Kala itu, aku terdiam. Menanggapi sebuah keadaan. Aku tersadarkan oleh kenyataan. Saat sebuah kata ‘kenyamanan’ hanya sebuah teori yang berpadu dengan perasaan. Kala itu juga, aku menunduk. Lebih memilih untuk menengadahkan kedua tangan pada Sang Pencipta. Butiran mata yang bahkan belum bisa kutampakkan menjadi salah satu hal yang saat ini kurasakan. Kala aku sedang seperti ini, ia bisa hadir dan bisa pergi. Tak ada yang bisa kutahan karena ini tentang pilihan hidup masing-masing. Tak ada yang bisa kupertahankan selain genggaman sebuah persahabatan. Tak ada yang bisa diharapkan lagi selain sebuh pernyataan. Merelakan, bukan tujuan utamaku. Aku tetap ingin mempertahankan genggaman persahabatan ini.
Kala itu, aku terdiam. Bisa apakah aku ini? Hai!! Ini semua takdir tuhan. Aku tak berani melawan semua itu. Hanya ada dua kata yang saat ini menjadi akalan dalam benak “Bertahan” atau“Pergi”. Tentang luka yang mungkin akan menjadi luka dalam hati. Tapi, mungkin ini jalannya. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kupertahankan? Aku tak berhak melarangnya. Namun, seribu kata harap yang tersisa. Berharap ia tak pergi. Berharap ia tak menghilang dari hadapku. Berharap ia tak akan pernah mengucapkan selamat tinggal. Jujur…aku belum siap untuk merasakan semua ini. Aku belum siap menahan sebuah kerinduan. Hanya karena seorang sahabat yang kuharap tak akan pernah pergi dari diri ini.
***
Dia bernama Danis. Sebangku SMP denganku, lebih tepatnya kelas 9. Awal kali aku kenal, saat aku kelas 7 SMP, tepat di pondok Planet Kita ini. Pondok yang mengenalkan aku cara berwirausaha dan belajar keras serta cerdas. Tak hanya itu, di pondok ini aku juga didoktrin menjdi seorang kader pemimpin serta cara bergaul dengan baik dan benar. Santri laki-laki dan perempuan di pondok ini memang dicampur. Namun, tak pernah luput dengan kata untuk saling menjaga satu sama lain. Lebih tepatnya, aku sangat menyukai pondok ini. Bahkan aku tetap mempunyai impian SMA aku akan lanjut di pondok ini.
Danis. Seorang santri murid laki-laki dengan tinggi kisaran 159 cm, berkumis tipis, berambut seperti artis korea, berkulit coklat, dengan badan yang gagah perkasa, dan lahir pada tanggal 31 Desember 2007. Ia adalah demisioner ketua OSIS periode 2021/2022. Sedangkan aku adalah wakil OSIS saat periode itu. Awalnya kami hanyalah teman sekerja dan sevisi misi. Kala itu, kami selalu membersamai kerja sebagai seorang pemimpin. Banyak hal yang aku temui saat itu juga. Banyak hal baru yang belum bisa kuceritakan panjang lebar dengan sebuah lisan. Aku hanya ingin ini bisa terkenang dalam perjalanan hidupku. Hanya itu.
Kala itu, langit sore sedang membersamaiku. Semburat cahaya semesta yang kian detik melebur di nanarku. Jemari kanan dan kiriku masih menekan-nekan keyboard, ditambah dengan keaestetican sebuah alat komunikasi canggih yang bisa kupergunakan untuk menulis. Yeah, computer. Tepat di dalam ruangan TU aku mengetik sesuatu. Hatiku terus menggerutu. Namun, aku hanya bisa memaparkannya melalui cara ini. Lagu ‘Rumah Singgah’ menjadi teman galauku saat menulis. Jam menunjukkan pukul 15.46 WIB.
Entahlah. Mengapa tiba-tiba aku memikirkan percakapan tadi pagi saat makan bersama Danis dan bebebrapa temanku di Mbak Hid (warung langganan) , yang bahkan sampai saat ini masih terngiang?
“Kamu bulan Desember ini mau pulang, Dan? Emang mau ngapain? Untuk apa? Ih jangan manja gitu deh. Nanti kamu kangen aku loh…wkwkwk,” tanyaku pada Danis.
“Emang kenapa kalo aku mau pulang?… Mau ikut gak?”
“Ihh jangan gitu… nanti aku kesepian gimana??? Kamu SMA lanjut di sini, kan?”
“Nggak, mungkin. Kalo kamu?”
“Ih… di sini aja, Dan!!. Temenin aku sampai sukses. Kamu tega ninggalin sahabat sendirian. Iyha gak papa, sih” ucapku sembari meneteskan air mata.
“Ih.. jangan nangis! Suatu saat nanti, kalo takdir mempertemukan kita lagi, pasti kita bakal dipertemukan lagi, kok. Jangan sedih donk.”
“Iyha, kalo kamu nggak lupa sama aku. Yha kalo kamu lupa?”
“Nggak bakal, kok.”
“Ih… jangan gitu…”
“kenapa sih dia gak pernah negrtiin perasaanku” batinku,
Lamunanku terhenti karena seorang Ustadz di pondokku yang memanggil namaku. Nama beliau adalah Ustadz Irsad. Ustadz terasik selama aku di sini. Tak hanya itu, beliau juga sangat disegani dan disayangi banyak santri murid di sini. Mungkin karena ia terlalu freandly saat mengajar, asik, atau mungkin banyak hal lain dari sifat beliau yang tak kuketahui.
