Hafal atau Pernah Menghafal al-Qur'an?
Istimewa

MEREKA MENUTUP, MAKA ALLAH MENGUNCI

Oleh: Dr. Mohammad Nasih,
Pengasuh Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang. Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI.

Bisa dikatakan sudah selama belasan–bahkan puluhan–tahun, saya mengalami kebingungan atau lebih tepatnya kesulitan dalam memahami kedua ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (al-Baqarah: 6)

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (al-Baqarah: 7)

Kebingungan pertama disebabkan oleh pernyataan di dalam al-Baqarah: 6 yang menyamakan kesudahan langkah memberikan peringatan dan tidak memberikan peringatan. Menurut ayat ini, orang-orang yang disebut dengan “al-ladziina kafaruu” tetap tidak akan beriman. Jika sama saja, mengapa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan ajakan ke jalanNya?

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Nahl: 125)

Jika memang sama, mengapa berkali-kali al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad bertugas untuk memberi peringatan?

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۖ وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka. (al-Baqarah: 119)

وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَ ۗ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Dan Kami turunkan (al-Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (al-Isra’: 105)

Masih sangat banyak ayat lain yang menjelaskan tugas kenabian berupa menyampaikan ajaran Allah, di antaranya menyampaikan berita gembira dan sekaligus peringatan. Tentu saja, tugas tersebut diberikan dan harus dijalankan, bahkan dengan penuh perjuangan, karena ada harapan orang-orang yang awalnya tidak beriman kemudian berubah jadi beriman.

Karena itu, untuk bisa memahami makna al-Baqarah: 6 diperlukan pengaitan dengan ayat-ayat lain dan konteks sosio-historisnya. Dan untuk menangkap maksudnya, harus diawali dengan memahami “al-ladziina kafaruu” sebagai ahl al-kitab Yahudi dan Nashrani (Lihat juga Tafsir al-Thabari). Istilah kafir awalnya sesungguhnya bersifat teknis belaka. Kata kafara bermakna menutupi dan apabila berbentuk isim fa’il maka berarti orang yang menutupi. Yang dimaksud adalah petani yang menutupi biji saat ditanam atau dibenamkan dalam tanah agar tidak dimakan burung. Makna kafir sebagai petani ini bahkan masih digunakan, walaupun hanya sekali, di dalam al-Qur’an.

Baca Juga  Untukmu keyakinanmu & Untukku keyakinanku

كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ

…seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. (al-Hadid: 20).

Setelah Islam datang, kata kafir yang semata bermakna teknis mengalami ideologisasi, sehingga bermakna menutupi kebenaran. Orang kafir sejatinya adalah orang yang mengetahui kebenaran tetapi menutupinya. Karena sikap menutupi itu kemudian berimplikasi kepada mengingkari, maka kafir kemudian diartikan juga dengan ingkar.

Perspektif ini sejalan dengan beberapa ayat yang menyatakan bahwa di antara yang termasuk dalam kategori orang kafir adalah ahl al-kitab dan kaum musyrik.

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (al-Bayyinah: 1)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (al-Bayyinah: 6).

Ahl al-Kitab, baik Yahudi maupun juga Nashrani, menjadi objek kritik keras al-Baqarah: 6, sampai-sampai dikatakan bahwa diberi maupun tidak diberi peringatan, mereka tidak akan mau beriman, karena sesungguhnya mereka sudah tahu yang sebenarnya. Mereka sudah mendapatkan informasi bahwa akan ada seorang rasul akhir zaman yang akan memimpin mereka. Informasi tersebut sangat detil karena memuat ciri-ciri yang spesifik pada diri Nabi Muhammad.

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (al-Baqarah: 146)

Karena sedemikian yakin kepada informasi itu, mereka sering mengancam lawan mereka bahwa suatu saat nanti di bawah pimpinan rasul yang terakhir itu, mereka akan melakukan pembalasan sampai hancur. Namun, yang aneh adalah ketika orang yang diharapkan kedatangannya itu benar-benar ada di hadapan mereka menawarkan kebenaran, justru mereka mengingkari dan mendustakannya.

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (al-Baqarah: 89)

Di dalam al-Baqarah: 146, al-Qur’an menggunakan kata yang berakar dari kata katama, yang merupakan sinonim kata kafara. Inilah kata kunci yang menyebabkan mereka tidak akan mau beriman. Sebab, mereka sesungguhnya telah mengetahui dengan pasti kebenaran yang datang dari Allah. Namun, karena ada faktor-faktor duniawi, mereka justru berpaling dan menolak keras. Karena itulah Allah melaknat mereka, juga murka kepada mereka.

Baca Juga  Salahkah Berpoligami?

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, (al-Baqarah: 159).

Imam Jalaluddin berpendapat bahwa yang dimaksud orang-orang kafir dalam al-Baqarah: 6 di antaranya adalah Abu Lahab dan Abu Jahal. Ini juga sangat mungkin, karena mereka sesungguhnya diam-diam juga mengakui bahwa al-Qur’an yang disampaikan oleh Nabi Muhammad tidak mungkin perkataan manusia. Namun, karena motif mempertahankan gengsi, mereka mengingkarinya. Bukti sejarah tentang hal ini jelas dalam dialog antara Abu Jahal dengan al-Akhnas, pemimpin Bani Zuhrah.

