Perkembangan wabah akhir-akhir ini bukan semakin menurun, namun justru trendnya semakin meningkat tak terkendali. Ini tentu membuat banyak orang semakin diliputi kekhawatiran. Hampir seluruh rumah sakit di sekitar kita sudah penuh dengan pasien Covid-19, bahkan untuk sekedar mendapatkan bed pasien harus rela antre, karena saking banyaknya pasien. Keadaan ini menuntut semua pihak untuk senantiasa meningktakan kehati-hatian, dengan cara berdisiplin diri dengan mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Sebagai orang beriman, mengandalkan usaha lahiriah saja tentu belum cukup. Usaha lahiriah harus diimbangi dengan usaha bathiniah, yakni dengan mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah agar terlindungi dari segala dampak negatif dari wabah ini.

Salah satu bentuk usaha bathiniah dalam menghadapi wabah ini adalah dengan banyak membaca doa dan dzikir yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Mengingat Allah dengan melafadzkan asma-asma dan ayat-ayat-Nya tidak hanya menjadi obat bagi penyakit ruhani lebih dari itu juga bisa menjadi penawar bagi penyakit jasmani. Imam as-Suyuthi dalam al-Ithqaan fii Ulum al-Qur’an pernah menjelaskan sebagai berikut.
أسماء الله تعالى هو الطب الروحانى إذا كان على لسان الابرار من الخلق حصل الشفاء بإذن الله تعالى فلما عزهذا النوع فزع الناس إلى الطب الجسمانى
Asma-asma Allah itu adalah obat ruhani, ketika ia dibaca oleh lisan orang-orang yang baik-bersih maka dengan izin Allah akan menjadi obat. Lalu, ketika hal ini meningkat kualitasnya maka manusia bisa menggunakannya untuk obat jasmani.

Di saat wabah sudah sedemikian parah, hingga rumah sakit tak lagi mampu menampung, tenaga medis juga sudah sangat kelelahan dan terbatas, lalu mau kemana lagi kita akan mengadu? Jika bukan kepada Allah dengan cara meningkatkan usaha bathiniah kita masing-masing. Dalam berbagai karyanya, para ulama telah banyak membahas tentang bagiaman melakukan amaliah agar terhindar dari hal-hal negatif. Di antara karya mereka ada yang menjelaskan tentang fadhilah atau keutamaan-keutamaan ayat-ayat al-Qur’an sebagai wasilah untuk mendapatkan kebaikan dan menghindarkan diri dari fitnah. Para ulama biasanya menggunakan istilah-istilah fadhail ayaat al-Qur’an, atau asraar ayaat al-Qur’an ada juga yang menyebut dengan khawaash ayaat al-Qur’an. Bahkan ada karya Imam al-Ghazali yang khusus menjelaskan tentang hal itu yang berjudul “Khawaash al-Qur’an”.

Baca Juga  Dedikasi yang Terbagi

Salah satu yang barangkali tidak ada jeleknya jika diamalkan dalam situasi pandemi seperti ini adalah membaca surat al-Kahfi. Surat ini lebih dikenal sebagai ruqyah agar terhindar dari fitnahnya Dajjal. Sebagi contoh, dalam “Khawash al-Qur’an Imam Ghazali menulis sub judul “Untuk Aman dari Rasa Takut”, Khawatir dan Fitnahnya Dajjal yang isinya menjelaskan fadhilah surat al-Kahfi dengan mengutip beberapa hadis yang menjelaskan akan hal itu. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa Surat al-Kahfi tersebut tidak bisa digunakan sebagai wasilah untuk memohon perlindungan dari fitnah-fitnah yang lain. Hla wong fitnahnya Dajjal saja dengan izin Allah bisa ditangkal dengan wasilah surat al-Kahfi, apalagi fitnah yang kedahsyatannya di bawah fitnahnya Dajjal.

Dalam kaitan ini Ibnu Katsir dalam karya Tafsirnya (ini pernah disinggung pada Hikmah Jum’at edisi ke-61), pernah mengutip beberapa riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan surat al-Kahfi dimaksud. Antara lain sebagai berikut.
عن أبي الدرداء، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من حفظ عشر آيات من أول سورة الكهف، عصم من الدجال.
Dari Abu Darda’ dari Kanjeng Nabi saw. beliau bersabda: ”Sesiapa yang menghafalkan 10 ayat pertama dari surat al-Kahfi maka dia terlindungi dari Dajjaal.”

Pada riwayat lainnya dikutip penjelasan yang agak berbeda, yang dibaca adalah 10 ayat terakhir bukan 10 ayat pertama. Berikut ini riwayat yang dinukil tersebut.
عن أبي الدرداء، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قرأ العشر الأواخر من سورة الكهف عصم من فتنة الدجال
Dari Abu Darda’ dari Kanjeng Nabi saw. beliau bersabda: ”Sesiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi maka ia akan terlindungi dari fitnahnya Dajjaal

Baca Juga  Puasa Ramadhan (Bagian I): Sejarah Puasa, Berat!

Lebih dari itu, beliau juga menukil riwayat lainnya yang menjelaskan bahwa membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, seseorang akan dihindarkan dari segala fitnah selama delapan hari kedepan. Bahkan seandainya fitnah itu berupa Dajjal sekalipun. Nah, dari sinilah tampaknya, untuk maksud meminta perlindungan Allah agar terhindarkan dari fitnah yang ditimbulkan dari wabah Covid-19 ini mendapatkan momentumnya. Berikut ini riwayat selanjutnya yang juga dinukil oleh Ibnu Katsir.
عن علي بن الحسين، عن أبيه، عن علي مرفوعا من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة، فهو معصوم إلى ثمانية أيام من كل فتنة، وإن خرج الدجال عصم منه
Dari Ali bin Husain dari Bapaknya dari Sayyidina Ali, (marfu’), ”Sesiapa saja yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat maka dia terlindungi dari segala fitnah selama delapan hari ke depan meskipun (seandainya) pada saat itu Dajjaal keluarpun ia tetap akan terlindungi.

Dengan membaca keseluruhan surat al-Kahfi maka perbedaan riwayat yang menjelaskan bahwa yang dibaca itu 10 ayat awal atau terakhir dapat dihindari dan bahkan kedua-duanya bisa tercakup, karena seluruh isi ayat dibaca semuanya. Tentu imbalannya juga lebih banyak, karena imbalan itu berbanding tegak lurus dengan usaha yang dilakukan, al-Ajru bi Qadri at-Ta’ab. Jadi, membaca surat al-Kahfi yang diawali dengan niat tulus agar dihindarkan dari fitnah termasuk fitnahnya Covid-19, dan diikuti dengan rasa ikhlash, khusyu’ dan tadharru’, bisa menjadi salah satu alternatif peningkatan usaha bathiniah dalam menangkal madharat dan afatnya wabah ini, semoga saja.

Baca Juga  Hikmah Jum’at-103: Investasi Industri Miras Tidak Jadi…? (bagian ke-1)

Terakhir, para ulama berbeda pendapat mengenai adanya kandungan fadhilah ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an. Berdasar hal itu, tentang uraian dalam tulisan ini juga bisa dipandang dengan perspektif yang berbeda-beda. Dengan demikian, jika isi tulisan ini dirasa tidak cocok lebih baik untuk diabaikan.

Demikian Hikmah Jum’at kali ini semoga dengannya Allah memberikan manfaat, dan Allah senantiasa berkenan memberikan perlindaungan kepada kita, keluarga, tetangga dan seluruh masyarakat Indonesia dari fitnah yang ditimbulkan oleh wabah ini. Aamiin. Billaahi fii sabiilil haq.

Dr. Achmad Maimun, M.Ag.
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah IAIN Salatiga

    Perlunya Konsistensi Pemerintah dalam Pembatasan Kegiatan Masyarakat

    Previous article

    BEM UI Dipanggil Rektorat, Ini Tanggapan HMI Korkom Walisongo

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi