Al-Ummu Madrasah al–’Ulaa. Idza A’dadtahaa, A’dadta Jaylaan Tayyiban al-A’raq. Syair Arab ini bermakna, “Ibu adalah sekolah pertama untuk anaknya. Jika kamu mempersiapkannya, maka kamu mempersiapkan generasi yang baik.”
Anak akan dididik pertama kali oleh ibunya bahkan semenjak dari dalam kandungan. Ibu yang baik dan mempunyai kapasitas kemampuan yang mumpuni akan dapat mendidik anaknya, baik dari segi intelektual, tingkah laku maupun tutur kata. Apalagi anak-anak pada masa golden age (0-5 tahun), 50 persen kecerdasan untuk masa depan akan terbentuk pada masa ini dan masa untuk mengenal sosialisasi.
Masa golden age adalah masa ketika otak anak sedang masa terbaiknya, anak akan sangat mudah mengingat dan menghafal. Ibu yang paham akan pengetahuan akan lebih memaksimalkan masa golden age untuk mempersiapkan anaknya, seperti hafalan-hafalan, pengetahuan-pengetahuan dan lain-lain. Ibu yang cerdas akan mempersiapkan dengan baik terutama pada masa-masa ini.
Bahkan semenjak di dalam kandungan, ibu diibaratkan seperti sedang orang yang bersemedi. Bersemedi dalam artian menjaga segalanya. Menjaga ibadahnya agar lebih giat, mejaga lisannya agar senantiasa mengatakan yang baik-baik, menjaga perilaku dan terutama menjaga emosinya.
Sementara ayah juga memiliki peran yang sangat penting. Menurut penelitian, Gen kecerdasan berada di kromosom X, sedangkan wanita sendiri membawa dua gen kromoson X. Artinya anak akan lebih mungkin mendapatkan kecerdasan dari ibu, sedangkan ayah menurunkan karakternya kepada anak, seperti fisik (tinggi badan, warna mata, dll).
Untuk itu, ayahlah yang akan berperen dalam melatih kedisiplinan, pemberi perhatian, menjadi teladan, dan pemberi motivator. Dalam sebuah penelitian, anak yang dekat dengan ayahnya akan memiliki rasa keberanian, pertahanan diri yang baik dan emosi yang lebih stabil karena merasa memiliki pelindung.
Namun perlu diingat bahwa bukan berarti ayah tidak perlu pintar dan cerdas. Seorang ayah juga harus memiliki kecerdasan, ilmu yang luas dan mumpuni bahkan harus lebih baik dari ibu. Bukan hanya kecerdasan IQ (intelektual), tetapi juga Kecerdasan EQ (emosional).
Tugas ayah adalah membawa karakter. Berarti harus juga pandai dalam membentuk karakter anak dan juga ibunya. Sebagai kepala keluarga, selain mencari nafkah ayah juga wajib pandai dalam menghadapi segala permasalahn yang ada, baik masalah dari luar maupun dari dalam.
Cerdas dalam intelektual juga tidak cukup, emosional juga penting. Misal, ketika terjadi cekcok rumah tangga, ibu sebagaiman kodrat perempuan yang selalu mengedepankan perasaan akan mudah terbawa suasana. Sedangkan ayah yang cerdas akan menyikapinya dengan bijak.
Dari sinilah, kita pahami bahwa mendidik anak bukan suatu hal yang mudah. Diperlukan tingkat kematangan dan persiapan yang lebih dari kedua belah pihak. Ayah tidak boleh semena-mena kepada ibu karena hanya mau tahu urusan rumah selesai. Begitu pun ibu, ia tidak boleh hanya menuntut ayah untuk terus mencari nafkah yang banyak, bahkan di luar dari kemampuan ayah.
Keduanya harus saling bersinergi. Memiliki visi misi yang jelas terkait bentuk rumah tangga yang akan dibangun. Semua harus benar-benar dipersiapkan. Persiapan ini benar matang buka pada saat anak lahir ataupun saat dalam kandungan. Kematangan ini harus benar-benar siap jauh sebelum itu, yakni sejak kita memilih calon suami atau istri.
Oleh: Helena Fidya Sukma, Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (MKPI) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.






👍👍👍