Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Pesantren Tahfidh al-Qur’an Darun Nashihah MONASH INSTITUTE, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.

Dalam beberapa tahun terakhir, animo para orang tua untuk mengarahkan anak mereka menghafalkan al-Qur’an makin besar. Secara umum, nampaknya, itu didorong oleh kesadaran bahwa peluang mereka untuk menghafalkan al-Qur’an sudah menipis, karena daya ingat sudah makin menurun sebab faktor usia dan kesibukan yang kian padat.

Sedangkan harapan mendapat syafa’at al-Qur’an di akhirat kelak makin kuat seiring bertambahnya akses mereka kepada agama. Semakin bertambah usia, kesadaran akan menghadapi kematian makin besar berdasarkan pengalaman, dan bagi kalangan menengah terutama ditambah dengan membaca atau sekedar mendengar taushiyah yang kini marak di youtube. Padahal bekal untuk menghadapinya terasa sangat kurang.

Diantara cara untuk mempersiapkan bekal itu, adalah menyiapkan anak saleh yang akan mendo’akan, terlebih apabila memiliki hafalan al-Qur’an yang ada di dada. Sebab, ada hadits yang menyatakan bahwa penghafal al-Qur’an akan memakaikan mahkota untuk orang tua di akhirat kelak.

Namun, keinginan seringkali tidak berbanding lurus dengan capaian. Banyak yang berhasil dimotivasi sehingga benar-benar memiliki keinginan menghafalkan al-Qur’an. Atau bahkan tanpa disuruh, anak sudah memiliki keinginan sendiri untuk menghafalkan al-Qur’an. Namun, hanya sebagian kecil saja yang mau dan mampu menjalani prosesnya. Terlebih mempertahankan hafalan pasca “wisuda” (jika ada) khatam hafalan 30 juz, sehingga tetap bisa benar-benar lancar.

Yang banyak terjadi adalah hanya menyetorkan hafalan, tetapi yang sudah dihafalkan tidak dijaga dengan muraja’ah secara istiqamah. Yang demikian itu belum bisa disebut penghafal al-Qur’an, tetapi lebih tepat disebut pernah menghafalkan al-Qur’an. Sebab, setelah mereka hafalkan, hafalan itu mereka biarkan lepas dan hilang.

Secara umum untuk menjaga hafalan al-Qur’an dengan baik, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh penghafal al-Qur’an. Langkah ini mesti dilakukan baik pada pra, saat proses, dan setelah menghafalkan al-Qur’an.

Pada pra menghafalkan al-Qur’an, setidaknya ada dua hal yang harus dilakukan:

Baca Juga  ADHII dan APPHEISI Mengadakan Kolokium Hukum Islam Indonesia

Pertama, tahsin (membaguskan bacaan). Bacaan yang baik, sesuai dengan kaidah tajwid, akan memudahkan untuk melafalkan. Bacaan yang sesuai dengan standar tajwid, akan memberikan banyak efek positif, di antaranya lebih nyaman, sehingga akan relatif lebih betah melakukannya. Jika tahsin tidak dilakukan, maka bacaan akan menjadi tidak baik dan maknanya juga menjadi rusak. Lebih dari itu, bacaan yang dihafalkan adalah bacaan yang keliru. Dan itu akan terjadi berulang-ulang.

Kedua, memahami makna literalnya. Menghafalkan kalimat yang diketahui artinya lebih mudah dibandingkan menghafalkan kalimat yang tidak diketahui artinya. Tingkat kesulitan dalam menghafalkan kalimat yang tidak diketahui maknanya, rata-rata minimal tujuh kali lipat, bahkan bisa lebih. Karena itu, sebelum menghafalkan al-Qur’an, sebaiknya belajar bahasa Arab al-Qur’an terlebih dahulu, sehingga proses menghafalkan bisa lebih cepat, dan kemungkinan untuk bisa menyelesaikan hafalan al-Qur’an menjadi lebih besar.

Dalam berbagai forum, saya sering memberikan perbandingan menghafal kalimat yang diketahui artinya dengan yang tidak diketahui artinya oleh audiens. Dua contoh yang saya gunakan adalah: “Saya datang pagi-pagi ke forum diskusi yang diisi oleh Saudara Mohammad Nasih” dan “Ibis redibis numquam peribis in armis”. Walaupun kalimat pertama berjumlah dua digit kata, tetapi hampir selalu bisa dihafalkan secara langsung, alias tanpa mengulang.

Namun, kalimat kedua, dengan bahasa Yunani dan sering digunakan dalam disiplin hermeneutika, baru bisa dihafalkan pada pengulangan ketujuh hanya oleh dua persen auidens. Itu hanya untuk menghafal kalimat pendek. Bayangkan jika harus menghafalkan kalimat yang tidak diketahui artinya dalam jumlah yang sangat banyak, 604 halaman. Ada yang bisa, tetapi jumlahnya amat sangat sedikit, tidak mencapai satu persen. Karena itu jika dipaksakan menghafalkan al-Qur’an, maka hafalan itu akan menjadi beban berat sepanjang hidup.

Namun, jika dihafalkan dengan arti, maka hafalan itu akan menjadi sumber inspirasi yang tidak akan pernah berhenti. Tentu menghafalkan al-Qur’an tanpa arti pun harus dipandang sebagai sebuah prestasi.

