Bagi santri, menjadi penemu merupakan sebuah pribahasa “bagai pungguk yang merindukan bulan”. Maksudnya adalah sebuah kemustahilan bagi santri untuk menjadi seorang ilmuwan. Padahal, pada masa dinasti Abbasiyah, ilmuwan muslim (yang notabene adalah seorang santri) mencapai masa jayanya. Salah satu contohnya adalah Al-Khawarijmi. Beliau adalah seorang intelektual Islam yang memiliki pengaruh besar dalam pengembangan ilmu matematika dan eksakta. Bahkan, sumbangsih besar Al-Khawarijmi dalam penemuan Al-Jabar nya mendapatkan pengakuan sekaligus pujian dari para sejarawan dan ilmuwan eropa. Antara lain, oleh Phillip K Hitti dalam bukunya The History of the Arabs, yang menyebut Al-Khawarijmi sebagai tokoh utama dalam sejarah awal matematika.
Juga C.A Nallino, seorang ilmuwan besar dalam ilmu pengetahuan, menegaskan bahwa tak ada orang eropa yang dapat menghasilkan karya seperti Al-Khawarijmi.
Selain ketenaran Al- Khawarijmi, Abu Yahya Ibnu Al-Bathriq adalah salah satu tokoh yang bisa dijadikan anutan di bidang kebahasaan. Ia berjasa dalam mempionirkan bahasa untuk kehidupan keilmuwan. Beliau menerjemahkan teks teks yunani kuno ke bahasa arab. Mengabdi kepada Al-Mansur, ia menerjemahkan karya-karya pengobatan besar Galen dan Hippocrates. Ia pun menerjemahkan Tetrabiblos karya Ptolemaos. Meskipun kegiatan penerjemahan ini tak dilakukan secara komprehensif oleh kebanyakan ilmuwan pada kala itu, hal yang dilakukan Ibnu Yahya membuktikan kepada santri bahwa menguasai bahasa sebagai ilmu alat adalah hal yang penting. Karena dengan ilmu alat itulah, manusia bisa mengerti isi dan tujuan buku, juga nengerti tentang kelimuwan yang tak pernah terfikirkan sebelumnya.
Contoh di atas sudah cukup membuktikan bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa santri masa kinipun bisa menjadi seorang penemu. Tetapi, akan sulit bagi santri untuk melangkah lebih jauh jika belum menguasai ilmu alat. Ilmu alat atau bahasa akan mengantarkan kita pada banyak referensi yang berkualitas. Selain Al-Quran, menguasai bahasa akan mengajak santri menengok cara pandang lain. Hal itu tentunya akan membantu santri menambah wawasan dan mengasah daya kritis santri, sebagai modal awal menjadi seorang penemu.
Bahasa sendiri merupakan sistem yang digunakan untuk berkomunikasi untuk memakainya. Bagi manusia, bahasa memili 2 fungsi, sebagai mdia berfikir dan sebagai media komunikasi. Proses berfikir manusia tidak dapat dilepaskan dari bahasa yang dikuasainya karena manusia berfikir melalui bahasa. Gagasan dan pemikiran manusia pun perlu untuk dikomunikasikan dengan orang lain. lagi- lagi, proses pengkomunikasian itu pun menggunakan media bahasa.
Dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan, bahasa memegang peranan yang sangat penting, mengingat bahasa sebagai media berfikir dan berkomunikasi. Sebuah bahasa yang baik untuk pengembangan ilmu pengetahuan adalah bahasa yang mampu melaksanakan dua peran tersebut dengan baik pula. Bahasa sebagai sumber ilmu pengetahuan hendaknya mampu mengungkapkan sekaligus menjelaskan dan merepresentasikan simbol-simbol sebuah konsep dalam suatu ilmu. Ukuran sederhananya adalah kekayaan sebuah bahasa terhadap kosakata-kosakata, terutama yang berkaitan dengan pesan berkonotasi pikiran.
Dalam kaitannya dengan menjadi seorang penemu, bahasa sendiri merupakan alat untuk menguasai ilmu pengetahuan dari Barat ke Timur. Mengapa? Karena bahasa sangat penting dalam pembentukan penalaran ilmiah, karena penalaran ilmiah mempelajari bagaimana caranya menyusun uraian uraian yang tepat dan sesuai dengan pembuktian secara benar dan jelas. Dengan begitu, logika kita akan terasah sehingga menciptakan kemampuan atau daya pikir untuk menangkap ilmu ilmu di berbagai belahan dunia.
Kembali pada pembahasan tentang santri dan bahasa, Mengukur kemampuan dan capaian para santri Indonesia, menggapai taraf Al- khawarijmi atau Abu Yahya Al-Bathriq sesungguhnya bukanlah hal yang mustahil. Maka, langkah awal pengembangan kemampuan bahasa merupakan keniscayaan bagi para santri untuk menjadi al-khawarijmi atau Abu Yahya kedua. Tetapi, sayang beribu sayang. Jangankan mempertebal ilmu alat. Mempelajari bahasa selain bahasa indonesia dan arab saja dianggap tabu bagi kebanyakan pondok konvensional. Mempelajari ilmu asing dianggap mempelajari bahasa orang munafik. Doktrin seperti ini merupakan suatu kesesatan yang nyata karena sangat bertentangan dengan firman Allah dalam kalam sucinya dalam surat Al- Alaq ayat 4,
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ
Dzat yang mengajarkan dengan pena.
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Potongan ayat tersebut menyatakan bahwa Allah mengajarkan manusia tentang apa apa yang tidak diketahui manusia. Maka, kita tak seharusnya menolak setiap ilmu yang sampai pada kita. Sama halnya dengan apa yang terhadi di pondok konvensional. Seharusnya, pondok Konvensional pada umumnya, dan para santri khususnya, berlomba lomba belajar (dalam konteks ini adalah belajar bahasa atau ilmu alat) agar santri tidak salah dalam memahami suatu teks buku, terutama Al-Quran. Dengan begitu, akan terciptalah generasi santri millenial yang diharapkan dapat menjadi penemu, dan membanggakan nama santri yang selama ini dipandang sebelah mata.
Terdapat banyak cara untuk membunuh pribadi santri yang enggan mempelajari bahasa karena doktrin sesat. Penanaman ideologi yang lurus serta pemahaman pada tiap ayat Al- Quran adalah penting. Dalam konteks ini adalah QS. Al-Alaq 4-5. Hingga santri santri muda penerus bangsa memiliki cara berfikir atau visi yang akan membuatnya berkualitas juga berguna di masa depan. Melaksanakan sosialisasi dan pembentukan komunitas bahasa di lingkungan pondok juga dapat mencegah terjadinya kebodohan berbahasa. Tetapi, di atas itu semua, hal yang paling penting adalah dengan menumbuhkan kesadaran diri dari mentalitas budak kebanyakan santri, yang membenci tantangan atau hal baru.
Wallahu alam bisshawab.
Zulfa Amila Shaliha, Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Islam Sultan Agung, Direktur Eksekutif Kartini Literasi







