Setiap individu pasti memiliki kebutuhan primer yang harus dipenuhi atau tercukupi. Banyak juga kebutuhan primerv tersebut menjadi suatu hal yang sangat urgent dan benar benar tidap bisa lepas dari individu tersebut. Semua itu bisa dilihat dari kebiasaan atau keseharian setiap individu. Kebutuhan primer tersebut meliputi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Jika diantara hal tadi terpenuhi, maka bisa dikatakan individu tersebut sudah tercukupi dalam hal hal yang pokok.
Namun berbeda dengan realita yang ada. Kadang terdapat individu yang kesehariannya melebihi daya yang mereka punya. Kadang mereka lebih mementingkan untuk memenuhi gaya trend baik itu trend yang memang dia tiru dari orang lain maupun untuk menutupi rasa gengsinya, karena bisa dibilang ketinggalan trend.
Masalah tersebut tidak sedikit kita temui, bahkan orang orang yang bernotaben dibawah rata rata secara ekonomi, mereka dengan nekad untuk mementingkan nafsu gengsi disbanding dengan kemampuan mereka dalam mencukupi kebutuhannya.
Hal ini sedang marak di media sosial yang menyerang anak muda. Mereka lebih mementingkan rasa gengsinya tadi dan memiliki sifat konsutif, yaitu lebih memilih mengkonsumsi barang barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh mereka. Menurut Mowen dan Minor (2002). Perilaku konsumtif merupakan perilaku yang tidak memiliki pertimbangan rasional, melainkan dengan membeli produk atau jasa tertentu untuk memperoleh kesenangan atau perasaan emosi.
Sudah tidak heran lagi jika penduduk di Indonesia ini mengalami penurunan dari segi semangat untuk memperkaya diri. Memang untuk memenuhi semua kebutuhan baik itu yang bersifat primer maupun sekunder, diperlukan adanya kerja keras yang nyata dan menghasilkan sesuatu yang signifikan. Jika hal itu terjadi pada semua individu di Indonesia ini.
Sebenarnya hal tersebut yang diharapkan oleh bangs aini. Akan tetapi, berbalik halnya dengan kondisi individu saat ini yang mereka justru malah menginginkan kenikmatan semata dan menutupi gengsi dari pada harus bekerja keras. Sudah terlihat bahwa kebanyakan dari masyarakat kita sudah berbalik cara berfikirnya dan mungkin sebab pengaruh dari dunia barat.
Sebagai warga Indonesia yang bernafaskan islam, sudah sepatutnya untuk mengikuti ajaran ajaran tauladan kita yaitu Nabi Muhammad SAW. Jika dilihat dari sejarah, Beliau merupakan sosok pemimpin dan contoh yang luar biasa dengan memberikan contoh kepada umatnya agar menjalani hidup dengan berpenampilan biasa saja.
Banyak diantara kita yang salah mengartikan dan memahami bahwa sebenarnya Nabi kita merupakan sosok pemimpin sekaligus pengusaha yang kaya raya. Beliau bekerja keras dengan usaha perdagangan guna sebagai modal untuk jihad dalam memperjuangkan islam.
Meskipun Beliau kaya, Beliau tetap hidup layaknya masyarakat Makkah pada umumnya. Berpenampilan sederhana dan berperilaku yang hasanah. Karena kekayaan yang Beliau miliki digunakan untuk perjuangan umat islam.
Lantas, sebagai seorang umat yang masih jauh baik dari segi inteklektual dan apalagi dari segi finansial, apakah kita masih mengikuti trend yang justru malam menyulitkan dan membuat hidup kita menjadi susah?
Maka tidak heran jika umat kita begitu payah. Mulai dari permasalahan tentang memenuhi kebutuhan primer yang dikesampingkan dan memilih menutupi gengsi, justru hal itu akan membuat individu menjadi semakin tidak maju.
Memenuhi suatu keinginan hidup, atau gaya hidup seharusnya dengan mempertimbangkan kemampuan kita dengan melakukan usaha usaha yang signifikan agar dapat memenuhi gaya dan tidak mengorbankan daya.





