Menangislah, saat kau ingin menangis. Jangan biarkan ia menyesak. Biarlah tumpah, biarlah terwadah.

Menangis, barangkali itu yang sering kita lakukan saat suasana hati sedang gundah gulana. Saat dimana kita merasa dunia tidak lagi berpihak. Namun, tidak jarang pula kita menangis saat mendapati sesuatu yang menggembirakan. Saat tertawa tidak lagi mampu melukiskan betapa bahagianya kita saat itu, maka menangis adalah pilihan terbaiik.

Berbicara tentang menangis, aku tertarik dengan salah satu status WA yang kamu buat tadi siang.  Setidaknya, beginilah status WA yang kamu tulis :

Cuma mau tanya, “pernah gak sih kalian ngerasa bener-bener udah capek bgt sama keadaan atau kegiatan kalian? Terus kalian sengaja ke kamar mandi atau tempat sepi Cuma buat nangis karena saking capeknya. Setelah menangis baru ngerasa lega dan capek sedikit berkurang. Itu tuh lagi sering banget dilakuin akhir-akhir ini karena memang benar-benar udah capek. Jadi larinya ke nangis. Ada yang pernah ngalamin?

Sebagian orang menganggap bahwa menangis hanya untuk mereka yang lemah. Bagiku, anggapan seperti ini merupakan sesuatu yang keliru. Begitu juga dengan ungkapan bahwa menangis tidak menyelesaikan masalah.

Ada beberapa kondisi yang memaksa kita untuk jatuh. Dimana yang dapat kita lakukan hanyalah menangis. Tersengguk-sedu, menyadari betapa lemahnya diri. Betapa kita sebagai manusia, tidak bisa menentukan.

Dan menangis, menurutku adalah ambang batasnya seseorang dalam menggotong kekuatannya. Bukan berarti dia lemah, akan tetapi berbulir air yang mengalir dari kedua matanya adalah sisi terkuat dari dirinya. Itulah saat dimana ia sudah menyadari, bahwa ada Yang Maha Bisa, Yang Maha Menyelesaikan Urusan, Yang Maha Kaya, Maha Memiliki Solusi, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu yang kontras dengan sifat hamba-Nya.

Baca Juga  Fenomena (Jatuh) Cinta Sesama Pengurus HMI

Dan, menahan tangis, yang katanya ‘tidak menyelesaikan masalah’, justru bisa menjadi cabang masalah. Seseorang, tentu beda cara fikir dan menyikapi masalah saat (dipaksa) menahan tangis, dan sesudah melepas tangis. Ia yang menahan tangisnya, cenderung menjadi sempit dan tertekan jiwanya. Kepala serasa diikat, belum lagi dada terasa penuh sesak menyeruak. Sedang ia yang lepas tangisnya, yang telah luruh tumpah bebannya, jiwanya akan menjadi lebih lapang dan ringan tarikan nafasnya. Serta jernih membaca jalan keluar yang ada.

Saat menghadapi mereka yang menangis? Dengarkanlah.. : )

“Seorang laki-laki idaman, bukanlah dia yang menyuruh wanitanya menghentikan tangis. Melainkan, ia yang menyediakan bahu ternyaman untuk melepaskan tangis”

Dengarkanlah, saat ada yang menujumu dengan membawa begitu banyak air mata. Tandanya, dia mempercayakan bahumu sebagai tempat ternyaman melepaskan tangisnya. Menangislah, siapapun yang ingin melepaskan tangisnya. Jangan ditahan, aku tahu. Betapa sesaknya tangis yang dipaksa reda di kelopak matamu. 

Laskar Hidzib
Bukan siapa-siapa. Hanya anak Pasangan petani kampung yang tidak ingin hidupnya berlalu saja tanpa makna. Terobsesi pada kata-kata yang cerah-gerakkan manusia. Senang mendengar dan berbagi cerita.

    Saat Tengah Pandemi, Masih Bisa Ngaji

    Previous article

    Tafsir al-Nashihah Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 6-7

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Zetizen