Kau Diam, Maka Aku?

Hari-hari yang tak biasa menurutku. Awalnya aku hanya menganggap bahwa itu merupakan suatu ketidaksengajaan atau mungkin keadaan hati yang sedang tidak bersahabat. Namun, ternyata aku salah. Dugaanku tak bisa lagi dibenarkan setelah beberapa waktu bahkan hari telah bergantipun kau masih dalam keadaan yang sama. Aku mencari tahu sebab yang menimbulkan akibat seperti sekarang ini. Namun keberuntungan belum berpihak kepadaku, seseorang yang pernah berjanji berusaha untuk terus menjadi suporter perjuanganmu, begitupun sebaliknya.

Pengalaman yang benar-benar aneh menurutku. Mendapatimu dengan kondisi seperti ini. Aku terasa sangat asing di matamu, bahkan sorot matamu seolah tak pernah mengenalku. Tak lagi ku dengar tegur sapa apalagi sekedar candaan maupun kata-kata yang menguatkanku kala badai masalah terus menerjangku. Aku pun berusaha positif thinking ketika hal tersebut terjadi, tapi hembusan angin mengabarkan berita lain hingga pada akhirnya aku benar-benar tahu kau benar-benar sedang mendiamiku tanpa memberi tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Begitu banyak target besar yang sudah kita rancang untuk mewujudkan impian kita. Target yang sering juga kita tulis dalam setiap pengajuan proposal kepada pemilik kehidupan. Namun, apakah kau sadar bahwa sikapmu yang demikian secara tidak langsung dapat membenakan target dan menjatuhkan beberapa impian yang menjulang tinggi itu? Ingatkah ketika dulu temu bertamu dan tak mau betemu dengan pisah?

Ingatkah kau ketika bangunan putih menjadi saksi perbincangan kita tentang masa depan? Dan tinta yang memenuhi halaman putih bergaris dan bersampul hijau? Ingatkah ketika tangis pernah pecah saat kita menemui masalah besar dan berusaha untuk menguatkan? Ingatkah ketika berjuang, merintis karya dari bawah dan bermimpi mempunyai karya yang tak akan bisa terhitung dan menginspirasi banyak orang?

Bacaan Lainnya

Aku tak tahu apa anggapanmu tentang semua peristiwa kala itu. Peristiwa yang menurutku sangat bersejarah meskipun tak pernah tebayang apalagi terpikirkan sebesitpun. Namun nyatanya itu semua pernah kita ukir. Perjuangan yang pernah mengalirkan air mata serta menguras habis isi kepala pernah terlukiskan dengan beggitu indah dalam sketsa perjalanan hidup kita. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan kala dirimu seperti ini.

Semoga keberkahan dan kesehatan selalu menyertai setiap langkah perjuanganmu.

Jika aku dilahirkan untuk menjadi orang yang tak mempunyai rasa peka terhadap orang-orang disekelilingku maka, sedari dulu mungkin aku tak akan pernah melukiskan perjuangan di dalam sketsa kehidupan kita. Akan tetapi, orang tuaku tak mengajarkan demikian. Mereka mengajarkanku tentang perhatian dan kasih sayang terhadap orang yang berada di sekitar kita.

Atau aku yang salah dengan dugaanku kali ini? Tolong jelaskan agar aku tak menjadi manusia yang mudah su’udzon dengan perubahan perilaku seseorang. Aku juga bukan seseorang yang memiliki ilmu khusus untuk mengetahui segala isi hati dan pikiran seseorang, termasuk mengetahui isi hati dan juga pikiranmu. Jika engkau masih mempercayaiku sebagai tempat berbagi cerita dan rasa maka, terbukalah. Atau ketika perjuanganmu mungkin belum dikabulkan oleh-Nya maka, bersabarlah. Jangan menjadikan sekitarmu sebagai objek pelampiasan kekecewaanmu.

Ingatlah, masih ada orang yang peduli dengamu, bahkan memikirkanmu ketika mungkin kau sedang tak memikirkannya. Seseorang yang terus meriuhkan kata-kata dan menyebut namamu dalam setiap kali menengadahkan tangannya dan mengadu kepada Sang pemilik Kehidupan.

Masih ingatkah ? Ketika jari jemari menari di atas keyboard untuk menuliskan sebuah kisah dan kuas berada di tangan lengkap dengan kanvas di atas meja untuk melukiskan perasaan. Katamu perjuangan itu tak ada habisnya. Katamu pahit manis harus kita rasakan dalam medan laga memperjuangkan impian. Katamu perubahan sikap terhadap seseorang itu tidak boleh dilakukan karena akan membuat orang lain kebingungan? Lantas sadarkah kau telah melakukannya?

Teruntuk, kamu yang tengah khusu’ mengeja tiap kata dalam sajakku. Aku hanya minta satu hal. Tolonglah terbuka, jika aku adalah penyebab ketidakwajaranmu tolong tegur dan ingatkan di sebelah mana letak kesalahanku agar aku bisa berbenah. Jangan terus membuatku menjadi seorang sufi yang terus bertanya tanpa tahu jawaban pastinya.

Sekali lagi, perjuangan kita masih panjang. Target yang kita susun belum seluruhnya tercapai. Ikrar kita belum ada yang mematahkan. Diskusi dan forum lainnya sudah mengatre untuk dilaksanakan. Ribuan halaman masih menanti deretan paragraf pengetahuan, sajak dan juga motivasi untuk menjalani samudra kehidupan. Lembaran kanvas masih menanti sapuan kuas yang menggambarkan ketulusan pelukisnya. Rembulan masih menanti kesabaran dan ketulusan mentari dengan sejuta kerinduan yang menyesakkan hati. Sedangkan, aku masih sibuk mendiskusikanmu dengan Pemilik Hati.

Jika masalah kerap kali menerpa dan sekitar seringkali melontarkan ejekan bahkan menghujatmu maka janganlah patah. Tetap tegak dan terus tumbuh untuk melawan mereka. Tunjukkan bahwa kau tidak seperti yang mereka kira. Apabila mereka memiliki seribu cara untuk mematahkanmu atau sebenarya mereka juga ingin membuatmu bangkit maka, kamu juga harus membuktikan bahwa kamu juga memiliki ribuan cara untuk mewujudkan mimpi versimu. Kita harus belajar bersikap husnudzon dan menjadikan orang-orang tersebut sebagai pengobar api semangat kita. Terus berusaha dan buktikan. Aku yakin kamu mampu.

Semoga keberkahan dan kesehatan selalu menyertai setiap langkah perjuanganmu.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *