Abah Literasi

Orang mengenal Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Bapak Proklamasi Indonesia. Selain itu, Bung Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Ada pula Presiden Indonesia ke-dua, Soeharto yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan. Tak ketinggalan, ada Sultan Hamengkubuwono IX yang dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Kemudian, kita juga mengenal Ki Hajar Dewantoro sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Akan tetapi, pada tulisan ini, penulis tidak akan mengulas sepak terjang tokoh-tokoh di atas. Karena pada dasarnya, sebagian jalan hidup mereka telah banyak ditulis dan diajarkan kepada para siswa ketika duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Sebagaimana judul tulisan ini, penulis akan mengulas tentang Abah Literasi yang sama artinya dengan Bapak Literasi.

Kata “Abah” adalah (serapan) bahasa Arab untuk memanggil seorang bapak, bukan bahasa Indonesia. Sebab, “abah” dalam bahasa Indonesia berarti: (n) arah; tuju. Di beberapa daerah di Indonesia, kata “Abah” tidak hanya digunakan untuk memanggil bapak, tetapi juga orang yang dihormati atau dituakan (seorang tokoh). Termasuk dalam tulisan ini, Abah bukan panggilan untuk bapak biologis saya, melainkan panggilan bapak ideologis saya, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. “Abah Nasih,” begitulah kami (para santri dan orang-orang terdekat) memanggilnya.

Kembali ke judul tulisan ini, “Abah Literasi”. Sebagian pembaca yang budiman sekalian pasti akan beranggapan lebay terhadap istilah ini. Dan itu wajar saja, mengingat untuk menjadi seorang tokoh, terlebih seseorang yang memiliki sebutan “Abah Literasi” harus memiliki beberapa kompetensi unggul yang berbeda dengan individu lain. Dan itulah yang akan penulis sampaikan pada tulisan ini.

Bacaan Lainnya

Tulisan ini pada dasarnya merupakan sebuah ulasan yang akan mengulas tentang sepak terjang dan kontribusi Dr. Mohammad Nasih dalam mengembangkan Baladena.ID dan Militan.co. Perlu diakui bahwa kedua kanal tersebut tidak terlepas dari campur tangan Dr. Mohammad Nasih. Selain dikenal sebagai pemrakarsa berdirinya kedua kanal ini, Lelaki dengan 4 orang anak ini juga merupakan donator tetap, donatur dalam arti denotatif sebagai penyandang dana, lho.

Namun bukan itu yang spesial, tercatat bahwa Mohammad Nasih merupakan kontributor dan penulis terproduktif di Baladena.ID dan Militan.co. Bahkan, beberapa tulisannya juga menjadi yang terpopuler. Khusus di kanal Baladena.ID, terhitung sejak kanal ini berdiri empat bulan lalu, tercatat Mohammad Nasih memiliki 35 tulisan. Di antara tulisannya Islam Bukan Musuh Pancasila, HMI dan Kaderisasi, Perempuan, Jilbab, dan Takwa, Memotong Waktu Dengan Al-Qur’an, Hafal atau Pernah Menghafal al-Qur’an?, Tahlilan, Perjuangan Literasi Al-Qur’an, dan Tradisi, Islam dan Masa Depan Peradaban Dunia, Agar Hafalan Al-Qur’an Makin Melekat, Mengapa Al-Qur’an Perlu Dihafalkan?, Agar Hafalan Al-Qur’an Tidak Jadi Beban, Ayah Bunda, Cek Hafalan al-Qur’an Anak Anda!,

Berlanjut kemudian dengan tulisan berjudul Guru, Mata Air, dan Air Mata, Lima Keuntungan Besar Mengajar, Lima Keuntungan Besar Mengajar, Seberapa Seriuskah Menteri Nadiem?, Refleksi Kaderisasi Organisasi Icmi Menuju Reintegrasi Iptek Ke Dalam Imtak Islam, Rocky Gerung Juga Tak Paham Pancasila, Tujuh Alasan Memondokkan Anak, Indonesia, China dan Islam, Revolusi Pendidikan Menteri Nadiem?, Memastikan Hafalan al-Qur’an Terjaga, Pesan Politik Lagu Lir-Ilir, Empat Akibat Berat Perceraian, Penyebab Selip Lidah Penceramah, Kebanggaan Kepada Kebangsaan Indonesia, Guru yang Mengobarkan Api, Turut Al-Qur’an dan Hadits: Jalan Keselamatan, Menghadiri Majelis Ilmu Tanpa Ilmu Alat, Surat Cinta Untuk Sukmawati, Bay’at, Menjadi Ayah Tak Semudah Menikah, Pemahaman Salah tentang Jahiliyah, Tiga Kriteria Iman yang Benar, Empat Rujukan Muslim Berpolitik, dan Tujuh Kewajiban Kita Kepada al-Qur’an.

Khusus untuk tulisan dengan judul Rocky Gerung Juga Tak Paham Pancasila,, terhitung sampai saat ini (17/2/2020) menjadi tulisan dengan pembaca terbanyak. Beberapa tulisan yang lain juga lambat laun mulai bercokol merangsek ke atas. Luarbiasa memang. Dr. Mohammad Nasih Effect memang luarbiasa. Tidak bisa dibayangkan jika suami Bu Okky ini berlepas tangan terhadap Baladena.ID. Tentu, di usianya yang baru seumur jagung ini, Baladena.ID akan mengalami kegagalan yang berujung dengan pengabaian.

Istimewanya lagi, Mohammad Nasih tidak hanya rutin menuangkan gagasannya di Baladena.ID dan Militan.Co saja. Setidaknya, ada beberapa media cetak dan online yang tidak luput dari sasarannya. Bahkan, beberapa media tersebut secara gambling memintanya untuk menulis suatu tema kajian tertentu. Luarbiasa bukan? Jadi, tidak salahkan jika penulis menyebutnya sebagai Bapak Literasi. Atau lebih kerennya Abah Literasi.

Abah Literasi

“Kalian sudah terlanjur masuk di Monash Institute. Jadi jangan sampai menjadi Mahasiswa yang Cuma sekedar kuliah. Setidaknya, kalian harus memiliki tradisi untuk menjadi seorang Mahasiswa berbeda. Kuasailah ilmu al-‘ulama’, amwaalu al-agniya’, dan siyasatu al-muluk wa al-malak. Selain itu, kalian juga tidak boleh jadi Mahasiswa yang hanya bisa kuliah-pulang_kuliah-pulang (red: Mahasiswa Kupu-kupu). Namun kalian harus jadi aktivis kampus yang menguasai diskusi, aksi, dan publikasi”, ucap seorang Lelaki ganteng penuh kharisma saat membuka sebuah orientasi penerimahan calon Disciples Monash Institute Semarang angkatan 2013.

Ya, lelaki ganteng dan berkharisma tersebut adalah Dr. Mohammad Nasih. Abah Nasih, demikian kami biasa memanggilnya. Kini, usianya memang sudah tidak muda lagi. Namun tetap saja, semburat garis ketampanan yang diturunkan dari mendiang ayahnya tak bisa disembunyikan. Namun, bukan itu yang membuat penulis segan. Hal serupa juga dirasakan oleh teman-teman penulis yang saat itu sedang berusaha untuk diterima beasiswa di Monash Institute. Kata-kata pembuka itulah, ya, kata-kata itu sesaat membuat kami takjub. “Ternyata pilihanku tidak salah”, gumamku dalam hati.

Memasuki usia ke-10 tahun, Monash Institute saat ini telah memiliki banyak kader yang kompeten dalam bidangnya masing-masing. Banyak diantara mereka yang jadi Hafidh dan Hafidhah, pengusaha, akademisi, bahkan ada beberapa yang menjadi pejabat di sebuah instansi pemerintahan dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Akan tetapi, kali ini penulis akan fokus pada satu capaian, yakni menjadi seorang penulis. Ya, setidaknya menurut Abah Nasih penulis merupakan sebuah pekerjaan yang bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun.

Bukti riil dari keberhasilan Monash Institute, dalam hal ini keberhasilan Abah Nasih dalam menentranfer keilmuan dalam menulis bisa dilihat dari melimpahnya penulis-penulis muda Indonesia. Bisa dipastikan bahwa semua disciples Monash Institute, juga beberapa yang terseleksi oleh alam, setidaknya pernah menjadikan foto dan atau minimal namanya terpampang di sebuah media, baik cetak maupun online, baik yang berskala nasional maupun regional. Beberapa diantaranya bahkan menasbihkan diri sebagai penulis tetap. Tak percaya, silahkan buka saja www.Baladena.ID dan www.Militan.Co.

Berbicara tentang Baladena.ID dan Militan.Co, penulis memiliki sebuah pengalaman luarbiasa dengan Abah Nasih. Pernah suatu ketika saat Penulis mulai jengah dengan stagnasi yang dialami oleh Baladena.Id dan Militan.Co; “Bah, koq semakin lama Baladena.ID dan Militan.Co sepi pengunjung ya? Padahal konten yang Kita tawarkan menarik, dan bahkan berbobot. Tapi tetap saja, pengunjungnya tidak pernah bisa seperti media-media lain yang bisanya hanya menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian?”, kataku kepada Abah.

Coba tebak, apa jawaban Abah! “Kamu ini ada-ada saja, Kim. Orang hebat itu membicarakan ide-ide. Orang biasa membicarakan peristiwa-peristiwa. Dan orang bodoh itu membicarakan orang lain. Yang terpenting, Allah itu menyukai istiqamah. Tidak banyak yang tergerak. Lebih sedikit lagi yang istiqamah. Tidak istiqamah adalah salah satu penyebab utama kegagalan. Jadi, istiqamah saja dalam mengelola Baladena.ID dan Militan.Co, karena nanti akan ada fase dimana media Kita akan diperhitungkan, dan bahkan dijadikan rujukan. Maka dari itu, Kita siapkan dulu tulisan-tulisan yang berbobot, karena nanti tulisan-tulisan tersebut akan di-copas dan di-share ke semua media sosial”. Jawaban yang luar biasa, bukan?

Satu lagi, sebagai sebuah upaya untuk menjaga keberlangsungan Baladena.ID dan Militan.Co, Abah Nasih juga mengeluarkan patron bahwa satu tulisan di Baladena.ID dan Militan.Co lebih baik dibandingkan dengan seribu tulisan di media online, lima ratus tulisan di media cetak lokal, serta lebih baik dibanding 100 tulisan di media cetak nasional.

Tidak hanya berawal dari sini, sejak masa mahasiswa, Abah menggaungkan dan mengajarkan bahwa menulis itu kebutuhan bagi siapapun, terutama akademisi. Abah aktif menulis di koran cetak lokal maupun nasional dan honor dari menulis itu digunakan untuk membiayai kuliah dan aktivitas organisasi yang diikutinya. Tidak hanya untuk diri sendiri, di manapun tempat ia selalu mengajarkan ilmu menulis itu mudah dan menyenangkan. Aktivitas ini akan membuat orang meningkat kecerdasannya, karena orang yang menulis tentu harus membaca, bukan?

Membaca dan menulis adalah inti awal dari kegiatan literasi. Tidak hanya mengkonsumsi, tetapi juga memproduksi ide dan gagasan melalui tulisan. Dengan kebiasaan menulis, kemampuan linguistik verbal dalam berbicarapun akan serta merta meningkat, karena logika akan terbangun runtut dengan sendirinya. Dalam konteks yang lebih dalam, kegiatan menulis akan memaksa orang untuk memecahkan masalah yang ada, baik pemahaman dalam kerangka teoritik maupun realitas sosial yang ada di masyarakat. Dan inilah, puncak kegiatan literasi yang sesungguhnya.

Puncaknya puncak, buku yang ada di tangan pembaca sekalian inilah sebagai pengukuhannya. Semua penulis yang ada di dalam buku ini, hampir bisa dipastikan mereka menjadi “anak-anak literasi” progresif yang dididik oleh Abah Nasih. Jadi, apakah berlebihan atau bahkan salah jika penulis menyebut Dr. Mohammad Nasih M.Si sebagai seorang Bapak Literasi, atau lebih kerennya Abah Literasi?

Pembaca sekalian boleh saja tidak sependapat dengan penulis, dan bahkan menganggap Penulis terlalu lebay dan mengada-ada. Namun tetap saja, bagi penulis, Mohammad Nasih adalah seorang Abah Literasi.

Oleh: M. Arif Rohman Hakim, Disciple 2013 Monash Institute, Pimpinan Redaksi (Pimred) Baladena.ID dan Militan.co

Editor: Anzor Azhiev

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *