Kurban: Wujud Rasa Syukur dan Takwa

 

Ibadah kurban ialah menyembelih hewan ternak yang dilakukan bertepatan dengan hari Raya Idul Adha yang pada tahun ini jatuh pada Ahad 10 Juli. Perintah untuk berkurban telah termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Firman Allah Ta’ala, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar:2).

Sebenarnya, ibadah kurban sudah ada sejak zaman Nabi Adam as. Pada saat itu, putra Nabi Adam (Habil dan Qabil) lah yang melakukannya. Akan tetapi, hanya salah satu dari keduanya yang Allah terima kurbannya, yaitu Habil (Al-Maidah:27).

Namun, kisah terpopuler yang kebanyakan orang mengetahuinya ialah pada masa Nabi Ibrahim as, yang kemudian menjadi petunjuk atau acuan umat Islam dalam melaksanakan ibadah kurban. Berawal dari mimpi Nabi Ibrahim yang dalam mimpinya ia mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya sendiri (Ismail). Ibrahim pun melakukannya. Namun yang terjadi sungguh diluar nalar. Rencana itu berubah. Ketika hendak menyembelih anaknya, atas dasar kesabaran keduanya, maka digantilah Ismail oleh Allah menjadi seekor hewan kurban yang besar (domba).

Bacaan Lainnya

Dari kejadian itulah asal mula perintah berkurban bagi umat Islam. Penyembelihan hewan kurban ini biasa disebut dengan al-udhiyyah. Dinamakan demikian, karena sesuai dengan waktu pelaksanaannya yaitu ketika hari raya Idul Adha.  Abdurrahman bin Muhammad Al-Baghdady menjelaskan tentang makna udhiyah, menurutnya, udhiyah merupakan sesuatu yang disembelih (berupa hewan ternak) pada hari Adha untuk disedekahkan kepada fakir miskin.

Sebagai umat Islam yang memiliki kemampuan (rezeki) yang cukup, sudah seharusnya untuk berkurban ketika hari Raya Idul Adha. Melihat banyaknya keutamaan dari ibadah kurban. Berkurban menjadi salah satu amal yang dicintai Allah. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah “Tidak berbentuk suatu ibadah yang dilakukan manusia pada hari qurban yang lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban yang telah dipotong kelak pada hari kiamat akan datang lengkap dengan tanduk, kuku, dan rambutnya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban telah diterima oleh Allah SWT sebelum mengalir ke tanah.”

Sebagai wujud upaya rasa syukur kita kepada Allah, terhadap nikmat-Nya yang begitu banyak, maka dengan berkurban lah salah satu cara kita bersyukur. Karena tidak hanya dengan ucapan Alhamdulillah saja bentuk syukur kita, akan tetapi juga dibarengi dengan perbuatan. Ketika datang hari raya Idul Adha yang didalamnya terdapat ibadah kurban, kita bisa menyembelih hewan yang dikurbankan kemudian membaginya kepada fakir miskin atau yang membutuhkannya.

Dari kejadian pada zaman Nabi Ibrahim, maka atas dasar kesabaran ayah dan anak, berupa ketaatannya pada Allah dan kecintaan pada-Nya yang begitu besar. Menjadikan cobaan anak Ibrahim yang tadinya hendak disembelih diubah menjadi seeokor domba. Ini merupakan hasil dari pengorbanan Ibrahim, yaitu dengan lepasnya cobaan yang diberi Allah kepadanya. Sudah sepatutnya setiap muslim mengambil hikmah dari peristiwa ini. Memiliki kesabaran yang tinggi, dan juga ketaatan kepada Allah. Mengesampingkan segala yang berkaitan dengan hawa nafsu, kesenangan semu dan mendahulukan kecintaan pada Allah. Sehingga mencapai pada derajat takwa.

Katakanlah, “sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162). Dalam ayat tersebut, ada lafadz “nusuki” yang diartikan melakukan ibadah kurban dimusim haji dan umroh. As-Saddi, diriwayatkan oleh As-Sauri, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa makna dari “nusuki” ialah kurbanku. Bahwa shalat yang kita lakukan, ibadah yang kita amalkan, itu hanyalah untuk Allah semata (lillah).

Keikhlasan dan ketakwaan menjadi suatu pencapaian dalam melakukan Ibadah kurban, bukan hanya sekedar daging dan darah hewan kurban. Allah SWT dalam firmannya,

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Qs. Al Hajj: 37)

Ibadah kurban bukan hanya sekadar membeli hewan ternak kemudian menyembelihnya, tapi lebih dari itu. Juga bukan daging dan darah dari hewan kurban yang Allah harapkan, karena Dia tidak membutuhkan segala sesuatu. Allah ingin melihat bagaimana niat kita, sudah benar atau belum, juga hati kita, keikhlasan kita, dan adanya landasan raja’ (penuh harap) dari seorang hamba.

Maka, melalui surah Al-Hajj ayat 37 kita dapat mengambil pelajaran atau motivasi ketika seseorang berkurban. Pelajaran itu ialah ikhlas semata-mata hanya mengharap ridho Allah, bukan justru dengan niat riya’ atau memamerkan banyaknya harta yang dimiliki. Apalagi kalau menjalankannya sekadar rutinitas. Akan tetapi, kita sebagai umat Islam harus senantiasa menanamkan niat tulus dan ikhlas dengan seluruh tekad kita kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *