“Cinta itu berasal dari hati (perasaan), bukan dari rasio (akal),” itulah kata-kata yang sering muncul di media sosial.
Dari kalimat di atas, dapat disimpulkan bahwa hati memiliki peran utama mengenai cinta. Akal seakan tak berguna untuk segala rasa yang telah ada. Akal sehat tidak digunakan lagi untuk berfikir. Tujuh dari sepuluh orang mengatakan bahwa cinta itu tidak logis (tidak ada logika). Seperti halnya lirik lagu Agnes Monica yang berbunyi “cinta ini, kadang-kadang tak ada logika.” Mereka lebih mengutamakan perasaan ketika sedang menjalani hubungan percintaan. Kalimat “cinta berawal dari hati (perasaan),” merupakan satu kalimat yang sangat populer dan menjadi kalimat bijak yang digandrungi oleh banyak orang.
Akibat dari perspektif ini, tidak heran jika banyak terjadi tindakan-tindakan di luar nalar yang terjadi atas nama cinta. Setiap hari tidak pernah ketinggalan berita tentang orang-orang yang masih bertahan dalam hubungan abusive (kekerasan). Mereka selalu membantah alasan-alasan logic dari kerabat, keluarga atau orang-orang terdekatnya. Mereka lebih memilih (mempercayai) kalimat-kalimat sesat yang sudah beredar. Hubungan semacam ini hanya menghabiskan tenaga dan kesabaran saja, demi cinta! Menurut Dr. Mohammad Nasih, “apabila cinta itu banyak menghasilkan dampak positif, maka pertahankanlah dan lanjutkan. Apabila cinta itu lebih cenderung ke hal-hal yang negatif, maka tinggalkanlah dan jangan dilanjutkan.”
Sepertinya, kasus percintaan tragis dan kriminalis dalam rumah tangga merupakan konsekuensi dari pemaknaan yang salah mengenai cinta, sehingga dalam menjalankannya pun keliru.
Dalam buku The Neuroimaging of Love karya professor Stephanie Ortigue, dijelaskan bahwa ketika seseorang sedang jatuh cinta maka 12 area yang ada di otak akan melepaskan hormon dopamin, adrenalin, vasopressin, testosteron dan estrogen yang dapat mengakibatkan euforia kebahagiaan yang luar biasa.
Saat sedang jatuh cinta, segala bentuk reaksi tubuh seperti jantung berdegup kencang, nafsu makan turun, hingga terbayang-bayang oleh orang yang dicintai itu merupakan hasil kerja otak. Semua perilaku dan tindakan aneh yang dilakukan dan dirasakan oleh orang yang sedang jatuh cinta adalah hasil dari gejolak hormonal di dalam tubuhnya. Jadi, cinta merupakan manifestasi dari kinerja tubuh manusia yang bisa dipahami secara logis.
Logika Dalam Bercinta
Jika cinta itu logis, kenapa kita bisa rapuh dan bodoh saat jatuh cinta? Bukankan pernyataan ini bisa dijadikan sebagai argumen bahwa cinta itu tidak logis? Mungkin pertanyaan ini sering muncul di kalangan remaja bahkan dewasa pun ikut merasakan. Salah satu jawabannya yaitu terletak pada hormon dopamin tadi. Saat jatuh cinta, maka hormon dopamin akan mengalami lonjakan dan dapat mengaktifkan sirkuit reward, sehingga jatuh cinta menjadi sangat menyenangkan. Sama halnya dengan euforia yang dirasakan oleh para pecandu alkohol dan kokain. Itulah sebabnya orang yang sedang jatuh cinta bisa disebut sebagai orang yang sedang dimabuk cinta.
Jika ditelaah lebih rinci lagi, cinta seakan berjalan di luar tatanan logika/rasio. Saat berkecimpung dengan cinta, seakan tidak perlu melibatkan kecerdasan akal dan pikiran kritis. Tapi, ternyata kondisi memabukkan ini hanya terjadi di awal saja. Hal ini bisa dikatakan semacam konspirasi sel-sel tubuh yang berusaha untuk menjorokkan diri kita untuk segera bereproduksi. Itu sebabnya jatuh cinta tidak boleh asal-asalan. Diikuti begitu saja tanpa adanya logika/rasio yang cerdas. Mulai sekarang dan yang akan datang, mari ciptakan cinta yang berlandaskan atas asas kecerdasan dan kedewasaan.