جاء الأخنس بن شريق قائد بني زهرة إلى أبي جهل ابن هشام بن المغيرة ولما اختلى به سأله قائلاً: “أترى محمداً يكذب؟” فقال أبو جهل: “ما كذب قط وكنا نسميه الأمين ولكن إذا كان في بني هاشم السقاية والرفادة والمشورة ثم تكون فيهم النبوة فأي شيء لبني مخزوم؟”.

Karena sikap sebagian ahl al-kitab yang menutupi informasi tentang kerasulan Nabi Muhammad dan mereka menutup hati mereka untuk menerima kebenaran, maka sikap itu membuat hati mereka terkunci mati atau tersegel, sehingga tidak akan bisa terbuka lagi sampai mereka mati. Dalam konteks ini, terdapat korelasi (munasabah) antara al-Baqarah: 6 dengan ayat 5. Dengan kata lain, ayat 6 tidak bisa dipahami tanpa ayat 5.

Ungkapan al-Qur’an ini memiliki kekuatan bahasa yang sangat dahsyat (balaghah), sehingga tidak bisa dipahami sebagai kalimat dalam prosa belaka. Ini bagaikan ungkapan: “Fulan membuat tetangganya yang iri dengki sakit hati karena kesuksesan yang diraihnya“. Tentu saja bukan Fulan yang membuat tetangganya sakit hati disebabkan oleh penyakit hati yang bersarang dalam hatinya, yang tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan yang lebih darinya.

Ini menjawab kebingungan kedua yang seolah Allah yang bertindak aktif mengunci mati hati mereka. Namun, setelah mengunci hati, pendengaran, dan menutup penglihatan mereka, Allah menghukum mereka dengan adzab yang pedih. Seolah ini sebuah kedhaliman yang nyata. Padahal Allah tidak mungkin demikian, karena Allah tidak mungkin bertindak tidak adil.

Para ahli balaghah, terutama dalam aspek ma’ani, sebagaimana dikatakan oleh al-Qurthubi, mengatakan bahwa Allah melekatkan pada hati orang kafir sebanyak sepuluh sifat buruk yaitu: al-khatm (segel), al-thab’ (cetakan), al-dlay(yi)q (sempit), al-maradl (sakit), al-rayn (karat, tutup), al-mawt (mati), al-qasawah (keras), al-inshiraf (berpaling), al-hamiyyah (kesombongan), dan al-inkar (pengingkaran) yang masing-masing dideskripsikan dengan jelas dalam ayat-ayat al-Qur’an.

اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۚفَالَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِ قُلُوْبُهُمْ مُّنْكِرَةٌ وَّهُمْ مُّسْتَكْبِرُوْنَ

Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), dan mereka adalah orang yang sombong. (al-Nahl: 22).

اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَكَانُوْٓا اَحَقَّ بِهَا وَاَهْلَهَا ۗوَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Baca Juga  Macam-macam Metode Penafsiran Alquran dan Penjelasannya

Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, maka Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin, dan (Allah) mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa, dan mereka lebih berhak dengan itu dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Fath: 26).

وَاِذَا مَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ نَّظَرَ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍۗ هَلْ يَرٰىكُمْ مِّنْ اَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوْاۗ صَرَفَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ

Dan apabila diturunkan suatu surat, satu sama lain di antara mereka saling berpandangan (sambil berkata), “Adakah seseorang (dari kaum muslimin) yang melihat kamu?” Setelah itu mereka pun pergi. Allah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak memahami. (al-Taubah: 127).

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. (al-Baqarah: 74)

اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ

Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? (al-An’aam: 122).

كَلَّا بَلْ ۜرَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. (al-Muthaffifin: 14)

وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ

Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. (al-An’am: 125)

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ اٰمَنُوْا ثُمَّ كَفَرُوْا فَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir, maka hati mereka dikunci, sehingga mereka tidak dapat mengerti. (al-Munafiqun: 3)

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَقَتْلِهِمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَّقَوْلِهِمْ قُلُوْبُنَا غُلْفٌ ۗ بَلْ طَبَعَ اللّٰهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا

Maka, (Kami hukum mereka) karena mereka melanggar perjanjian itu dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, serta karena mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa hak (alasan yang benar), dan karena mereka mengatakan, “Hati kami tertutup.” Sebenarnya, Allah telah mengunci hati mereka karena kekafirannya, karena itu hanya sebagian kecil dari mereka yang beriman. (al-Nisa’: 155).

Ayat-ayat di atas makin memperjelas pemahaman bahwa sikap orang-orang kafir yang menolak kebenaran padahal mereka sudah mengetahuinya disebankan oleh orientasi yang bersifat duniawi, sehingga membuat hati mereka tertutup rapat. Akibat lebih lanjutnya, kebenaran tidak bisa dan tidak akan pernah bisa masuk ke dalamnya. Sikap demikian membuat mereka bahkan makin jauh dari kebenaran, bahkan melakukan penentangan kepadanya.

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen Rembang.

    Menangislah

    Previous article

    Hikmah Jum’at-92: Menyikapi Karikatur Kanjeng Nabi (Bagian ke-3/Habis)

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Tafsir