Dua Hikmah Jumat yang lalu menyimpulkan bahwa karikatur Kanjeng Nabi itu, adalah penghinaan kepada Qudwah Hasanah umat Islam, Kanjeng Nabi Muhammad. Bukan urusan yang bikin karikatur dan kita itu sudah pernah lihat beliau atau tidak. Nah, jika Kanjeng Nabi direndahkan semacam itu, bagaimana selayaknya seorang muslim bersikap. Banyak sikap yang diekspresikan oleh umat Islam. Ada yang sampai menghilangkan nyawa, yang justru menimbulkan masalah baru. Ada yang seakan bisa memahami fenomena karikatur Kanjeng Nabi dan justru umat Islam diminta introspeksi mengapa muncul karikatur. Ada pula yang menyarankan lemah lembut sebagaimana Kanjeng Nabi bersikap lemah lembut jika beliau dihina oleh musuh-musuh beliau.

Kelemah-lembutan Kanjeng Nabi, ketika beliau menghadapi orang atau komunitas yang meludahi, merendahkan, bahkan yang melukai beliau sekalipun sudah menjadi gambaran pribadi beliau yang melekat di benak umatnya. Salah satu kisahnya ketika Rasulullah behijrah ke Thaif, di sana beliau tidak mendapatkan respons positif malah justru sebaliknya ditanggapi dengan kekerasan verbal maupun fisik. Lalu, Jibril memberitahukan kepada Kanjeng Nabi bahwa Allah telah mengutus Malaikat Gunung untuk mendatangi Kanjeng Nabi. Berikut ini fragmen dialog beliau sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, Jilid 3.
فقال إن الله قد سمع قول قومك لك وما ردوا عليك ولقد بعث إليك ملك الجبال لتأمره بما شئت فيهم ثم نادانى ملك الجبال فسلم علي ثم قال يا محمد إن الله قد سمع قول قومك لك وأنا ملك الجبال قد بعثنى إليك لتأمرني بما شئت إن شئت تطبق عليهم الأخشبين فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بل أرجو أن يخرج من أصلابهم من يعبد الله لا يشرك به شياء.
(Jibril) berkata: Sesungguhnya Allah telah mendengarkan perkataan kaummu kepadamu, dan respons apa yang dilakukan kepadamu. Sungguh Allah telah mengutus kepadamu Malaikat Gunung agar Engkau menyuruhnya dengan apa yang Engkau mau kepada mereka. Lalu malaikat Gunung menyapaku, dengan bersalam kepadaku. Mandanganu ia berkata: Wahai Muhammad sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu, dan saya adalah Malaikat Gunung. Allah telah mengutusku kepadamu agar Engkau menyuruhku untuk melakukan apa yang Engkau mau. (misalnya) Jika Engkau mau menimpakan dua gunung kepada mereka. Lalu Rasulullah bersabda: Saya berharap kelak akan keluar dari anak turun mereka orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Baca Juga  Bekerjasama dengan Jin

Yang perlu dicatat bahwa, dalil tersebut menunjukkan bagaimana sikap Rasulullah ketika beliau dihina oleh orang lain. Sekali lagi sikap beliau ketika pribadi beliau dihina orang lain. Jadi begini, jika pribadi kita sekali lagi, pribadi kita diolok-olok, diejek-ejek, dihina, dipersekusi, atau lainnya kita harus berittiba’ sebagaimana Rasulullah menyikapi penghinaan kepada dirinya itu.Yakni kita ya harus lemah-lembut dan penuh maaf. Ini beda halnya, dengan sikap sorang muslim jika simbol-simbol keagamaan yang sakral dihinakan. Kanjeng nabi itu bukan hanya sekedar simbol agama, lebih dari itu beliau adalah segalanya bagi seorang muslim setelah Allah.

Pointnya adalah jangan keliru menempatkan dalil. Sebuah dalil itu, harus digunakan secara pas sesuai dengan konteksnya. Misalnya, ini hanya misalnya. Dalil tentang menghormati tamu, itu pas-nya ditujukan kepada tuan rumah. Jangan sampai ada tamu kok menggunakan dalil tentang keutamaan menghormati tamu. Contohnya tamu mengatakan kepada tuan rumah begini, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tamunya. Ini tidak pas, kalau tamunya nekad menggunakannya, itu namanya tamu ndremis alias tamu berjiwa kismin dan tomak. Nah, demikian pula dengan dalil kelemah-lembutan Kanjeng Nabi tadi, itu ya harus ditempatkan pada konteks yang pas pula.

Hla, sekarang untuk melihat bagaimana kita bersikap ketika Kanjeng Nabi dihina, itu bisa merujuk kepada sikap pembelaan beliau kepada shahabatnya. Misalnya bagaimana sikap beliau kepada Sayyidina Ali, yang disampaikan di akhir khutbah beliau di Ghadir Khum, sebagaimana dikutip dalam Manaqib Amiiril Mukminin, Ali bin Abi Thalib berikut ini.
ثم أخذ بيدى على بن أبى طالب فرفعها ثم قال من كنت مولاه فهذا مولاه اللهم وال من واله وعاد من عاده
Lalu (Rasulullah) memegangi tangan Sayyidina Ali dan mengangkatnya kemudian beliau bersabda: Barang siapa yang menjadikan diriku sebagai teman dekat yang dicintai maka orang ini (Sayyidina Ali) adalah teman dekat yang dicintainya, Ya Allah jadikan teman dekat sesiapa saja yang mencitainya dan jadikanlah musuhj sesiapa saja yang memusuhinya.

Begitulah ghirah Rasulullah yang ditunjukkan kepada shahabatnya. Sampai-sampai Rasulullah mengetuk pintu langit, agar Allah menjadikan musuh bagi yang menjadikan Sayyidina Ali sebagai musuh. Ini adalah sikap yang ditunjukkan oleh Rasulullah terhadap salah seorang shahabat beliau. Dan begitulah idealnya ghirah yang ditunjukkan umat kepada Nabinya. Bukan malah bersikap bisa memahami tindakan penghinaan kepada Kanjeng Nabi itu, dan seakan-akan tampil menjadi orang bijak.

