Egoistis Cinta

Delapan kali kau meminta tuk mengakhiri, dengan angka yang sama aku memintamu tuk kembali. Itulah aku, kamu tak pernah tahu bagaimana perihnya aku. Sebab, kata-katamu tak pernah mampu ku prediksi sakitnya. Levelnya berbeda-beda. Dan aku, harus memaksa tuk memulai dan melawan gengsi tuk sekedar meminta kau kembali dan memulainya kembali.

Apakah kau ingat, ketika kau berjalan dengan dia wanita lamamu seharian di kota pendidikan? Kamu tak tahu bagaimana perihnya aku bukan? Aku berusaha melawan rasa cemburuku terhadapmu agar kita tetap baik-baik saja. Kupikir, itu yang terakhir tapi ternyata tidak. Kau masih saja membuatku teriris belati cintamu yang entah untuk kesekian kalinya. Mencintaimu, memang menyakitkan. Tapi aku tak bisa memungkiri rasaku terhadapmu. Masih kau ingin bilang aku yang selalu membuat kehancuran hubungan kita? Aku atau kamu?

Selalu menjadi tersangka dalam setiap kasusmu. Tak penah naik pangkat minimal menjadi saksi. Salah, selalu salah dan selalu saja mengemis maaf. Seburuk itu? Ya, itulah aku. Harusnya, aku tahu sejak awal jika kehilangan memang benar-benar ada untukmu yang benar-benar ego. Namun ku terlanjur hanyut dengan kata awal yang menjanjikan tuk tak pernah meninggalkan. Namun faktanya, bosan, jenuh, jengah dan pada akhirnya meninggalkan.

Aku, dengan sekuat tenagaku melawan egoku, tapi kau sekuat egomu mengalahkan pertahananku. Kulihat, marah dan egomu lebih pandai memainkan peran. Kau bilang, kau menyanyangiku tapi pada faktanya kau menghilang. Kau mengatakan jika kau mencintaiku, tapi realitanya kau memilih pergi dengannya dibandingkan denganku. Kau bilang tak ingin lagi menatapku, hatiku mulai terancam. Dan kau bilang kau menyesal telah menjalani hubungan denganku, yang ini kalian saja yang mengartikannya.

Bacaan Lainnya

Kutebak, kau tak akan pernah bisa menjadi aku. pura-pura menjadi tulus dan menyenangkan dengan paradigma sebagai seorang wanita. Percayalah, hanya topeng yang membuatku terlihat baik-baik saja.

Aku pernah berpikir tuk mengakhiri hubungan ini, tapi aku berpikir lagi bahwa ini bukan lagi hubungan bawang. Dan ketika mereka meminta tuk berhenti berjuang aku berusaha meyakinkan bahwa kamu memang benar-benar layak untukku perjuangkan. Tapi aku tak tahu mengapa kini aku merasa aku berjuang sendirian? Seolah-olah hanya ada aku di antara kita. Kita pernah sedekat nadi, tapi kini kita sejauh langit dan bumi. Dulu kita penah bilang sayang, namun sekarang kita kembali menjadi dua orang asing. Mungkin, ini adalah cara Tuhan untuk mengatakan bahwa kuharus berhenti memperjuangkanmu. Dan tetap melanjutkan penjelajahan cinta, untuk temukan kepingan cinta yang baru dan yang lebih layak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *