KHALIFAH: PENGGANTI SIAPA? (Bagian III dari Empat Tulisan)

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si., Pengajar Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang dan Pengasuh Pesantren Planet NUFO Rembang

Pemilu yang diselenggarakan secara periodik dan berkala adalah sarana untuk melakukan sirkulasi elite secara terbuka. Siapa pun, berasal dari latar belakang apa pun, yang memiliki kesiapan lebih baik, punya peluang untuk menjadi pengganti. Karena itu setiap aktivis yang telah ditempa untuk menjadi pemimpin masa depan, harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya.  Bekal terbaik untuk mengambil kesempatan dalam proses sirkulasi elite agar bisa menjadi pengganti dalam suasana politik saat ini adalah kemandirian intelektual dan finansial.

Pengganti itu oleh al-Qur’an disebut sebagai khalifah. Namun, di dalam al-Qur’an tidak semua kata khalifah dengan segala bentuk turunannya bermakna pengganti dalam konteks kepemimpinan politik. Ada konteks lain yang tertangkap, kalau dipahami dengan menginterkoneksikan ayat-ayat lain. Dan tidak ada satu pun ayat di keseluruhan al-Qur’an yang memberikan perspektif tentang bahwa yang digantikan adalah Allah sebagaimana digunakan oleh para raja yang mengklaim diri atau diglorifikasi sebagai khalifatullah fi al-ardl (pengganti Allah di muka bumi).

Kalau dimulai dari awal al-Qur’an, kata khalifah pertama terdapat dalam al-Baqarah: 30.

Bacaan Lainnya

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (al-Baqarah: 30)

Di dalam ayat ini, hanya deklarasi Malaikat bahwa Allah akan menciptakan khalifah (pengganti). Namun, tidak dijelaskan siapakah yang akan diganti oleh Allah. Malaikat hanya memberikan sedikit petunjuk bahwa seolah-olah yang digantikan itu adalah makhluk yang pernah melakukan kerusakan dan menumpahkan darah. Maka berdasarkan perspektif ini, temuan-temuan ilmiah tentang makhluk-makhluk purba yang hidup pada jutaan tahun lalu, sebagaimana diungkapkan oleh misalnya Yuval Noah Harari di dalam karyanya “Sapiens” relevan untuk menjadi referensi untuk membangun tafsir baru. Mungkin akan dianggap ekstrem, akan tetapi lebih bisa memenuhi kebutuhan untuk berpikir rasional dan saintifik sebagaimana diperintahkan oleh al-Qur’an sendiri.

Tafsir-tafsir lama, al-Jalalayn misalnya, yang berpandangan bahwa makhluk yang digantikan adalah jin, tidak relevan lagi. Lebih masuk akal kalau yang digantikan adalah binatang purba semacam dinosaurus. Atau kalau menggunakan teori evolusi, yang diganti adalah kemampuan nalar yang semakin tinggi agar mampu memakmurkan muka bumi dan membangun peradaban. Kalau manusia pertama yang disebut sebagai Nabi Adam dianggap sebagai pemimpin politik, tentu saja tidak masuk akal, karena tidak ada pemimpin politik sebelumnya.

Bentuk jamaknya adalah khalaa’if (para pengganti). Digunakan empat kali di dalam al-Qur’an. Dua ayat dengan kandungan makna yang sama dengan al-Baqarah: 30, dan dua ayat lainnya mengandung makna pengganti secara umum atau biasa saja dan disebabkan oleh kebinasaan, tanpa nuansa kepemimpinan politik.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-An’am: 165)

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ ۚ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا ۖ وَلَا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (Fathir: 39)

Sedangkan yang lainnya adalah pengganti secara umum terhadap umat-umat sebelumnya yang dihancurkan karena mereka melakukan tindakan durhaka kepada Allah.

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا ۙ وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ – ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa. Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus: 13-14)

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu. (Yunus: 73)

Masih ada lagi yang bermakna jamak, tetapi bentuknya mashdar, yaitu khalfun. Terdapat dalam dua ayat dalam al-Qur’an, yaitu:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Maka datanglah sesudah mereka para pengganti (genarasi yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata: “Kami akan diberi ampun”. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?. Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (al-A’raf: 169)

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, (Maryam: 59)

Makna dalam dua ayat terakhir ini sebagaimana diisyaratkan dalam dua ayat:

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ ۚ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُمْ مَا يَشَاءُ كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ

Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. (al-An’am: 133)

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ مَا أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَيْكُمْ ۚ وَيَسْتَخْلِفُ رَبِّي قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّونَهُ شَيْئًا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. (Hud: 57)

Dari ayat-ayat di atas, nampak bahwa khalifah bisa berkonotasi positif dan bisa juga sebaliknya negatif.

Kata khalifah yang kedua terdapat dalam QS. Shad: 26.