Baca Juga  Sudah Witir, kok Shalat Sunnah Lagi

Dalam konteks ini, Sayyidina Umar pernah marah besar ketika Kanjeng Nabi dihina. Kisahnya begini, ada seorang Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah ia seorang Rahib yang telah mengetahui tentang informasi kenabian dan ciri-cirinya. Dari pribadi Kanjeng Nabi, telah teridentifikasi bahwa beliau adalah Nabi. Namun masih ada ciri yang perlu ia buktikan lagi. Ciri itu adalah kelemah-lembutan beliau yang mengalahkan emosinya. Singkat cerita karena kelembutan Rasulullah tersebut, berislamlah dia. Diceritakan bahwa suatu ketika Kanjeng Nabi berhutang kepada dia untuk memenuhi kebutuhan suatu kaum di daerah tertentu, mandanganu kurang 2 atau 3 hari jatuh tempo, Zaid bin Sa’nah mendatangi beliau untuk menagihnya sambil menarik gamis dan kain Kanjeng Nabi, dengan mata melototi beliau dengan mengata-ngatai beliau dengan perkataan yang tidak sopan. Lalu apa yang dilakukan Shahabat Umar bin Khaththab? Berikut ini petikan yang diceritakan sendiri oleh Zaid bin Sa’nah, yang termaktub antara lain dalam al-Mutadrak Imam Hakim, Jilid 3 hal. 700.
فقال زيد بن سعنة: فلما كان قبل محل الأجل بيومين أو ثلاثة أتيته فأخذت بمجامع قميصه وردائه ونظرت إليه بوجه غليظ فقلت له: ألا تقضينى يا محمد حقى فو الله ما علمتكم يا بنى عبد المطلب سيء القضاء مطل ولقد كان لي بمخالطتكم علم ونظرت إلى عمر فإذا عيناه تدوران فى وجهه كالفلك المستدير ثم رماني ببصره فقال: يا عدو الله أتقول لرسول الله صلى الله عليه وسلم ما أسمع وتصنع ما أرى؟ فوالذي بعثه بالحق لولا ما أحاذر قوته لضربت بسيفى رأسك ورسول الله صلى الله عليه وسلم ينظر إلى عمر فى سكون وتؤدة وتبسم ثم قال يا عمر أنا وهو أحوج إلى غير هذا أن تأمرنى بحسن الأداء وتأمره بحسن التباعة إذهب به يا عمر فاعطه حقه وزده عشرين صاعا من تمر قلت ماهذه الزيادة يا عمر قال أمرنى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن أزيدك مكان ما نقمتك قلت أتعرفنى يا عمر؟ قال لا من أنت قلت زيد بن سعنة قال الحبر قلت الحبر
Zaid bin Sa’nah berkata: Sebelum jatuh tempo kurang lebih dau atau tiga hari saya mendatangi beliau saya tarik baju gamis dan kainnya, dan saya memandanginya dengan wajah sangar. Lalu saya berkata: Mengapa kamu tidak memenuhi hak saya wahai Muhammad. Demi Allah saya tahu bahwa kalian Wahai Bani Abdul Muthalib adalah orang-orang yang menunda-nunda dalam menyelesaikan hutang. Dan sungguh saya tahu hal itu karena saya telah bergaul dengan kalian. Mandanganu saya melihat Umar, tampak kedua mata Umar berputar seperti bulan yang berputar, kemudian melempar pandagannya kepadaku seraya berkata: Wahai musuh Allah, mengapa kamu mengatakan kepada Rasulullah perkataan yang belum pernah saya dengan sama sekali dan meperlakukan kepadanya dengan perlakuan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Jika bukan karena ta’dhim saya kepada beliau, sungguh telah saya tebas kepalamu dengan pedangku. Lalu Rasulullah memandangi Umar dengan tenang, damai dan senyum. Kemudian beliau bersabda: Wahai Umar di antara kami berdua ini ada urusan tentang hutang-piutang. Yang baik adalah Engkau menyuruhku untuk menunaikan dengan baik dan menyuruhnya untuk menagih dengan baik pula. Sekarang kamu pergilah dengannya, lalu berikanlah haknya dan tambahilah 20 sok kurma. Saya (Zaid bin Sa’nah) bertanya: Tambahannya ini untuk apa wahai Umar. Ia berkata: Rasulullah saw. Menyuruhku untuk menambahi sebagai tebusan atas kemarahanmu. Saya berkata: Wahai Umar apakah kamu tahu, siapa aku? Ia berkata: Kamu siapa? Saya berkata: Saya Zaid bin Sa’nah. Ia berkata: Zaid bin Sa’nah yang Rahib itu. Saya berkata: Iya, saya yang Rahib itu.

Baca Juga  Penggembala Domba yang Bermental Pemimpin

Dari fragmen dialog itu, tampak betapa Sayyidina Umar tidak terima ketika mengetahui Rasulullah dihina oleh seseorang. Sampai-sampai beliau marah yang teramat-sangat. Akan tetapi Rasulullah meredakan amarah Sayyidina Umar tersebut. Ini analoginya, seperti jika ayah kita dihina oleh orang lain, sudah sepantasnya kita marah. Lalu, ayah kita sebagai orang tua mencoba meredakan amarah kita itu. Tentu tidak pas jika ayah kita dihina orang, mandaganu kita diam saja. Sebagai orang tua, sudah sepantasnya pula jika meredakan amarah anaknya. Di samping itu, sekali lagi sudah pas pula, apabila anak marah manakala orang tuanya dihina-hina oleh orang lain, apalagi jika penghinaan itu terjadi pada Rasulullah yang amat sangat kita hormati. Hanya saja, yang paling penting adalah saluran kemarahan itu harus sesuai konteks (muqtadhal haal) yang tidak menimbulkan masalah baru bagi umat Islam dan kemanusiaan secara mondial.

Demikain Hikmah Jumat kali ini, semoga bermanfaat dan kita senantiasa dimasukkan menjadi golongan yang selalu mencintai Rasulullah, dan kelak mendapatkan syafaatnya. Aamiin. Billaahi fii sabiilil Haq.

Dr. Achmad Maimun, M.Ag.
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah IAIN Salatiga

    Tafsir al-Nashihah Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 6-7

    Previous article

    Ini Pesan Rasulullah SAW Ketika Menghadapi Pemimpin yang Egois

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi