Bercita-cita menjadi PNS bukanlah mindset yang dibangun oleh Dr. Mohammad Nasih. Mindset utama yang selalu ditanamkan dalam diri mahasantri Monash Institute ialah menjadi seorang yang tidak bermental pesuruh. Mental ini didasarkan atas ayat-ayat Qur’an. Pak Nasih menginginkan tidak ada mentalitas budak dalam diri mahasantri. Semua harus mampu berpikir besar, menjadi konseptor dan pemimpin di berbagai bidang.
Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau sekarang dikenal juga dengan istilah aparatur sipil negara (ASN) merupakan pegawai yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan singkat, PNS adalah abdi negara.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa PNS tidak menjadi cita-cita atau goals utama di dalam pengkaderan di Monash Institute? PNS harus melalui beberapa jenjang karir. Tentu sebelum menjadi kepala atau pemegang kekuasaan dan/atau pengambil kebijakan, harus menjadi orang bawahan yang notabennya ialah menerima semua ‘suruhan’ yang diminta oleh atasannya. Mentalitas semacam inilah yang tidak diinginkan oleh Pak Nasih.
Menjadi mahasantri di Rumah Perkaderan Monash (Mohammad Nasih) Institute, wajib memiliki mindset “kemerdekaan diri dan berpikir besar” dan tentu wajib berakhlak Qur’ani. Dalam beberapa kajian, Pak Nasih menjelaskan alasan manusia harus merdeka dan berpikir besar ialah kejelasan atas posisi manusia dalam al Qur’an sebagai al-Insan. Kata insan ini muncul sebanyak 65 kali dalam 43 surat.
Pemikiran Pak Nasih tentang hal ini juga diilhami oleh sosok Ayahnya, Bapak Mudzakir Al-Hafidz yang berprofesi sebagai petani meski seorang sarjana. Padahal di kalangan kampung Pak Nasih, profesi PNS masih di‘elu-elukan’ dan seolah menjadi tolok ukur tertinggi profesi di masyarakat. Namun demikian, ia memilih menjadi seorang wiraswasta. Wiraswasta adalah hasil penggabungan dari dua kata “wira” artinya berani dan “swasta” yang berarti berdiri sendiri. Dengan kata lain, ia memilih menjadi orang yang memiliki pribadi kuat, produktif, dan kreatif yang biasanya bekerja dalam kemandirian.
Ayah Pak Nasih menjadi bukti bahwa kesuksesan seseorang tidak kemudian dilihat dari status profesinya. Terbukti, Ayah Pak Nasih tetap menjadi orang sukses baik secara profesi maupun non profesi di lingkungan sekitarnya. Bapak Mudzakir sukses secara profesi sebagai kepala desa bukan karena ijasah melainkan dukungan dan dorongan masyarakat. Sedangkan non-profesi, Bapak Mudzakir berhasil menjadi petani yang sukses kala itu.
Doktrin bapaknya ini membuat Nasih benar-benar tidak pernah bercita-cita dan tidak menganjurkan orang menjadi PNS. Suatu waktu, Pak Nasih pernah dipaksa oleh salah satu senior yang dihormatinya untuk mengikuti tes CPNS. Dia dikasih soal sekaligus kunci jawabannya. Namun, karena Pak Nasih tidak menghendaki menjadi PNS dan tidak ingin pula mengecewakan seniornya, maka ia memilih mencarikan orang yang dianggap pas masuk di situ dan memberikan soal dan kunci jawaban itu kepada juniornya. Pak Nasih tetap ikut mengikuti seleksi tetapi menyengajakan diri menjawab seluruh soal dijawab dengan tanpa membaca dan berpikir, agar tidak lolos di ujian tersebut. Alhasil, skor tes Pak Nasih tidak memenuhi dan tidak lulus CPNS.
Pak Nasih berpikir jika menjadi seorang PNS, maka tidak banyak hal yang bisa dilakukan karena harus terikat oleh aturan waktu dan tempat. Namun dengan tidak menjadi PNS, seseorang akan bisa melakukan banyak hal dan untuk semua orang diberbagai kalangan. Maka hal inilah yang menjadikan Pak Nasih tidak ingin menjadi PNS dan bahkan menginginkan mahasantri Monash juga tidak berpikir sedikitpun menjadi PNS.
Tetap Berjuang Meski Menjadi PNS
Berbanding terbalik dengan mindset yang telah ditanamkan sejak awal oleh Pak Nasih. Nyatanya ada mahasantri yang menjadi PNS. Mukoyimah salah satu mahasantri angkatan 2011 (angkatan pertama) Monash Institute, terdaftar menjadi CPNS disalah satu Perguruan Tinggi Islam di Jawa Tengah, yang tidak lain dan tidak bukan adalah penulis sendiri.
