kamu nanti, kan? Kalau iya, selamat kamu berhasil membuat saya berada di pihakmu.”
“Tapi sebaiknya sifat tyerlambat kamu itu dihilangkan karena keluarga saya tidak akan suka. Kamu juga sebaiknya menyiapkan berbagai hal dari sekarang, karena bagaimanpun saya selaku kakaknya Alia belum menikah dan belum juga tertarik untuk menikah sampai saya lulus S2. Kamu harus menyiapkan banyak hal untuk acara langkahan dalam adat Jawa. Karena untuk Alia sudah dipastikan akan menggunakan adat Jawa ketika menikah. Kamu tahu acara itu, kan?”
Azkha menganggukan kepalanya mantap. “Iya, Teh. Saya tahu. Tempo hari, saya sudah mencari hal tersebut sebelumnya. ”
“Bagus kalau begitu. Berarti deal, ya? Saya tunggu kamu di rumah bersama keluarga. Jangan bawa barang banyak-banyak. Kamu tahu, ayah saya lebih suka martabak telur daripada martabak manis, tapi ibu saya lebih suka martabak manis dengan isi wijen dan keju,” ucapku sebagai kalimat penutup dari pertemuan ini.
Aku berdiri dengan Azkha yang mengikuti. Kami berjalan berdua sampai di depan mobil Azkha. Ia membantuku mencari taksi dan memberitahukan pak sopir alamat rumahku. Idaman, bukan? Tapi sayang, pesona seorang gadis cantik nan manis bernama Alia Eshal telah mengambil alih hati dan pikiran seorang nya.
Ketika taksi telah pergi, aku masih dapat melihatnya dari kaca belakang melambaikan tangan padaku sebelum menghilang masuk ke dalam mobil. Menghembuskan napas kasar, ku taruh tas sandangku di kursi sebelah. Mengambil botol berisi air mineral yang selalu kubawa dan meminumnya hingga tandas.
Tes… tes… tes…
Akhirnya air mata yang kutahan jatuh ke dalam pangkuan. Sebelumnya aku tak menyadari bahwa ternyata aku sudah jatuh terlalu dalam pada pesonanya. Sebelumnya aku juga tak menyadari akan sikap bodoamat-ku tadi akan menyebabkan hati ini terasa sakit. Saat itu ini tak terasa karena pikiranku yang tertuju kepada Alia.
Kutangkupan tanganku ke wajah, mencoba menahan tetesan air mata lainnya yang ku yakini akan kembali jatuh. Menghembuskan napas kasar. Ku coba tenangkan diriku yang kelewat batas padahal aku sedang di luar.
Lihat, Pak Sopir ternyata memperhatikan lewat kaca spion dan memandang khawatir padaku. Aku tertegun melihatnya kare menyadari bahwa sebenarnya masih banyak orang baik di luar sana yang peduli. Ku tunjukan senyuman terbaikku pada pak sopir itu, sebagai pertanda bahwa aku baik-baik saja.
Tertawa kecil, ku pandang jalanan kota yang masih ramai di jam malam seperti ini. Sepertinya perpisahan ini tidak buruk juga. Bukankah dengan ini artinya Allah SWT masih sayang kepadaku dengan menunjukan tujuan asli dari perilaku Azkha selama ini? Aku seharusnya bersyukur karena itu artinya Allah SWT masih memiliki rencana-rencananya yang lebih baik bagiku, bukan?
Memang benar malam ini menjadi malam yang pedih, karena aku langsung dihempas tatkala berharap. Namun memandang botol yang telah tandas isinya membuatku tersenyum. Tak apalah. Biar ini menjadi pelajaran untukku agar tak terlalu cepat jatuh ke dalam pesona pria lain. Tapi yang pasti, malam ini aku begitu senang karena akhirnya kepastian dari Sang Pencipta telah datang. Sebaiknya ketika sampai rumah aku segera mempersembahkan sujudku kepada-Nya. Aku juga tak akan melupakan pengalaman ini.
Oleh: Putri Mahira S., Siswa Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Rembang, Wakil Ketua Palang Merah Remaja (PMR) Planet Nufo








Senang membaca cerpen terbaru Mahira. Kalau boleh sebelum di publish mohon dicek dulu tanda baca dan typonya. Juga temanya boleh selain romantisme? Ditunggu ya karya cerpen terbaru berikutnya. 🙂