Cerita ini bermula ketika sesuatu yang diimpikan oleh seorang perempuan mempuyai saur baur mengerikan dalam setiap langkahnya. Akankah semesta mendukungnya? Atau semesta akan memundurkan langkahnya ketika dunia tidak ingin bekerjasama dengannya? Lalu, apakah dengan mudahnya dia akan menyerah tanpa hasil? Apakah dia akan tetap melangkah apapun rintangannya? Yeah, di sinilah semua lika liku kesulitan ia hadapi. Tapi, ada yang perlu diingat sebelum semua dikerjakan. Perempuan itu yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa usaha keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.
***
Kemelokan langit pagi mengingatkan seorang perempuan ini pada kuasa Sang Ilahi. Perpaduan warna langit tampak begitu apik, antara warna orange, kuning, biru, dan putih. Begitu hebat kuasa-Nya. Kicauan burung yang amat menarik pula, membuat telinga ingin lebih dekat mendengarkan suaranya. Hmmm…tak hanya itu, udara sejuk di pagi hari, sesekali berhembus pada raga ini mulai dari kanan lalu ke kiri. Derai angin membuat seorang perempuan ini nyaman dengan posisinya. Yeah, ia berpose dengan berbagai gaya yang tak tercantum dalam sejarah ensiklopedia. Wahhh! Next time…mungkin inilah yang dinamakan persandiwaraan sebuah semesta.
Berjasa dengan sebuah hal yang amat mudah. Lika-liku yang tak bisa dijadikan sebagai arah dalam perjalanan, itulah yang dinamakan rintangan. Berbaur pada hal yang tak bisa dijadikan sebagai bahan utama dalam capaian. Yeah… seorang perempuan berpostur ideal dengan tinggi kisaran 156 cm, berat badan 52 kg, berkulit sawo matang, pupil mata yang berwarna coklat, dan sifat cerewet dan bijaksananya yang cukup khas. Tapi, jika ditanya tentang perasaan, ia tak pernah main-main. Melalui sifat paling dasar seorang perempuan pada umumnya.
Aisyah, itulah namaku. Tampak sudah jelas penderkripsian tentangku. Berbagai hal sulit harus dijadikan sebagai hal yang tak sengit lagi. Huh! Sudah hampir tiga tahun aku merantau jauh dari rumah, dan tentu tanpa pantau kedua orang tua. Menahan sebuah rindu, sedu, yang telah berpadu menjadi satu. Tawa bersama keluarga yang membuat candu, saat ini hanya sedang menjadi angan yang tak terpandu. Yeah, dari tawa angan itu, membuat keadaan semakin berlagak pada rindu yang hanya bisa sedikit meringis tanpa terbahak-bahak. Mungkin itu sudah biasa bagi aku dan para santri di sini. Tapi, aku akan tetap teguh dengan tujuan awalnya ketika ia harus jauh untuk menimba ilmu di pondok, ‘nyantre’.
***
Hari ini adalah jadwalku berkomunikasi dengan keluarga, tentu atas perizinan Ustadzahku. Sebulan sekali, itu minimalnya. Maksimalnya, tidak sama sekali berkomunikasi. Tapi tidak denganku. Satu-satunya cara untuk melepaskan rindu ini, adalah dengan bertemu wajah mulia keluargaku melalui teknologi canggih zaman modern sekarang. Bisa melalui handphone, laptop, dan sejenisnya. Banyak hal yang ingin aku ceritakan, terkhusus kepada kedua orang tuaku. Tentang kabar, itu sudah pasti. Aku berjanji pada diriku agar tidak membuat orang tuaku sedih dengan kabar yang tidak menandakan bahwa aku baik-baik saja. Aku akan bercerita pada Abi dan Umiku tentang hal-hal yang seru dan telah kualami.
“Assalaamualaikum, Abi, Umi,” salamku sopan santun kepada Abi dan Umi
“Wa’alaikummussalam, Mbak Aisyah” jawab Umi dan Abiku serempak, dengan tampang wajah yang ceria
“Bagaimana kabar keluarga di Blora?” tanyaku untuk pembukaan dalam menelfon kali ini. Biasanya, Abi dan Umiku terlebih dahulu yang menanyakan kabarku. Tapi sekarang, aku harus memulainya terlebih dahulu. Itu lebih baik.
“Alhamdulillah baik, Mbak Aisyah. Bagaimana dengan kabar Mbak Aisyah? Hafalan? Capaian? Dan tulisannya kok belum ada kabar untuk aploud di baladena?” tanya Abiku
“Iya, Mbak Aisyah. Bagaimana tentang itu semua?” lanjut Umiku
Yeah! Begitulah ciri khas Abi dan Umiku, ketika aku sudah bercengkrama dengan kedua orangtua tersayang. Panjang lebar kali tinggi kali alas, pertanyaan dari beliau. Mempertanyakan banyak hal yang terbesit dalam benak, mungkin. Aku mafhum, mungkin karena Abi dan Umiku yang cukup khawatir dengan keadaan anaknya yang jauh merantau.