Pak Nasih ialah sosok ayah ideologi yang bijaksana, tidak lantas menghukum Mukoyimah dan/atau mengeluarkannya sebagai bagian dari keluaga ideologis. Dengan kebijaksanaannya dalam menanggapi semua masalah santri, ia menganggap ini adalah prototipe atau contoh yang akan dilihat oleh mahasantri yang lain. Apakah ketidakinginan dan ketidaksetujuan Pak Nasih terhadap mahasantrinya menjadi PNS tidak beralasan?
Alasan Pak Nasih dibenarkan oleh penulis. Menjadi seseorang yang telah dikonsep berpikir besar dan berkarakter Qur’ani di Monash Institute, menjadikan penulis merasa belum nyaman dengan profesinya. Ia belum mampu terjun setiap hari di masyarakat dan tidak mempu melakukan banyak hal. Keterikatan waktu dan tempat seseorang dalam berjihad tidak akan membuahkan hasil maksimal dalam berjuang membangun masyarakat.
Realitas keterikatan waktu dan tempat ini menjadi jurang seseorang dalam berpikir besar dan bermental Qur’ani. Menjadi PNS, membuat Mukoyimah tidak mampu berbuat banyak hal. Ruang gerak yang terbatas oleh aturan mempersempit lingkup kegiatan. Padahal membangun masyarakat bermental Qur’ani juga membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak mampu terbatas oleh waktu. Namun demikian, Pak Nasih berpesan agar penulis tetap berjuang meski menjadi PNS.
Alasan tidak menjadi PNS agar bisa melakukan banyak hal sudah betul. Pak Nasih dengan tidak menjadi PNS dapat membuktikan bahwa ia mampu melakukan banyak hal, diantaranya; mendirikan dan mengelola Sekolah Alam di Rembang bernama “Planet Nufo”, mendirikan dan mengelola PonPes Daar Al-Qur’an di Semarang dan sudah memiliki tiga cabang PonPes lain di sekitar kampus UIN Walisongo, mengelola PonPes di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta ialah PonPes STEBANK (Sekolah Tinggi Ekonomi dan Perbankan) di Jakarta.
Pak Nasih juga membuktikan dapat menjadi pengusaha besar, seperti memiliki perternakan Sapi Qurban di Mlagen-Rembang, memiliki Pabrik Home Industri Gula Tebu di kampungnya dan ia mengelola sendiri, serta menjadi Petani Tebu. Walaupun begitu, kesibukan di atas tdak membuat Pak Nasih berhenti untuk mengajar. Disela-disela kesibukannya, Pak Nasih juga masih menjadi Dosen Ilmu Politik di UI (Universitas Indonesia) dan UMJ (Universitas Muhammadiyah Jakarta) dan STEBANK Jakarta.
Yang paling sederhana, Pak Nasih pernah menyampaikan, kalau menjadi PNS, ia tidak mungkin bisa mendatangi satu persatu pernikahan santri-santrinya, yang memang sebagian sudah dalam usia menikah. Pak Nasih mungkin hanya akan mendatangi dan memberikan nasihat kepada santrinya yang melangsungkan pernikahan di waktu Ahad saja atau di tanggal merah, karena ia harus “berdiam diri” di tempat kerjanya. Berungtung, Pak Nasih tidak jadi PNS, sehingga “kapan pun” disciples melangsungkan walimatu a-‘ursy, ia akan hadir memberikan do’a restu dan nasihat penikahan.
Kesemuanya itu dilakukan oleh Pak Nasih sendiri. Waktu satu minggu serasa kurang, karena Pak Nasih harus membagi semua waktunya di beberapa kegaiatan. Pak Nasih dengan tidak menjadi PNS mampu membuktikan sebagaimana yang dicontohkan oleh Ayahnya. Pak Nasih tidak hanya menjadi seorang pendidik, pengusaha, tetapi juga petani sekaligus.
Pak Nasih telah membuktikan bahwa PNS bukanlah profesi yang harus diidam-idamkan sebagaimana kebanyakan cara berpikiran masyarakat umum, terlebih orang di kampung. Justru orang yang mampu terjun secara langsung ke masyarakat adalah orang yang memiliki profesi tertinggi, tentu saja dengan kualitas yang memadai. Khairunnaas anfa’uhum linnaas, sebaik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Pak Nasih berharap mahasantri Monash Institute yang telah dikader mampu menjadi orang yang berpikir besar untuk membebaskan masyarakat dari berpikir kerdil.
Oleh: Mukoyimah, Disciples 2011 Monash Institute, Dosen ASN IAIN Pekalongan