“Mbak Aisyah?”
“Iya, Ust. Ada apa, yha?”
“Mbak Aisyah kenapa?” Tanya Ustadz Irsad padaku
“Gak papa kok, Ust. Ini lagi ngetik ajha”
“Cerita saja… Anggap Ustadz sebagai teman ceritamu”
Aku masih berfikir dua kali. Antara ingin mencurahkan segala keluh kesah yang ada dalam hati. Atau mungkin diam menahan apa yang sedang kurasakan saat ini. Memilih mana baiknya untuk diriku ini. Dan akhirnya…dengan satu kali hembusan nafas dan mulut mulai bercengkerama pada sang Ustadz.
“Ust, rasanya gimana sih kalo semisal kita ditinggal sahabat?”
“Ohhh karena sahabat kah, hingga kamu melamun seperti ini?”
Aku mengangguk, sebagai pertanda ‘ya’
“emang sahabat mbak Aisyah siapa? Di sini kah?”
“Iyha, Ust. Tapi, kalo namanya tidak bisa Aisyah sebutkan. Gak papa kan, Ust?”
“iyha, gak papa kok. Gini Mbak Aisyah, dari hadits riwayat Al-Bukhori dan Muslim menyatakan bahwa “Perumpamaan teman yang baik dan yang jahat adalah seperti orang yang membawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Yang membawa minyak wangi, boleh jadi dia memberimu, atau kamu membeli daripadanya, atau paling tidak kamu mendapatkan harum semerbak daripadanya. Adapun tukang pandai besi, boleh jadi bajumu terbakar karenanya, atau kamu mendapatkan bau busuk daripadanya”.
“Maksudnya, Ust?”
“Maksudnya adalah persahabatan bisa dan akan membawa kita menuju surga. Ingat, jangan sampai salah dalam memilih sahabat, yha. Iyha, jika pergi dengan niat yang baik adalah tujuan baik sahabatmu, maka dukung dia. No problem, kan?”
“iya juga sih, Ust. Dia juga sempat bilang gini Ust “Suatu saat nanti, kalo takdir mempertemukan kita lagi, pasti kita bakal dipertemukan lagi, kok. Jangan sedih donk”. Emang bener yha, Ust?”
“Iyakkkk bener banget tuh. And next time, kalo waktunnya bakal ketemu yha pasti akan dipertemukan, kok. Ada saatnya berjuang bersama dengan seorang sahabat. Ada saatnya juga berpisah, Mbak Aisyah. Tidak mungkin jika selamanya akan bersama. Pasti kalian mempunyai arah dan tujuan hidup yang berbeda-beda, kan?”
Hmm…bener juga yha, batinku
“Gitu, Mbak PAN-1, alias Putri Aisyah Nurul Iman…”
“Gitu, Yha Ust. Tapi kalo dia lupa sama saya, Ust?”
“Sahabat yang sejati adalah sahabat yang selalu membersamai setiap perjalanan dan langkahmu. Apapun dan dimanapun keadaannya, Ok? Jika dia memang sahabat sejatimu, maka ia akan selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik untukmu, saat suka maupun duka. Paham?”
Hatiku sudah mereda karena nasihat dari sang Ustadz the bestku.
“Paham sangat, Ust” jawabku singkat, padat, dan jelas, sembari hormat gagah pada sang beliau.
“Ehh iyaaa…. Jangan lupa controlling sore piket pondoknya yha. Jangan galau melulu.”
“Iya, Ust. Siapppppp,” jawabku dengan sok gagah, meski sebenarnya aku masih sedikit terpukul dengan kabar sahabatku yang kudengar dia tak akan menjatkan SMA nya di pondok ini.
“Ustadz pergi dulu, yha. Semangat Mbak PAN…”
Aku mengangguk.
Yeah, dan saat ini, aku sedang menjabat sebagai divisi kebersihan. Kewajibanku adalah mengontrol kebersihan di pondok ini. Sedangkan Ustad Irsad adalah Pembina kebersihanku. Begitulah, kami semua saling mengingatkan. Sudah saatnya, menghentikan sejenak jeari-jemariku nan comel ini.
***
Sepanjang perjalanan, aku melihat hehijauan yang dengan jelas dapat kupandangi. Indah, sangat indah. Ternyata, semesta masih menyayangiku. Semesta masih menginginkan aku agar tetap kuat dalam menjalankan alur hidup yang penuh dengan lika-liku. Mulai dari senang, susah, bahagia, sedih, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, aku bersyukur karena aku hidup di lingkungan pondok yang seperti ini. Masih diberi kesempatan Sang Pencipta untuk berbenah melalui nasihat-nasihat baik dari arahan sang guru di sini, orang tua kedua ku di saat aku hidup jauh dari umi abiku.
Memang benar bahwa sahabat yang terbaik adalah ketika ia mampu membawamu ke jalan yang lebih baik lagi. Menjadikanmu pribadi yang lebih baik lagi. Bukan malah mendorongmu ke jurang, atau bahkan menyesatkan arah baikmu. Ingat yha.
Teruntuk: Sahabatku
Putri Aisyah Nurul Iman (PAN-1), Sanja Planet Nufo kelas 9, Wakil Ketua OSIS 2021/2022, Ketua bidang kebersihan OSIS 2022/2023, Sekretaris Umum PR IPM Planet Nufo, Pimpinan Redaksi Majalah Pers Siswa SMP Planet Nufo







