Akhir-akhir ini, kita sering menjumpai banyak sekali makanan cepat saji yang berbahan dasar daging babi, dilansir dari indowhiz.com, menurut statistik dunia, konsumsi daging babi beberapa tahun terakhir ini menjadi konsumsi daging tertinggi dengan persentase 40 % dibandingkan dengan konsumsi daging-daging lainnya seperti daging ayam atau daging sapi.

Sedangkan dalam data statistik di Indonesia menurut BPS, produksi dan konsumsi daging babi pada tahun 2018 mencapai 60% atau setara dengan 300.000 ton.

Nutrisi yang terkandung pada daging babi menurut penelitian Dr Kalina lestari dikutip dari sehatqu.com adalah 25 kalori, 3,4 gram lemak, 48 mg sodium, dan 22 gram protein.

Nutrisi tersebut dinilai tanpa tambahan garam dan gula. Selain tinggi protein, daging babi juga menyimpan berbagai vitamin dan mineral penting di dalamnya. Mulai dari tiamin, selenium, zinc, vitamin B12, hingga zat besi.
Sesuai pernyataan di atas, mengapa babi diharamkan oleh Allah dalam al-Qur’an padahal mengandung banyak nutrisi untuk memenuhi imun tubuh?
Seperti yang tercantum di dalam surat al-Baqarah ayat 173 :

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَلَآ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Sudah jelas tertera dalam ayat tersebut, bahwa memakan daging babi hukumnya haram, seperti beberapa hal lain yang diharamkan oleh Allah SWT.
Nustri yang terkandung pada daging babi memang banyak, tetapi mudlarat atau kerugian yang akan diperoleh manusia pun lebih banyak lagi. Hal ini dijelasakan dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 219:

Baca Juga  Jabatan, Apa yang Dicari?

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.”

Walaupun ayat ini membahas tentang khamr dan judi, tetapi sangat berkaitan erat dengan hukum mamakan daging babi.

Menurut berbagai penelitian, daging babi memiliki beberapa zat beracun yang bisa membahayakan tubuh manusia. Hasil penelitian dalam British Journal of Cancer dari peneliti Swedia menyebutkan konsumsi 14 ons daging babi olahan dapat menyebabkan peningkatan 19 persen resiko kanker pankreas.

Selain itu, Dosen Prodi Gizi Kesehatan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Harry Freitag mengatakan bahwa daging babi dianggap berbahaya lantaran ada potensi terinfeksi cacing pita. Daging babi memiliki risiko tinggi mengandung parasit Trichinella spiralis atau roundworm, Taenia solium atau tapeworm, dan Toxoplasma gondii dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, daging babi diharamkan dalam al-Qur’an, karena mudharatnya lebih besar dari pada manfaatnya. Wa Allahu a’lamu bi ash-shawwab.

 

Oleh: Sufiatun Handayani, Mahasiswa Ilmu Alqur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

Dampak Covid 19 bagi Pendidikan Indonesia

Previous article

Bukan Sekadar Mengajar

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan