Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengasuh Sekolah Alam Planet NURUL FURQON (NUFO) Mlagen, Rembang; Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ.
Pondok pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan dengan fokus disiplin ilmu-ilmu keislaman. Dalam satu dekade terakhir, banyak pesantren yang mengakomodasi kurikulum nasional, terutama dengan mendirikan sekolah formal, atau berkolaborasi dengan sekolah formal yang sudah ada, sehingga fokus kajiannya meluas. Bahkan beberapa di antaranya juga mulai tertarik dengan gagasan pengembangan kewirausahaan.
Memang sesungguhnya tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan non-agama. Dan untuk berjuang dalam dakwah Islam, juga memerlukan kekuatan finansial yang cukup. Terlebih lagi, Nabi Muhammad saw. menjalani kehidupan sebagai pengusaha, menikah dengan pengusaha super kaya di zamannya, lalu menghabiskan kekayaan itu di jalam dakwah Islam.
Karena perubahan paradigma itu, sesungguhnya pesantren menjadi semakin menarik dijadikan sebagai pilihan tempat anak menjalani proses pendidikan. Bahkan dengan paradigma lama pun, pondok pesantren memiliki kelebihan yang mestinya membuat para orang tua memilihnya sebagai tempat bagi anak-anak mendapatkan ilmu-ilmu yang diajarkan di dalamnya saat mereka masih belia, sebelum mereka menapaki jalan keilmuan yang sering dianggap non-agama dan juga profesi untuk menunjang kehidupan yang berkualitas paripurna.
Setidaknya, ada tujuh alasan memasukkan anak ke dalam pesantren, yaitu:
Pertama, ilmu agama sesungguhnya adalah ilmu dasar umum. Orang dengan profesi apa pun, dokter, insinyur, akuntan, pengusaha, dll, memerlukan panduan hidup yang pasti, agar memiliki visi dan juga misi hidup yang jelas, tidak hanya jangka pendek di dunia, tetapi juga jangka panjang selamanya di akhirat. Dengan memahami panduan agama secara benar, maka kehidupan yang baik (hasanah), baik di dunia maupun di akhirat akan bisa terus diupayakan.
Kedua, agama Islam bersumber dari al-Qur’an dan sunnah atau hadits Nabi Muhammad saw. yang menggunakan bahasa Arab. Lebih dari itu, pemahaman keagamaan sesungguhnya lebih banyak dengan cara periwayatan, tidak asal kelihatan atau terasa masuk akal kemudian dianggap sebagai kebenaran dari Allah.
Misalnya, ketika melakukan mash al-khuffain (membasuh kedua sepatu) karena memakai sepatu yang menutup mata kaki, yang dibasuh adalah bagian atas. Sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib, seandainya agama ini semata-mata harus sesuai dengan pemikiran manusia, maka yang mestinya dibasuh adalah bagian bawahnya yang kotor, bukan malah bagian atasnya yang relatif bersih.
Untuk memahami bahasa Arab sampai bisa digunakan sebagai alat untuk memahami al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad, jalan yang paling strategis adalah masuk pesantren. Sebab, pesantren adalah lembaga pendidikan yang memiliki fokus sampai kepada mempelajari ilmu alat, yang paling sederhana adalah nahwu dah sharaf. Semakin dini mempelajarinya, maka akan semakin mudah memahaminya.
Ketiga, untuk mempelajari kaidah-kaidah yang menjadi alat untuk menangkap dan mengikat ilmu pengetahuan, sebagiannya harus dihafalkan. Menghafal dengan bersama-sama lebih efektif untuk mencapai hasil yang optimal. Terutama dalam usia anak-anak, dengan kebersamaan di pesantren, aktivitas menghafal yang dimenej dengan baik bisa menjadi aktivitas yang tetap menyenangkan tak ubahnya melantunkan nyanyian yang diulang-ulang.
Saya memiliki pengalaman yang membuat saya mendapatkan pelajaran sangat berharga. Kira-kira empat tahun lalu, seorang senior, salah satu anggota DPR RI, meminta saya mengajarinya berbahasa Arab agar ia bisa memahami al-Qur’an.
Karena saya merasa akan bisa menyampaikan materinya dengan mudah, karena hanya perlu menghafal beberapa pola kata dalam amtsilat al-tashrifiyyah, saya mengatakan kepadanya untuk mengalokasikan waktu sehari saja untuk belajar. Semua agenda pada hari yang telah kami tentukan, ia hapus.
Hari itu hanya akan digunakan untuk belajar bahasa Arab. Sampai saatnya tiba, dan kami sudah menjalani proses dengan sangat serius. Namun, yang terjadi ternyata di luar bayangan. Saat menghafalkan tashrif yang terdiri atas tiga huruf, ternyata pada pengulangan kelima, senior tersebut sudah merasa kesulitan. Sampai akhirnya ia angkat tangan. Baru sampai pertengahan siang, agenda telah berubah menjadi sekedar bincang-bincang tentang politik yang kian dikuasai oleh para oligarkh yang jahat.
Itu bukan pengalaman pertama dan terakhir. Senior yang lain yang berkarya di dunia akademik, di perguruan tinggi excellent, mengajukan permintaan yang sama persis. Gelar akademiknya di kampus juga level puncak. Hal yang sama kami lakukan.
Namun, ternyata hasilnya sama saja. Ini yang kemuduan membuat saya bertanya: kenapa para senior itu mengalami kesulitan, sementara anak-anak mereka yang belajar hanya dalam sepekan pada masa liburan sekolah di Monash Institute Semarang bisa menghafalkan materi dengan mudah, bahkan menguasai materi tashrif yang biasanya dipelajari bertahun-tahun hanya dalam waktu kurang dari sepekan.
Sebab, pesantren kilat untuk para siswa SD dan SMP yang sejak lima tahun lalu diselenggarakan di Monash Institute Semarang itu hanya dalam waktu sepekan saja. Karena dua kejadian itu, saya mulai melakukan pengamatan pada Sancil, sebutan untuk para santri kecil yang dikelola oleh para mentor di Monash Institute Semarang.
Pada hari pertama, ternyata anak-anak yang sebelumnya bahkan tidak pernah mendengarnya, bisa menghafalkannya. Penyebabnya adalah mereka menghafalkan secara bersama-sama. Mau makan menghafal beramai-ramai, habis makan menghafal beramai-ramai, mau mandi menghafal lagi, mau tidur menghafal juga.
Nah, yang membuat mereka tidak putus asa seperti para senior adalah saat di antara mereka lupa, mereka mendengar yang lain yang ingat dan melafalkannya. Demikian sebaliknya, dan terjadi secara berulang-ulang sampai mereka hafal dan merasakan bahwa menghafalkan itu sangat mudah, bagaikan menyanyi Garuda Pancasila.
Keempat, anak memiliki waktu yang penuh untuk hanya belajar dengan fokus. Berbeda dengan jika di rumah, anak seringkali terganggu dengan aktivitas-aktivitas lain yang mengganggu proses belajar. Pada saat yang sesungguhnya sedang memiliki mood yang sangat baik, pada saat yang bersamaan orang tua, saudara, atau anggota yang lain dalam keluarga mengharuskan untuk meninggalkan aktivitas belajar.
Belum lagi di rumah anak-anak lebih tertarik dengan media televisi dan game on line. Di pesantren, aktivitas bermain bisa dilakukan dengan manual, sehingga lebih menggerakkan fisik yang bisa membuat lebih sehat.
Kelima, di pesantren terdapat lebih banyak pendidik, baik kiai, ustadz, guru, mentor, maupun senior yang bisa membantu proses belajar dalam berbagai disiplin ilmu. Terlebih di antara elemen pendidikan adalah pembiasaan, sehingga memerlukan pengulangan. Dengan berada dalam lingkungan yang di dalamnya terdapat pendidik yang mengajarkan dan menjadi contoh, juga banyak teman, maka proses pembiasaan itu akan lebih mudah untuk dilakukan. Nuansa kebersaan akan membuat sesuatu yang bagi kebanyakan orang berat dilakukan akan menjadi relatif ringan.
Keenam, melatih anak untuk hidup mandiri. Di pesantren, anak harus mulai berlatih untuk menyelesaikan persoalan kecil-kecilan dalam hidup yang mereka jalani. Dengan tinggal jauh dari orang tua, mereka dituntut untuk menyelesaikan sendiri persoalan hidup yang biasanya selalu diatasi oleh orang tua atau bahkan pembantu saat di rumah.
Di antara yang paling remeh temeh adalah mencuci baju, merapikan kamar, mengatur waktu, dll. Kedisiplinan akan menjadi salah satu kebiasaan yang jika ditekankan terus, maka akan menjadi salah satu karakter.
Ketujuh, membiasakan anak dengan lingkungan yang berbeda karena di dalamnya terdapat berbagai karakter manusia yang datang dari berbagai penjuru. Terlebih pesantren besar, tentu saja asal santrinya dari berbagai daerah, suku, dan juga golongan.
Dengan melihat secara langsung berbagai perbedaan yang ada itu, anak akan mulai berlajar memahami bahwa ada berbagai perbedaan yang menuntut mereka untuk saling memahami dan menghargai.
Tentu saja, orang tua harus benar-benar memilihkan pesantren yang memiliki miliu untuk membangun karakter yang kuat. Jangan sampai anak dimasukkan di pesantren yang ala kadarnya, sehingga tidak menantang anak untuk meningkatkan kualitas diri setiap saat.
Karena itu, harus dipastikan bahwa pesantren yang menjadi pilihan memiliki ustadz-ustadz yang berkualitas dengan jumlah yang cukup. Rasio ustadz dan santri benar-benar rasional untuk pendidikan santri sampai pada taraf mengenali mereka secara personal, sedetil-detil potensi-potensi paling terpendam mereka.
Sebab, para santri berkualitas secara umum tidak lahir dari forum yang di dalamnya ia hanya menjadi pendengar dari pengajian massal. Santri yang bisa diharapkan jadi ulama’ adalah mereka yang memiliki kesempatan aktif melakukan praktik, baik dalam membaca kitab, berpidato, berdebat, dan aktivitas-aktivitas yang menunjang peningkatan kualitas diri lainnya. Merekalah yang akan menjadi pribadi yang setidaknya independen secara intelektual, tidak hanya mengikuti pendapat orang lain. Wallahu a’lam bi al-shawab.