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shad: 26)

Konsep khalifah di dalam ayat ini sangat sederhana, yakni Daud menggantikan mertuanya, Thalut dalam sistem politik kerajaan. Tidak ada sistem politik seperti yang dikonsepsikan oleh para aktivis HTI misalnya. Maka, sebutan khalifah ini sesungguhnya berlaku dalam sistem politik apa pun, untuk siapa pun. Dan seorang khalifah, bisa jadi baik, dan bisa jadi buruk. Prabowo misalnya, dalam konteks Indonesia, kalau gugatan MK oleh 01 dan 03 tidak dikabulkan, maka akan menjadi khalifah. Maksudnya adalah khalifah Jokowi. Jokowi adalah khalifah SBY. Dan di dalam Partai Demokrat, SBY adalah khalifah Anas Urbaningrum. Sesederhana itu. Yang terpenting sesungguhnya adalah kekuasaan, apa pun sistemnya, digunakan untuk menegakkan atau mentransformasikan ajaran-ajaran Allah.

Paradigma tentang khalifah bukan bukanlah pengganti Allah sesungguhnya sudah ada sejak awal Islam. Dan ini tegas dalam penolakan Abu Bakar yang disebut oleh seseorang sebagai khalifatullah. Ini terdapat dalam sebuah riwayat:

قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي بَكْرٍ: يَا خَلِيفَةَ اللَّهِ , قَالَ: لَسْتُ بِخَلِيفَةِ اللَّهِ , وَلَكِنِّي خَلِيفَةُ رَسُولِ اللَّهِ , أَنَا رَاضٍ بِذَلِكَ

“Ada seseorang yang menyapa Abu Bakr ra. dengan ‘Ya Khalifatallahi (Wahai Khalifah Allah)!’ Abu Bakr ra. lalu berkata: “Aku bukanlah khalifatillah (Khalifah Allah), tetapi aku adalah khalifatu Rasulillah dan aku senang dengan itu.’”

Hal yang sama terjadi pada Umar. Dan ini menunjukkan bahwa miskonsepsi khalifah sudah ada sejak awal Islam. Dan itu selalu dikoreksi oleh sahabat-sahabat utama. Buktinya, Umar juga melakukan reaksi penolakan yang lebih keras. Umar berkata:

“Kamu ini bagaimana? Kamu telah melakukan tindakan berlebihan. Ibuku menamaiku dengan Umar. Jika kamu memanggilku dengan nama ini, aku akan menerimanya. Setelah aku besar, aku diberi kunyah (sebutan) Abu Hafsh. Jika kamu memanggilku dengan kunyah ini, aku bisa menerimanya. Kemudian kalian mengangkatku sebagai pemimpin, lalu kalian memanggilku amir al-mu’minin. Jika kamu memanggilku dengan panggilan ini, itu sudah cukup bagimu.” (al-Adzkâr, hal. 361).

Dan sebutan ini juga tidak baku apalagi sakral. Itu dibuktikan dengan penggantian sebutan itu yang disetujui oleh Umar bin Khaththab menjadi amir al-mu’minin. Karena Umar adalah pengganti Abu Bakar, maka Umar adalah pengganti pengganti Rasulillah (khalifatu khalifati Rasulillah). Panggilan ini terlalu panjang sehingga cukup merepotkan secara teknis. Maka ketika muncul sebutan amir al-mu’minin dari dua orang tamu dari Irak, Umar langsung menyetujuinya. Namun, empat orang pemimpin politik pertama sepeninggal Rasulullah disebut sebagai al-khulafa’ al-rasyidun (pemimpin yang benar).

Setelah masa itu, muncul dawlah-dawlah yang para pemimpinnya juga disebut khalifah, tetapi juga disebut dengan sebutan yang lain, di antaranya sultan. Bentuk negaranya malah benar-benar kerajaan. Termasuk Dawlah Utsmaniyah yang sering diglorifikasi sebagai kekhalifahan terakhir. Dan banyak raja dari dawlah-dawlah ini yang dikonsepsikan sebagai bayangan Allah di muka bumi (dhilaalullah fi al-ardl).

Kekeliruan fatal ini juga nampak jelas dalam gelar Sultan Hamengkubuwono di Yogyakarta. Kerajaannya disebut kesultanan, rajanya disebut sultan, tetapi gelarnya adalah khalifatullah ing tanah Jawa. Miskonsepsi-miskonsep inilah yang harus diluruskan, agar umat Islam tidak tenggelam dalam perdebatan panjang yang tidak memiliki basis keilmuan bersumber dari al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad, dan juga atsar sahabat utama. Dengan konsepsi-konsepsi yang benar, umat Islam akan mampu menghela kemajuan di masa depan, dan kembali menjadi umat terbaik. (BERSAMBUNG)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *