Semilir angin malam yang menusuk hingga ke tulang. Dinginnya mencapai kisaran di bawah 30 derajat celcius. Angin malam saat ini tak seperti malam biasanya. Ada beberapa hal yang membuat lingkungan sekitar ini menjadi lebih dingin. Benar, hujan. Sekarang memang musim hujan. Entahlah, mungkin memang sudah saatnya, karena letak strategis negara Indonesia secara geografis. Udara di luar tempatku berteduh terasa begitu dingin. Aku lebih memilih untuk mengeram di kamar bersama teman-teman sekapsul.
Malam ini, memang tidak ada jadwal beragenda setelah kajian surah Yusuf. Tidak seperti biasanya, aku meninggalkan pekerjaan yang kuprioritaskan di setiap ba’da kajian Isya’, yaitu ke ruang TU. Hal pertama kali akan kuingat dalam benak. Tahu mengapa? Karena, aku lebih memilih untuk mengetik di setiap malam. Ide bagusku muncul hanya waktu-waktu tertentu saja. Apalagi dengan sebuah keadaan yang tak menentu, itu adalah hal yang bagiku wajib untuk menjadi sebuah tulisan.
Yeah, malam ini aku lebih memilih untuk berselimut di dalam Rumah Kapsul 16. Sebab, udara yang dingin memprovokasiku agar tidak beranjak dari zona nyaman ini. Baru sekian kalinya aku meninggalkan tugas yang aku proiritaskan dalam waktu semalam. Semilir udara yang kian mendingin dan terus dingin, membuat teman sekapsulku tidur terlelap tanpa sebuah sulap. Wah!!, dalam waktu sekejap semua keadaan terdengar begitu senyap.
Baiklah, saat ini tak ada yang bisa mengganggu waktu malamku untuk memutuskan harus apa aku saat ini. Menuliskah? Mengajikah? Merenungkah? Menyemilkah? Atau harus beragenda tepat apa yang harus kulakukan di dalam kapsul ini. Huh, nampaknya udara sejuk malam seperti ini, alangkah baiknya kuganakan untuk menulis yang disambi dengan minuman hangat- cokelat hangat yang sudah kubuat sekitar 5 menit yang lalu-sudah tak terlalu panas amat.
Menulis adalah langkah awal yang aku lakukan untuk menghilangkan berbagai hal dalam benak. Semuanya akan kutuangkan dalam sebuh tulisan ini. Sebuah cerita yang amat panjang, hingga tak bisa diceritakan secara lisan. Mulai dari sebuah asa, suka, luka, dan duka. Bagaimana mungkin jika semua itu dapat digabungkan menjadi sebuah kesatuan, menjadi sebuah garis kuning untuk sebuah peringatan bagi semesta? Apakah ada hal baru di setiap harinya? Apakah waktu bisa diulang kembali? Bagaimana itu memungkinkan untuk waktu yang belum pernah menentu.
Hai!!, mataku melemah dengan begitu cepat. Apakah itu pertanda sekaligus peringatan agar aku rehat sejenak? Mungkin saja. Sebab, seharian ini aku sedang terpikat banyak hal yang mungkin satu buku saja belum selesai seraya belum puas untuk diceritakan. Sudahlah…waktunya tubuh ini rehat sejenak dari berbagai hal yang membuat diri sendiri penat karena sesuatu dan seseorang. Bahkan, baidabnya diri sendiri memberikan sakit bagi organ-organ penting dalam tubuh ini. Sering bersandiwara, seolah hidiup ini adalah drama yang kesekian kalinya.
**
“Bangun, Mbak. Bangun yuk! Adzan Shubuh telah berkumandang,” ajakan dari Sang Relawan Divisi Peribadatan OSIS dan Pondok, sebagaimana tugas dan tanggung jawab yang telah menjadi komitmen selama usai dilantik hingga LPJ nanti.
“Iyha…Kami sudah bangun,” ucap Mbak Acha, Kakak kelasku yang sekapsul menjadi perwakilan jawaban dari kami yang masih mengumpulkan nyawa.
Aku dengan teman sekapsulku, keluar dari rumah kapsul. Sebagaimana biasanya, aku harus segera beranjak ke kamar mandi untuk bersiap-siap shalat. Di sepanjang jalan, hujan semalam nampaknya lebih deras dari yang kuduga. Sebab, di sepanjang jalan yang kulintasi, genangan air dalam coran semen yang sudah hancur menjadi lingkaran tidak utuh masih sangat terlihat. Embun shubuh yang menempel di dedaunan sekitar masih menetes dengan perlahan. Sesekali air jatuh dari pohon, membasahi sebagian kulitku ini.
Gerumbulan santri sudah beranjak di kamar mandi. Meski kamar mandi ada 12 di setiap lokal santri laki dan santri perempuan, nampaknya jika untuk waktu shubuh masih harus mangantri. Tidak seperti biasanya, hanya waktu-waktu tertentu saja. Misal saat ba’da Shubuh serta saat mejelang maghrib. Sebab, di pondok ini terdapat wirausaha setiap pagi dan sore untuk setiap santriya. Jika pagi hari, wirausaha lebih terpacu pada peminatannya tersendiri. Jika sore hari, memang wajib untuk setiap santrinya. Namun, ada beberapa santri yang belum mengikuti wirausaha wajib. Mungkin kerena masih bingung ingin memilih apa atau memang ada beberapa santri yang tidak mengikuti wirausaha.
Sesegera mungkin aku dan para santri menuju ke Gedung Baru yang salah satu kegunaannya adalah menjadi tempat menunaikan sholat 5 waktu. Kami bergegas dengan cara yang telah diajarkan oleh Pangasuh Harian di pondok ini, yaitu, jalan pali-pali atau lebih dikenal dengan jalan cepat. Yeah, bahwa santri murid di sini tidak boleh bersantai-santai dalam hal apapun, terutama dalam sholat lima waktu.
“Alllahhu akbar, allahhu akbar, asyhaadu allaa ilaaha illallah..” terdengar suara iqomah yang menggema dari arah GB. Aku segera berlari tanpa basa-basi.
” Allahhu akbar…” takbiratul ikharam rakaat pertama, tepat saat aku masuk ke GB. Huh, napasku yang tersendak-sendak akibat lari terlalu berlebihan, membuatku harus mengambil napas dalam-dalam. Segera kukenakan mukenaku dengan penuh niat tuk shlat shubuh. Tenang…karena shalat yang khusyuk itu sangat menenangkan. Entah dalam kondisi apapun manusia, hanya Allahlah yang mampu memberikan kekuatan kepada setiap hambanya. Segera kuikuti gerakan sang imam, kemudian tuma’ninah.
Shalat Shubuh telah usai. Dilajutkan dengan doa yang dipimpin sebagaimana biasanya setelah usai shalat wajib, yaitu dipimpin langsung oleh Sang Imam-Makmum mengikutiya dengan penuh kekhusyukkan kepada Sang Ilahi sebagaimana adab berdoa umat islam.
“Assalaamu alaikum Wr. Wb, para santri murid yang dirahmati selalu oleh Allah…” pemukaan ceramah dari Sang Pengasuh Harian di pondokku, Ustadz Su’ud namanya. Beliau adalah Pengasuh Harian sekaligus penasihat setiap ba’da shalat wajib untuk para santri muridnya. Banyak pencerahan dari beliau yang telah dan sering kurasakan. Sama halnya dengan Pengasuh Pondok Pesantren ini, Abana dr. Mohammad Nashih al-Hafidz. Sang Pencerah bagiku, di setiap lantunan dari bibir beliau bilamana telah terucap. Tanpa apapun itu, aku berusaha untuk selalu mendengarkan pesan-pesan dari beliau beserta para jajaran guru mulia di pondok ini.
Pagi ini, Ustad Su’ud berceramah tentang satu hal yang penting dalam kebihupan sesama, yaitu tentang “mengingatkan”. Sebuah kesan yang bahkan penting menjadi pesan untuk diri sendiri. Seketika sebuah pengingat datang, saat aku berada dalam hal yang terkenang oleh sebuah masa lalu.
