Ibu, seorang perempuan tangguh yang tidak mengenal lelah. Dirinya selalu hadir untuk keluarga, dikala suka maupun duka. Ia selalu ada untuk menghibur, menguatkan, dan mendorong semangat dalam keluarga ketika sedih itu melanda. Berusaha selalu tegar di depan. Padahal, beban yang ia pikul juga cukup berat. Ia menutupinya dengan senyuman yang tulus. Karena, keinginannya mengurangi problematika yang dialami oleh suami dan anak-anaknya tercinta, bukan menambahinya. Semua itu ia lakukan karena kasih sayangnya melebihi segalanya.
Ibu memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki manusia lainnya. Salah satunya adalah do’a yang sangat mustajab. Ketika, ia sudah malai mengangkat kedua tangannya dengan bersungguh-sungguh, maka do’a itu akan didengar oleh Allah dan para malaikatnya. Dirinya bisa larut dalam do’anya hanya untuk mendoakan anak-anaknya, agar bisa sukses di dunia dan akkhirat kelak. Maka, tak heran jika saat ibu berdo’a, tak sedikit air mata yang keluar.
Aku akan menceritakan tentang sebuah kisah tentang ibuku. Orang yang selalu menyemangatiku di setiap keadaan. Seperti ceritaku yang satu ini. Ia selalu berusaha ada untukku dalam waktu yang begitu terbatas.
***
TRIIING…
Suara bel sekolah sudah terdengar. Nyaring sekali saat menembus lapisan telingaku. Suara bel itu memenuhi lorong-lorong depan kelas. Ya, semua murid pasti tahu apa artinya. Pertanda jam pulang sekolah telah tiba. Mendengar bel tersebut, guruku mulai mengakhiri pelajaran.
“Oke, anak-anak. Kita akhiri pembelajaran kita pada kali ini dengan membaca hamdalah bersama-sama.”
“Alhamdulillahirobbil’aalamin.” Aku dan teman-temanku membaca dengan serempak.
“Minggu depan sudah mulai ulangan tengah semester. Jadi disiapkan dengan baik. Jangan buat Bapak kecewa.” Pak Teguh menambahi.
“Siap, Pak!”
Aku dan teman-temanku mulai membereskan “alat perang” masing-masing. Kemudian, kami berdo’a sebelum pulang ke tempat masing-masing. Bersalaman dengan guru kami. Eits, tak lupa sebelum pergi meninggalkan kelas, kami merapikan dan membersihkan sampah-sampah yang berserekan. Menyapu lantai. Menata meja. Dan kami telah selesai. Itu sudah menjadi rutinitas kami sebelum pulang sekolah, agar kelas selalu terlihat bersih dan indah. Baik saat digunakan maupun ditinggal pergi oleh penghuninya.
***
Angin sepoi-sepoi menggangguku. Memainkan rambutku yang hitam legam. Mengusap peluh-peluhku yang bercucuran karena kepanasan. Terik sinar matahari itu terus menyerbuku, walaupun pepohonan sudah menghalanginya. Aku berjalan kaki setiap pulang sekolah. Melewati jalan yang terkadang ramai juga lengang, seperti saat ini. Sejak aku mulai melangkah pergi meninggalkan sekolahku, tak lebih hanya sepuluh kendaraan bernotor dan lima mobil yang saling berpapasan satu dengan yang lain.
Rumahku memang sudah dekat. Namun, aku berhenti sejenak di jalanan yang lengang itu. Memandangi pohon trembesi yang saling berseberangan dengan sangat rimbun. Pohon ini lebih mirip terowongan daripada tanaman dengan dahan besar dan daun yang tumbuh di setiap rantingnya. Sesekali terlihat burung-burung pipit yang hilir-mudik dari sarangnya dengan membawa makan untuk anak-anaknya. Aku tertegun melihatnya. Sesaat aku teringat ibuku yang selalu membuat masakan untuk keluargaku di rumah. Dengan bahan sederhana dan seadanya, ibuku mengubah masakan yang tadinya terlihat biasa menjadi istimewa.
Cukup dengan waktu lima menit, kini aku telah tiba di depan pintu rumahku. Seperti biasa, kedua orang tuaku sedang bekerja dan kedua kakakku sudah melanjutkan sekolah di universitas pilihan mereka yang berada di luar kota.
Aku bergegas masuk dan segera mengganti pakaianku. Seperti biasa, kuambil gagdet-ku dan mulai memainkan permainan video yang ada di dalamnya. Hingga seekor serangga masuk kedalam telingaku. Refleks, aku langsung mengambil cotton bud. Berusaha mengambil sendiri serangga itu. Tapi, ekspektasi tak selalu sesuai dengan realita. Serangga yang ku anggap bisa keluar, malah semakin masuk hingga mendekati gendang telinga.
Singkat cerita, Berbagai upaya telah dilakukan ibuku sejak sepulang dari mengajar tadi sore. Alhasil, telingaku bengkak. Aku merasakan nyeri yang hebat dan kepala yang terasa pusing. Aku memutuskan untuk berusaha tidur, berharap nyeri itu hilang dengan sendirinya.
Namun, aku salah besar. Makin lama, nyeri itu semakin menjadi-jadi. Tepat pukul 10.00, aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Di saat seperti itu, ibuku hadir mendampingiku. Menguatkanku. Tapi, aku terlanjur frustasi dengan keadaaan tersebut. Aku membenturkan kepalaku ke dinding kamar.
”Sa…kit, Buuuk…” aku berusaha menahan sakitku dalam keadaan menangis.
“Sabar, Dek. Besok kita ke dokter. Kamu kan anak yang kuat.” Ibuku berusaha menguatkanku sambil mengusap air mataku yang terus mengalir.
Namun, aku tetap membenturkan kepalaku ke dinding kamar. Semakin lama semakin keras aku membenturkan kepalaku ke dinding. Sontak, ibuku menarik dan mendekap tubuhku yang basah oleh air mata.
“Adek tidur lagi aja, biar sakitnya hilang. Itu kepala nggak salah apa-apa, jangan dibenturin ke tembok.” Ibuku terus menyemangatiku.
Tak kusangka, ibuku juga meneteskan air mata dan jatuh tepat di lenganku. Kami saling berpelukan dan menangis.
“Nggak bisa, Buk. Sakit banget rasanya.” Aku terus menangis dalam pelukan ibuku.
Sesaat kemudian ayahku datang ke kamar.
“Pindah ke ruang depan aja, sambil nonton TV.” Ayahku juga menghiburku.
Ibuku menoleh kepadaku. Melihatku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tahu maksud tatapan itu. Aku segera mengangguk. Menurut.
Aku dan ibuku beranjak dari ranjang tidur. Beralih ke ruang depan. Mengalihkan rasa sakitku dengan menonton siaran televisi.
Tapi, itu tak banyak membantu. Selain siaran yang membosankan, rasa sakit itu juga kembali menyiksa diriku. Aku menyandarkan kepalaku ke pundak ibuku.
“Kamu mau pindah ke kamar?” tanya ibuku yang sgera tahu jika kau mulai kesakitan kembali.
Aku hanya bisa mengangguk.
Aku memutuskan untuk mencoba kembali tidur. Ibuku senantiasa menemaniku. Memelukku dalam tidur. Dengan rasa hangat dari pelukan itu, aku akhrinya bisa terlelap kembali. Rasa sakit itu hilang sesaat.
***
Pagi telah tiba. Sinar matahari telah merangsek masuk, menembus jendela kamarku. Kicauan burung-burung juga telah terdengar. Terdengar juga suara tetesan air hujan bekas semalam dari loteng.
Aku telah dibangunkan ibuku sedari tadi. Melakukan sholat shubuh. Tak lupa aku bermunjaat kepada Yang Maha Esa, meminta kesembuhanku terhadap ujian berupa sakit yang Allah berikan kepadaku.
Pukul 06.30 sarapan telah siap. Aku segera menyantap makanku yang ada di meja, walaupun selera makanku sedikit berkurang karena nyeri yang kurasakan.
“Nanti setelah makan, langsung mandi, Dek. Persiapan ke klinik sama Ayah.” Ibu memberitahu.
Aku mengangguk. Menurut.
Sarapanku telah usai. Aku segera mandi. Membersihkan diriku dari air mata semalam. Terasa segar sekali airnya. Mandiku telah selasai, waktunya berganti pakaian dan siap berangkat. Sebelum berangkat aku berpamitan dan bersalaman kepada ibuku.
“Buk, Adek pergi periksa dulu, ya. Do’ain Adek biar sembuh.”
“Do’a Ibu kepadamu dan kakak-kakakmu selalu nomor satu.” Ibuku menimpali.
“Eh, Buk. Surat izin sekolahku aman, kan?”
“AMAAAAN…”
“Oke…, ya udah, Adek berangkat dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumussalam.”
Aku dan ayah berangkat menuju klinik.
Sesampainya disana, ayah segera mengambil antre. Nomor antrean telah tiba, waktunya kami masuk ke dalam ruangan periksa. Dokter membersihkan telingaku dengan alat canggih yang ia miliki. Kemudian kami diberi resep obat yang bisa diambil di apotek.
Sesampainya di rumah,aku bercerita kepada ibu tentang bagaimana dokter mengobatiku. Mulai dari memasukkan alat panjang dan kecil ke lubang telingaku. Kemudian, di dalam telingaku terasa seperti didalam mesin cuci.
“Gimana rasanya? Masih sakit?” tanya ibu kepadaku dengan muka tersenyum.
“Agak mendingan dari kemarin. Sekarang nyerinya sudah berkurang.” Jawabku dengan antusias. “Tadi dokternya bilang gini, Buk. ‘Tinggal ditetesi obat ini secara rutin. Nanti juga hilang sendiri sakitnya.’ Gitu pesennya, Buk.”
“Nah, itu dilakuin. Jangan sampai lupa.”
“Iya, Buk.”
“Dan lain kali lebih hati-hati lagi. Jangan samapi terulang kembali. Lihat sekitar. Serangga kecil seperti semut dan sebangsanya itu bisa masuk ke dalam dengan mudah jika kita tidak menyadarinya.” Ibu memberi pesan.
“Siap, Buk. Adek akan lebih hati-hati lagi.” Aku menurut. “Eh, Buk. Adek mau bilang terima kasih, karena udah jaga Adek. Menyemangati dan menghibur Adek. Juga selalu ada untuk Adek dikala suka maupun duka. Walaupun, tugas Ibuk juga tak kalah banyak. Sekali lagi makasih ya, Buk.”
Mendegar kalimat itu, ibuku langsung memelukku dan meneteskan air mata. Ternyata, kata-kataku tadi menyentuh hati kecil ibuku. Aku juga membalas dekapan ibu dengan erat-erat, seakan tak akan bisa lepas dariku.”
***
Itulah cerita dariku. Semoga pembaca bisa menemukan amanat dari cerita tersebut. Dan tak lupa juga makin sayang kepada ibu.
SELAMAT HARI IBU
Oleh: Irfan Fakhri Rasyadi, Siswa kelas IX Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Rembang.







