Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang taelah berdampak sangat besar dalam aktivitas kehidup sehari-hari. Mulai dari sektor ekonomi, sosial, politik sosial dan industri lainnya yang menjadikan terhambatnya laju perkembangan hingga terjadi penurunan. Tidak terkecuali pendidikan yang selama pandemi ini muncul hingga sekarang, kegiatan belajar mengajar mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi dilaksanakan secara daring dari rumah saja. Tentunya ini sangat berdampak pada para pelajar dalam menangkap materi yang disampaikan oleh guru ataupun dosen. Karena dengan bertatap muka langsung pun kadang masih sulit diterima dengan baik oleh para pelajar. Bukan hanya dalam pendidikan formal saja, kegiatan belajar mengajar non formal seperti ngaji di Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) menjadi berkurang aktivitasnya. 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler Dari Rumah (KKN RDR) angkatan 75 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang kelompok 58 tahun 2020, berinisiatif mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengaji Al-Qur’an yang ada di Kuripan, Kelurahan Wonolopo, Mijen, Kota Semarang. Dirasa ini sangat penting agar generasi yang akan datang menjadi generasi yang mengenal jauh mengenai agama Islam. Dengan demikian harapannya para siswa yang sudah lama tidak bertatap muka langsung dengan gurunya, ini menjadi salah satu kesempatan untuk melepas rindu rasanya belajar langsung dengan seorang guru.
Meskipun dalam kondisi ditengah pandemi Covid-19 yang sudah lama menyerang ini, semangat para anak-anak yang ingin belajar Al-Qur’an masih terjaga. Kami memandang ini adalah hal sepele untuk diri kita, tapi untuk orang lain yang membutuhkan ilmu, ini sangatlah berharga. Karena masih diusia muda, pikiran masih sedikit, belum memiliki beban yang banyak, adalah waktu yang tepat untuk terus belajar, menggali ilmu sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat” adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, menjadi acuhan semangat untuk terus beramal. Karena di tengah pandemi bukan berarti dijadikan alasan untuk kita tidak beramal, berbagi ilmu dan menyampaikan ilmu-ilmu yang kita miliki walaupun sedikit saja yang kita miliki. Dengan begitu antara keduanya, guru dan murid pun akan merasakan dampaknya masing-masing dari kegiatan ngaji ini, terlebih jika kita benar-benar melakukannya dengan niat karena Allah SWT. Kita hanya memohon balasan dari-Nya tanpa ada sedikit keinginan untuk dipuji atau mendapatkan sesuatu di dunia.
Meskipun dilaksanakan hanya setiap sore hari, harapannya kegiatan ngaji ini memberikan banyak manfaat. Berharap kegiatan ini juga akan tetap terus berlangsung kedepannya walaupun nanti guru-guru dari mahasiswa KKN sudah selesai dalam pengabdiannya.

Baca Juga  Pahlawan Telah Mati (?)

 

Oleh: Iman Fuadi, Mahasiswa Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang

Membangun Taman TOGA adalah membangun CINTA

Previous article

Menangislah

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Gagasan