“Juragan tebu”, demikian warga Mantingan dan sekitarnya biasa memanggil petani millenial satu ini. Diusianya yang menginjak 30 tahun, laki-laki yang memiliki nama asli Joko Mulyono ini layak dijadikan sebagai salah satu figur inspiratif. Lelaki kelahiran Pati, 6 Januari 1995 ini memulai debutnya sebagai petani tebu dengan bermodalkan keterpaksaan.
Kepada Tim Baladena.id, Joko menuturkan bahwa keterpaksaan ini berawal dari keengganannya untuk terjun langsung di pertanian. “Ya awalnya saya gengsi. Masa iya lulusan D3 Undip harus dipaksa pulang kampung dan jadi seorang petani”.
Meskipun awalnya terpaksa, Joko kemudian mencoba untuk menjalani profesi barunya sebagai petani dengan ikhlas. Debut sebagai seorang petani tebu dimulai pada tahun 2016. Bapak dua anak ini memutuskan menjalin kerjasama mitra dengan PG Trangkil. Dari sinilah awal mula sepak terjang Joko sebagai petani tebu millenial dimulai.
“Awalnya dengan sistem sewa dan plasma, saya memulainya dengan mengelola sekitar 35 hektar lahan tebu. Jumlah ini bertambah pada tahun 2020. Dengan sistem yang sama, saya mengelola hampir 80 hektar lahan tebu. Dan pada akhir tahun ini, jumlah lahan yang saya kelola mencapat 135 hektar”, ucap Joko kepada Tim Baladena.id
Tidak canggung, Joko juga senantiasa turun langsung ke lapangan. Suami dari Siti Muti’ah ini kerap berkecimpung dalam pengolahan lahan dan pemilihan bibit unggul. Selain itu, Joko juga tidak enggan untuk menggunakan alat-alat pertanian tebu yang modern untuk menunjang produktivitas tabu.
Alhasil semua kerja keras Joko mendapat hasil yang luar biasa. Joko mampu mendapatkan beberapa prestasi yang mampu membuat bulu roma merinding.
“Saya pernah mendapatkan penghargaan sebagai petani tebu dengan produktifitas tertinggi, petani dengan inovasi terbaik, dan petani tebu MBS (manis, bersih, dan segar) terbaik”, kata Joko.
Sebagai upaya menjaga stabilitas pangan nasional, Joko menghimbau kepada generasi millenial lainnya untuk tidak malu dan canggung menjadi seorang patani. “Bagi saya, pendidikan yang gagal itu saat anak seorang nelayan tidak mau jadi nelayan ulung, anak pedagang tidak mau jadi saudagar, dan anak petani yang tidak mau jadi petani. Kita harus membuka wawasan bahwa dunia pertanian juga mampu menjadi investasi masa depan yang menjanjikan. Jika tidak kita, lantas harus berharap kepada siapa?”, pungkasnya.