“Alhamdulillah baik, Umi, Abi. Hafalan juga sudah meningkat. Ini sedang murajaah Juz 20 untuk persiapan disetorkan ke Abah. Kalo tentang tulisan, Aisyah sedang memprosesnya”
“Capaian?” tanyaku dalam hati.
“hmm…Zahier di mana, Mi? tanyaku mengalihkan pembicaraan
Zahier. Nama adikku. Saat ini sedang duduk di bangku MI kelas 2. Berpostur tak terlalu tinggi, berkulit coklat sawo kematang-matangan, mempunyai dua lesum pipi, dan anak yang sangat seru. Aku menyapanya dengan panggilan khusus. Misal “Dek Sael…” Mengapa? Karena saat Zahier berumur tiga tahun, dia belum bisa melafadzkan namanya dengan jelas. Saat Zahier ditanya “Nama adek siapa?”. Dia menjawab “ Sael, Mbak Aicah”. Lucu banget pokonya dah. Tapi, jika aku sudah marah dengannya, aku tak akan main-main lagi. Hal yang paling pertama aku lakukan kepada adikku adalah memanggil nama lengkapnya “Zahier Haikal al-Jabar!!!!!” seperti itu. Heheheh
“Zahier sedang ngasih makan lele, Mbak”
“Oh!! Okeh, Mi. Bisa minta tolong panggilkan Zahier bentar. Hmm..Aisyah kangen banget. Sudah lama tidak bertemu. Heheh…”
Dari video call, aku bisa melihat wajah Umiku yang mengangguk. Pertanda ‘iya’
Tak lama kemudian, Umi menyerahkan handphone ke Zahier
“Mbak Aisyah…” sapa adikku, Zahier
“Dek..Zahierrr…” sapaku senang meski tanpa tatap muka sekaligus. Betapa rindunya aku pada satu-satunya adik yang kupunya.
“Mbak Aisyah lagi apa?”
“Lagi ngetik tulisan, sekalian nelfon keluarga”
“Ngetik apa, Mbak?”
“Kepo yha…”godaku pada sang adik
“Ihh…Mbak Aisyahhhh..yang bener sihhh”
“Canda-canda, Dek”
Aku melihat arloji yang ada di pergelangan tanganku. Jam menelfonku sudah habis. Tak terasa, kurang lebih setengah jam (30 menit) aku lalui hanya untuk menelfon.
“Dek, udah dulu, ya. Kapan-kapan lagi, oke?. Hpnya tolong kasihkan ke Abi dan Umi lagi, ya”
Adikku memasang wajah tampang yang menandakan ‘alah!!’
“Umi, Abi, Sudah dulu, yha. Doakan Aisyah semoga lancar dalam menimba ilmu, ya”
“Iya Aisyah, Abi dan Umi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Mbak Aisyah, Mas Zainul, Mbak Habibah, dan Dek Zahier. Jaga diri baik-baik, ya” jawab Umiku sebagai kalimat penutup dalam telfon kali ini”
“iya, mi. Assalaamualaikum” salamku pada Abi dan Umi
“Waalaikumsalaam” jawab Abi dan Umiku, serempak.
Baiklah, aku sudah menelfon. Setidaknya rindu ini mereda. Handphone ustadzahku, harus aku kembalikan sekarang.
***
Hatiku bercampur pada seribu kebahagian dan satu kesedihan. Kesedihan? Aku lupa bahwa hari ini adalah hari ibu. Tepat hari Kamis, 22 Desember 2022. Aku tak mengucapkan apapun pada Umi. Sedangkan handphone? Sudah kukembalikan ke Ustadzah. Lalu? Aku hanya bisa menuangkan segala keluh kesah, tentunya dalam buku diary (temanku untuk menarikan jemari-jemari mungil ini)
Isi diaryku
Teruntuk: Umiku yang teramat kusayangi
Assalamuaalaikum, Umi…
Umi, selamat Hari Ibu, ya
“Kukatakan Padamu, Ibu”
Perjuanganmu, begitu besar
Perbuatan baikmu, selalu berikrar
Pengajaranmu, akan selalu terpagar
Semangat darimu, akan selalu berkobar
Umi…
Teramat rindu hati ini
Namun, aku di tempat ini
Sedang mengukir sebuah mimpi
Kasih sayangmu, begitu berarti
Pengorbananmu selalu memiliki arti
Arahanmu, selalu pasti
Tapi jasamu? Akan selalu terpatri
Kau perempuan terhebat dan terkuatku
Hormatku padamu, Umi…
Oleh: Putri Aisyah Nurul Iman (PAN-1), Wakil Ketua OSIS 2021/2022, Sekretaris Umum PR IPM Planet Nufo, Pimpinan Redaksi Majalah Pers Siswa SMP Planet Nufo







