Kehilangan dan Sisa Makanan

Oleh: Elfindri, Unand

Pembenahan Pangan yang dilakukan selama ini oleh presiden Prabowo terutama dari sisi produksi, bagaimana mempercepat produksi pangan, baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi.

Bahkan Amran Sulaeman, mentri Pertanian, sesumbar menyatakan kita akan jadi lumbung pangan dunia.

Swasembada tentu tidak bisa cepat dilakukan, Apalagi baru dalam 1 tahun pemerintahan.

Tulisan ini ingin melihat sisi lain, bagaimana kehilangan dan sisa makanan juga menjadi perhatian, agar makanan yang sudah ada tidak terjadi kehilangan nilai, baik akibat pengelolaan sampai ke tahapan pada rumah tangga.

Kenapa sisa makanan tindakan yang boros dan tidak ekonomis? Karena selain besarnya biaya makanan tersisa juga diperlukan biaya untuk mengelolanya.

Kalau kehilangan “food loose”, merupakan suatu proses dari berkurangnya nilai pangan dari produksi sampai ke konsumen baik dalam bentuk bahan mentah, maupun setengah jadi.

Untuk beras, misalnya kesalahan teknis panen bisa mengurangi padi sampai ditumbuk menjadi beras, bisa berupa tercecer waktu panen. Di gudang setelah padi disimpan, bisa rusak karena salah letak, atau dicuri oleh hewan, atau membusuk.

Sementara “food waste”, bisa sesuatu makanan, baik sumber cabohidrat, protein, sayuran, serta sumber vitamin lainnya, dia bisa sampai ke konsumen tetapi membusuk, atau kadaluarsa. Bisa juga karena diolah yang berlebih, atau memasaknya salah dan tidak dikonsumsi.

Makanan bersisa bisa layak dikonsumsi ketika dipanaskan lagi sebelum rasa dan baunya berubah. Atau ditempatkan pada kondisi dalam suhu yang aman, atau disimpan ke dalam tempat makanan yang tidak mudah dihinggapi lalar atau serangga lain. Makanan bersisa yang dipanaskan lagi merupakan strategi dalam memasak dan konsumsi untuk mengurangi risiko mubazir.

Namun jika dimakan dan berlebih tidak dikonsumsi lagi, kemudian dibuang maka masih ada nilai ekonomis yang melekat, namun tidak dimanfaatkan.

FAO melaporkan jumlah makanan bersisa setara dengan kebutuhan makanan bagi orang miskin. Artinya jika makanan tidak bersisa, sebenarnya kemiskinan pangan tidak akan ditemukan.

Kompromi

Oleh karenanya kajian mahasiswa saya Defri Rahman yang mengambil program Doktor di Program Studi Pembangunan di Universitas Andalas, berupaya menemukan apa faktor utama yang menyebabkan terjadinya masalah sampah makanan rumah tangga.

Kenapa rumah tangga? Karena sampah makanan yang dihasilkan rumah tangga penyumbang lebih separo 54 persen sisa makanan, selain juga dari rumah makan, atau unit lembaga ekonomi yang ada, seperti hotel, kantor kantor dan sejenisnya. Penanganan sampah makanan rumah tangga perlu didalami dalam konteks tingkah laku rumah tangga.

Dengan sample rumah tangga di Kota Padang sebanyak 300, ditentukan secara quota random sampling per kecamatan, kajian ini fokus pada tahapan, mulai perencanaan sampai makanan terbuang.

Kajian ini menemukan bahwa makanan bersisa terjadi akibat tidak terjadinya kesepakatan dalam rumah tangga tentang rencana menu, semua proses mulai dari perencanaan pembelian bahan makanan, maupun makanan jadi sampai ke tahapan konsumsi menentukan besar kecilnya sisa makanan.

Karena kontrol
Makanan terutama berada pada istri, maka efek gender, khususnya ibu, ditemukan terpenting terhadap perilaku makanan bersisa ini.

Kurangnya rencana bersama pembelian bahan makanan, atau makanan jadi dirembukkan untuk sebagian besar bahan yang dibeli bersisa, atau bahan makanan yang sudah dimasak bersisa. Saat bersamaan muncul menu lain yang baru.

Proses seperti ini berulang dan membuat makanan bersisa dibuang ke dalam plastik sampah, kemudian mereka tempatkan di depan pagar rumah atau gantungan sebelum dijemput oleh petugas pemungut sampah ke rumah rumah.

Dengan temuan itu arah intervensi bagaimana memperbaiki perilaku makanan bersisa terutama ditujukan pada literasi wanita.

Pertanyaannya manakah yang efektif perbaikan literasi dan makanan bersisa difokuskan pada ibu atau yang lainnya, misalnya anak di sekolah.

Kajian ini memang tidak sampai membuat simulasi antara pengembangan literasi makanan di sekolah ke anak anak atau ke ibu di rumah tangga dan membandingkannya.

Wim Aart, konsultan sampah asal Belanda yang berpengalaman melakukan pemetaan dan problem sampah baik di negara negara Afrika maupun Amerika Latin, sempat saya dampingi selama 3 bulan di lapangan, Nagari Panampuang Kabupaten Agam tahun Oktober-Desember 2024.

Justru beliau meyakini bahwa lebih baik intervensi sampah baik makanan maupun yang lain dilakukan di sekolah. Jika anak anak sekolah sudah memperoleh dan paham tentang sampah, mereka lebih mudah mempengaruhi orang tuanya di rumah dalam hal kebersihan, sampah, apalagi sampah makanan. Program MBG bisa menyertai kampanye sampah makanan ini, jangan sebaliknya.

Dengan arti kata kajian perilaku bisa saja tidak langsung berkaitan pada diri seseorang untuk memperbaikinya, namun bisa ditujukan pada sosok lain yang lebih baik memperbaiki tingkah laku individu masing masing, selain juga berdampak jangka panjang tentang perilaku buang makanan.

Buang makanan yang berlebih adalah mubazir. Di Jerman, saya dengar jika Anda pesan makanan dan berlebih, Anda akan bisa diajukan fihak pemilik restoran dan bayar denda.

Ibu saya bahkan pernah mengingatkan bayangkan bagaimana proses menanam padi sampai jadi beras, maka buang nasi, berarti membuang usaha yang sudah begitu banyak dilakukan. Apalagi mubazir adalah teman syaitan yang terkutuk. Tandasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *