Untaian Perasaan

Internet

 

Madu yang berceceran bahkan tak mengundang satu pun semut untuk mengecupnya

Semilir angin tak sedikitpun menghilangkan rasa gerah di rongga dada

Jejak kaki melangkah cepat menjauhi hari yang merayap gelap

Bacaan Lainnya

Di bawah sinar rembulan aku amati kembali kenangan yang pernah kita lakukan

Kenangan yang telah kita ukir dengan kebahagiaan

Kini berbanding terbalik dengan kenyataan

Suasana hening, angin semilir, dan hati yang tak lagi terusik

Membuatku termenung dalam kesendirian

Meratapi nasib setelah kau pergi meninggalkan

Bulan begitu bersahabat dengan egoisnya

Menyimpan cahaya sendiri sehingga tak menyinari hati

Mengganti garis lengkung bibir menjadi garis lurus horizontal

Membuat orang yang memandang tak berkesima

Bila kau tanyakan mengenai rasa sakit?

Tembok raksasa tidak akan membuat air mataku berhenti mengalir

Hingga kini ku mulai untuk menerjang melawan badai yang mengguyur pipi ku

Secepat hembusan nafas pertemuan berganti dengan perpisahan

Menyuguhkan luka yang membekas lama di dada

Seolah-olah tangisanku antri dengan rapi untuk mengisi hariku yang selalu gembira

Mungkin ini sudah menjadi jalan dari Sang Kuasa

Kata kita akan selalu bersama, kini berubah menjadi asa

Sholawat-sholawat yang dilantunkan, seakan-akan memaksaku mengingat akan kata perpisahan

Suara darbuka, dimainkan sengan jari-jari yang begitu lincah menjadi pukulan yang menggetarkan hati

Tak dapat menahan air mata seolah aku bingung harus bagaimana

Tersesat di dalam perasaan yang ku bangun tanpa bantuan siapa pun

 

Oleh: Erina Febri

 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *