Pagiku kembali sederhana. Bukan karena berteman secangkir kopi yang mengepul asap kehangatan sebagaimana pertemuan kita dulu. Tetapi kemampuan kita berdiri menghadap Yang Maha Kuasa dengan sebelas rakaat di penghujung malam-Nya, aku imam dan kau makmumnya.

Pagiku kembali sederhana. Bukan karena kabut yang membungkus diri sebagaimana kita berdua kedinginan di puncak gunung Semeru kala itu. Tetapi kemampuan kita berjalan menembus fajar menuju masjid untuk memuja dan bersujud di hadap-Nya, bersama denganmu.

Pagiku kembali sederhana. Bukan karena deru ombak dan celoteh camar yang menggebu, membangkitkan kenangan cumbu mesra kita di Gili Trawangan tempo dulu. Tetapi suaramu merapal kalam-Nya yang mengikuti lagu sebagaimana aku ajarkan dulu, hingga tak sadar air mata meleleh karena mengharap ridlo-Nya.

Pagiku kembali sederhana. Melihat sinar matahari perlahan membelai indah wajahmu. Hingga aku tak mampu membedakan mana yang lebih cantik, matahari fajar atau wajahmu. Bersama dengan itu, kedua bibirmu saling berpisah dan bertemu sibuk mengucap kata syukur kepada Yang Maha Menciptakan pagi. Dan aku pun terus mensyukuri hadirmu di hidupku.

Terima kasih, Tuhan, telah menciptakan Pagi dan dia di hidupku. Tanpa mereka, aku tak pernah bisa belajar tentang keikhlasan. Sebagaimana sinar mentari tak pernah bersibuk diri memilih siapa saja yang perlu ia selimuti. Dan dari dia yang tak pernah pilih kasih merawat anak-anak yang lahir dari benihku yang telah bersemi.

Terima kasih, Tuhan. Kau dekatkan aku dengan orang yang dekat dengan-Mu. Bersebab itu, aku tidak menjadikan dia sebagai sekutu atau tandingan bagi-Mu. Tetapi bersama dia yang selalu menuntunku, untuk kembali memperpedek jarak dengan-Mu.

Baca Juga  Sketsa Tuhan Anak-anak Milenial

Dan pagiku telah sederhana. Kala kelopak mataku terbuka, kudapati wajahnya yang telah basah karena air wudlu, kemudian mengajakku untuk bangkit, bersimpuh memohon segala ampun dan karunia kepada-Mu.

Dan pagiku memang sederhana. Kala kedua bola mataku selalu menemukan senyum manis di bibirnya, ke kanan setengah centi dan ke kiri setengah centi, Perempuan ciptaan-Mu itu.

Pilang Gowok, 22 November 2019

Ficky Prasetyo Wibowo
Bukan Jomblo Abadi

    Pemuda Penyair

    Previous article

    Ternyata! Ini Yang Lebih Dikhawatirkan Nabi Muhammad Daripada Dajjal

    Next article

    You may also like

    1 Comment

    Ruang Diskusi

    More in Zetizen