“Mengingatkan merupakan bentuk kita peduli terhadap sesama. Tak hanya itu, sebuah kata sayang akan selalu ada ketika kita mengingatkan. Jangan pernah mengira, jika semua itu adalah sebuah kebecian. Nihil. Itu sangat mustahil. Bilamana ada seseorang yang bahkan sampai saat ini masih peduli dan berusaha tuk mengingtkan kalian, bilamana kalian menyimpang dari jalan yang benar. Itu pertanda, bahwa seseorang itu sangat menyayangi kalian. Sebab apa? Karena setiap seseorang itu meyayangi kalian, pasti selalu ada rasa keinginan untuk mengubah diri sendiri dan orang yang disayanginya itu menjadi pribadi yang lebih baik.
Dan ingat satu hal, tentang sebuah ‘CINTA’. Kata cinta yang akan selalu bersangkut-paut dengan kata sayang. Dan taukah kalian, apa itu cinta yang sesungguhnya?”
Secara tiba-tiba Sang Ustadzku membawa kata cinta dalam tema ceramah mengingatkan dan menyayangi. Mataku secara relavan bangun, seolah ada sesuatu yang tak pernah ingin tertinggal dalam jiwaku. Telinga kanan dan kiriku juga terbesit mendengarkan ceramah itu dengan sungguh-sungguh.
“Cinta itu doa. Doa itu cinta. Maka, siapapun yang mencintaimu, pasti ia akan selalu mendoakanmu yang terbaik. Karena, cinta sejati itu adalah mendoakan dan menjaga. Menyatakan cinta itu dalam doa-doa yang telah disenyapkan. Sebagaimana sebaiknya, untuk hidup di pondok ini yang hidup berdampingan dengan lawan jenis. Tidak akan pernah ada kata tidak bisa jatuh cinta di dalam pondok. Siapa yang pernah jatuh cinta, atau mungkin sedang jatuh cinta?” tanya Ustadzku secara tiba-tiba. Tentang sebuah cinta yang dirasakan oleh para santri muridnya selama di podok.
Sebagian para santri megangkat tangan dengan cepat. Sebagian besar acungan tangan itu berasal dari santri laki-laki, mungkin kisaran puluhan acungan. Santri perempuan yang mengacungkan tangan hanya berberapa saja. Mungkin, karena perempuan lebih memilih untuk tutup mulut ketika ditanya soal cinta. Terkadang perempuan memang lebih memilih menyembunyikan perasaannya meski memang sulit tuk menutupi hal yang demikian.
Akulah salah satu di antara para santri perempuan yang lebih memilih untuk tidak megacungkan tangan, meski sebenarnya sedang mempunyai sebuah rasa pada seseorang. Aku hanya diam. Tersipu malu pada pertanyaan itu. Para santri saling berhadapan kanan, kiri,depan, belakang, seolah sedang memastikan siapa saja yang sedang atau pernah jatuh cinta. Hmm…acungan tangan itu sudah berlalu sekitar dua menit yang lalu.
“Terpenting untuk para santri murid sekarang adalah fokus pada apa yang kalian ingin capai. Ingat baik-baik apa tujuan utama kalian kesini. Jadikanlah, cinta itu hanya sebagai sampingan penyamangat bagi kalian dalam mengejar sesuatu yang terprioritaskan untuk diri masing-masing. Sekian, Wassalaamu alaikum wr.wb” kesimpulan terakhir dari sang Ustadz di akhir ceramah shubuh ini. Terdengar tak main-main, serius. Baiklah, akan kucatat baik-baik amanat dari beliau di dalam hati dan pikiran.
***
Oleh: Putri Aisyah Nurul Iman (PAN-1), Wakil Ketua OSIS 2021/2022, Sekretaris Umum PR IPM Planet Nufo, Pimpinan Redaksi Majalah Pers Siswa SMP Planet Nufo