Baca Juga  Revitalisasi Peran Guru

Pada saat proses menghafalkan al-Qur’an, ada dua hal yang harus dilakukan:

Pertama, memperdalam pemahaman ayat. Sebenarnya ini merupakan kelanjutan dari upaya memahami makna tekstual ayat sebelum proses menghafal. Dengan keinginan kuat untuk memperdalam maknanya, maka ayat-ayat yang dihafalkan akan melekat kian kuat.

Kedua, memahami interkoneksi antar ayat. Yang dimaksud interkoneksi adalah kesalingterhubungan antara satu ayat dengan ayat lain, baik dengan kesamaan lafadh maupun maksudnya. Di antara yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah rangkaian kisah rasul-rasul Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib yang ada di surat al-A’raf, Hud, dan al-Syu’araa’. Dengan memperhatikan persamaan dan perbedaannya, maka hafalan akan menjadi lebih baik. Jika baik, maka bisa dibaca kapan pun dan di mana pun, sehingga akan makin lancar.

Ketiga, membiasakan muraja’ah sebanyak minimal setara dengan enam juz per hari apabila hafalan belum mencapai enam juz. Agar yang sudah dihafalkan tidak hilang, maka harus dilakukan muraja’ah sejak hari pertama menghafalkannya. Baru setelah hafalan mencapai enam juz atau lebih, maka enam juz yang sudah dihafal itu harus diulang setiap hari. Lalu dibagi sedemikian rupa agar setiap hari bisa mengulang minimal enam juz atau setara dengan enam juz.

Tentu saja lebih banyak dari itu sangat dianjurkan. Dengan cara ini, muraja’ah minimal enam juz akan menjadi kebiasaan harian. Jika ada satu hari yang di dalamnya tidak dilakukan muraja’ah sebanyak minimal enam juz, maka harus dianggap sebagai hutang yang harus segera dibayar pada hari berikutnya. Tekanan ini untuk membangun konsistensi dalam muraja’ah.

Setelah selesai menghafalkan al-Qur’an, bukan berarti hafalan itu akan melekat begitu saja selamanya. Untuk membuatnya tetap melekat, tidak hilang terlupakan, ada beberapa hal yang harus dilakukan, di antaranya:

Pertama, muraja’ah atau mengulang hafalan minimal enam juz perhari. Ini merupakan kelanjutan dari kebiasaan yang telah dilakukan saat proses nenghafal. Dengan cara ini, maka sepekan sekali seorang penghafal al-Qur’an akan khatam al-Qur’an. Waktu yang diperlukan sesungguhnya hanya lima hari.

Baca Juga  Kemenangan Umat Islam dalam Perang Badar: Jumlah tidak Menjauhkan Kebenaran

Dua hari yang tersisa dalam sepekan, bisa digunakan untuk mengulang khusus halaman-halaman yang mengalami banyak kesalahan. Langkah istiqamah ini perlu dilakukan karena al-Qur’an bisa hilang dari ingatan, kalau tidak dilakukan upaya serius untuk mempertahankannya.

Rasulullah saw. bersabda: ”Sesungguhnya perumpamaan shahib al-Qur`an seperti pemilik onta yang bertali kekang. Jika ia terus-menerus menjaganya (tali) atasnya (onta), maka ia menahannya; dan jika ia melepasnya (tali), maka ia (onta) pergi”. (HR. Bukhari)

Kedua, sima’an khataman dalam sehari, setidaknya setiap enam bulan sekali. Dalam khataman ini, penghafal disimak oleh minimal dua orang untuk memastikan bacaan tidak ada yang terlewatkan tanpa diketahui. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa keseluruhan ayat dalam al-Qur’an benar-benar diingat dengan baik.

Ketiga, sering mengikuti acara perkumpulan para penghafal al-Qur’an. Biasanya, aktivitas perkumpulan para penghafal al-Qur’an adalah seputar sima’an, terus memperbaiki bacaan, dan pendalaman makna. Dengan melakukan ini, akan banyak berbagai pengalaman unik yang bisa digunakan untuk tambahan jalan memperbaiki hafalan, termasuk juga yang tak kalah penting adalah motivasi yang lebih kuat untuk melakukannya. Interaksi dengan banyak penghafal dengan kelebihannya masing-masing, akan menimbulkan peningkatan motivasi dalam meraih kelebihan-kelebihan berikutnya.

Jika semua itu benar-benar bisa dilakukan dengan istiqamah, maka hafalan akan terpelihara dengan baik. Jika tidak, maka hafalan yang telah diupayakan dengan susah payah, akan hilang, terlepas bagaikan terlepasnya onta dari ikatan sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah.

Karena itu, para orang tua, terutama yang tidak memiliki pengalaman menghafalkan al-Qur’an perlu membantu anak-anak yang telah berproses menghafalkannya, sehingga hasil usaha yang penuh perjuangan itu tidak hilang di tengah makin banyaknya urusan dan kesibukan duniawi. Orang tua harus pintar-pintar membuat mekanisme untuk memastikan hafalan anak-anak mereka benar-benar terjaga dengan baik. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen Rembang.

    Pasal Ketentuan

    Previous article

    Ketegasan Jokowi Dukung Hukuman Mati Koruptor Terlihat Garing

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi