BERI MAKAN, LALU PENDIDIKAN!

Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengajar Ilmu Politik di FISIP UMJ Jakarta, Guru Utama di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang, dan Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO, Rembang

Pantas saja al-Qur’an memberikan perhatian yang bisa dikatakan sangat besar pada urusan makanan. Sebab, makanan berpengaruh sangat signifikan pada kesehatan dan juga kecerdasan. Dalam konteks kecerdasan, tumbuh kembang otak sangat berkait erat dengan asupan nutrisi yang diberikan. Asupan gizi yang kurang, bahkan bisa menyebabkan stunting.

Al-Qur’an menekankan dengan menyatakan secara berulang-ulang untuk makan bukan hanya yang halal, tetapi juga yang thayyib (baik).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Bacaan Lainnya

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (al-Baqarah: 168)

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (al-Maidah: 88)

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Anfal: 69)

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (al-Nahl: 114)
Hanya saja sayang, isyarat al-Qur’an untuk memakan makanan yang baik ini, belum bisa ditangkap secara tepat oleh sebagian umat Islam. Bahkan sebagian besar tidak memberikan perhatian sama sekali, sehingga ungkapan yang muncul dari mereka adalah “makan yang penting halal”. Jarang sekali muncul ungkapan “makan yang penting halal dan thayyib” sebagaimana perintah al-Qur’an di atas.
Karena perhatian yang sangat besar pada hal makanan ini, al-Qur’an bahkan mengecam orang yang tidak mau mendorong untuk memberi makan kepada orang miskin. Orang yang demikian dimasukkan dalam kategori orang yang mendustakan agama.
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ – فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ – وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (al-Ma’un: 1-3)
Perspektif al-Qur’an ini sangat masuk akal, karena makanan ternyata memiliki implikasi yang sangat besar kepada aspek-aspek yang lain dalam kehidupan. Secara lebih spesifik berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan. Karena itulah, urusan makanan ini harus mendapatkan perhatian yang cukup, tidak boleh diabaikan. Isyarat untuk memberikan perhatian ini juga bisa ditemukan di dalam al-Qur’an.
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ – أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا – ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا – فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا – وَعِنَبًا وَقَضْبًا – وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا – وَحَدَائِقَ غُلْبًا – وَفَاكِهَةً وَأَبًّا
Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, Anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, (Abasa: 24)
Al-Qur’an juga menyebut makanan dan minuman yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Yang secara tegas disebut adalah anggur, zaitun, buah tin, kurma, unggas, ikan, delima, jahe, pisang, timun, bawang putih dan merah, sayur-sayuran, susu, madu, bahkan sampai air gunung.
وَجَعَلْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ شَامِخَاتٍ وَأَسْقَيْنَاكُمْ مَاءً فُرَاتًا
Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar? (al-Mursalat: 27)

Pemberikan makanan dan minuman yang seimbang, akan membuatkan proses tumbuh kembang manusia terjadi secara optimal. Dan hanya jika tumbuh kembang terjadi secara optimal, maka pendidikan juga akan berhasil secara optimal. Namun, ini sering tidak diperhatikan. Perhatian hanya diberikan kepada proses pendidikan, tetapi mengabaikan kualitas SDM yang pada awalnya sangat dipengaruhi oleh makanan. Inilah yang menyebabkan proses pendidikan yang sudah dilakukan secara benar, bahkan sudah meniru sistem pendidikan di negara-negara yang dianggap berhasil melahirkan SDM berkualitas, tetapi ternyata tidak menghasilkan hasil yang sama. Ini karena kualitas berbeda in put lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dengan proses yang sama. Dengan kata lain, jika kualitas in put sebuah lembaga pendidikan berbeda, walaupun diberi perlakuan yang sama, maka hasilnya juga akan berbeda.

Karena itu, kesejahteraan sesungguhnya merupakan prasyarat bagi keberhasilkan proses pendidikan. Setiap keluarga harus memiliki kemampuan untuk menjamin anak-anak mereka mendapatkan asupan makanan bergizi seimbang sejak pembuahan. Tak hanya itu, faktor kesehatan ibu juga sangat menentukan. Untuk memastikan keduanya terjamin, maka peran negara sangat diperlukan. Dan ini bisa terwujud apabila negara benar-benar berperan. Dalam konteks Negara Republik Indonesia, negara harus benar-benar menjalankan amanat konstitusi negara, mulai dari memberikan penddikan dan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan. Dengan pendidikan, warga negara akan memiliki pengetahuan tentang apa yang harus mereka lakukan. Dengan pekerjaan yang layak, mereka akan mampu memenuhi kebutuhan minimal harian mereka untuk menjadi SDM yang berkualitas. Dengan demikian, setiap anak yang lahir akan menjadi aset, bukan potensia beban negara. Mereka inilah yang akan bisa dididik untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang akan mampu mengelola SDA yang dimiliki oleh negara untuk terus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmjuran seluruh warga negara. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *