Pemahaman Salah tentang Jahiliyah

Jaahiliyyah merupakan bentuk mashdar shina’iy, artinya sama dengan kata mashdar jahl, berarti bodoh. Namun, jika zaman jahiliyah dimaknai dengan zaman kebodohan dengan definisi saat ini dan di sini, itu merupakan penyebab kekeliruan perspektif yang sangat fatal. Kesalahan tersebut bisa dibuktikan secara historis dengan runtutan yang sesungguhnya sangat sederhana, tetapi sangat jelas.

Bahkan sesungguhnya pada zaman Nabi telah diangkat sebagai utusan Allah pun, terdapat orang yang sangat terkenal dalam sejarah Islam sangat memusuhi Nabi Muhammad, ajarannya, dan para sahabat yang mengikutinya, dijuluki Abu Jahal. Arti literalnya adalah Bapak Kebodohan.

Namun, apakah itu karena Abu Jahal adalah orang yang bodoh sebagaimana kata itu kita pahami? Ternyata tidak. Bahkan, Abu Jahal sesungguhnya adalah orang yang kecerdasannya paling tinggi. Dia adalah pemuka Bani Makhzum. Sejak masih muda, kecerdasannya sudah nampak sangat menonjol. Nama aslinya adalah ‘Amr bin Hisyam. Pada usia kira-kira 25 tahun, sebagian penulis sejarah mengutip pendapat tentangnya dengan ungkapan “kumisnya belum tumbuh”, sudah menjadi anggota Darun Nadwah, sebuah majelis para tetua untuk membahas berbagai persoalan bersama. Itu karena dia dianggap selalu mampu menunjukkan pikiran-pikiran cemerlang. Dan karena itulah, dia dijuluki Abu al-Hakam, artinya Bapak Kebijaksanaan. Kalau kata kebijaksanaan dipadankan dengan makna sofia dalam filsafat yang berarti cinta kebijaksanaan, maka Abu al-Hakam bisa diartikan dengan filsuf.

Lalau kenapa orang yang kecerdasannya level filsuf justru dijuluki Rasulullah dengan Bapak Kebodohan? Ada latar belakangnya, di antaranya yang paling utama adalah fanatisme dan iri dengkinya kepada kelompok lain sehingga membuatnya tidak mau menerima kebenaran yang di luar diri dan kelompoknya. Sikap permusuhannya terhadap Islam, telah membuatnya juga dikenal sebagai asad al-ahlaf (singa yang telah bersumpah, maksudnya dia termasuk tokoh hebat yang bersumpah untuk menentang Islam).

Bacaan Lainnya

Di antara yang menggambarkan fanatisme adalah dialog antara dia dengan al-Akhnas dari Bani Zuhrah. Suatu ketika al-Akhnas bertanya: “Apakah engkau pernah melihat Muhammad berdusta?”. Abu Jahal menjawab: “Tidak sama sekali. Bahkan kami dulu menjulukinya al-Amiin (yang sangat dipercaya). Namun, jika peran siqaayah (memberi minum kepada jama’ah haji dan umrah), rifaadah (katering, untuk perbekalan mereka), kiswah (selubung/kelambu Ka’bah), dan masyurah (konsultasi) sudah ada di Bani Hasyim, lalu kenabian juga ada pada mereka, lantas Bani Makhzuum dapat apa?”.

Peran-peran yang disebutkan Abu Jahal itu adalah peran-peran yang bisa melahirkan kekagumam. Di antara nilai lebih masyarakat Arab pra Islam adalah kedermawanan yang luar biasa. Orang yang dermawan dianggap sebagai pribadi sangat mulia dan bisa dipopulerkan oleh para penyair di dalam syair-syair yang mereka gubah dan bacakan di tempat-tempat keramaian. Kata “hasyim” pada Bani Hasyim, dikenal mulia karena kedermawanan itu. Hasyim berarti meremukkan roti yang dibawa dari Syam dan kemudian diberi kuah dan diberikan kepada para jama’ah haji dan umrah. Kedermawanan ini, menunjukkan kekayaan, sehingga dihormati banyak orang, dan nama sang dermawan melampung ke segala penjuru.

Nah, jawaban Abu Jahal itu menunjukkan tentang apa sesungguhnya yang melatarbelakangi penolakannya terhadap kerasulan Nabi Muhammad. Tidak lain dan tidak bukan hanyalah ketakutan kalah dalam akumulasi gengsi dan pengaruh yang berimplikasi kepada supremasi kelompok. Pengakuan kepada kerasulan Muhammad, dalam pandangan Abu Jahal akan membuat Bani Hasyim menjadi semakin dihormati.

Jika kasus Abu Jahal dan latar belakangnya tersebut kita kontekstualisasikan pada zaman kini dan di sini, maka bisa ditemukan banyak Abu Jahal. Sekali lagi, mereka bukanlah orang-orang yang bodoh. Justru mereka adalah orang-orang yang secara akademik sering mendapatkan pengakuan dan bahkan penghargaan. Mereka bisa jadi adalah pemimpin-pemimpin kelompok besar yang sangat disegani dan dihormati. Namun, karena fanatisme yang berlebihan, mereka menjadi membabibuta. Mereka tidak peduli, sikap fanatisme itu telah menyebabkan umat terbelah, dan negara-bangsa yang dulu diperjuangkan oleh para pendiri negara dengan banjir keringat, deraian air mata, dan bahkan aliran darah, kembali terjajah dengan akibat yang sesungguhnya lebih parah. Yang mereka pikirkan adalah keuntungan kelompok dan bahkan pribadi belaka. Sikap itulah yang membuat kebenaran tidak terlihat, ilmu pengetahuan menjadi tidak berarti. Jika sikap sudah demikian, apalagi sebutannya jika bukan jahiliyah? Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *