SEBERSIT AWAL TAHUN : INGIN PULIH

 

            “Aku hanya ingin menulis kembali!”

            Ya, sebuah kalimat yang ku akui betul kebenarannya. Sudah lama sekali, jika dihitung-hitung, ada saja dua bulan lebih aku tidak menyentuh kembali dunia literasi itu. Walaupun sebenarnya Program GLS (Gerakan Literasi Sekolah) masih rutin dijalankan setiap 15 menit sebelum bel pulang sekolah dibunyikan. Namun, menurutku, itu saja belum cukup untuk mengimbangi kapasitas berpikir manusia yang teramat sangat besar. Apalagi denganku yang pernah memeluk erat dunia itu, aku betah di dalamnya, dan kini hanya sampah berserapah saja yang terkungkung di dalam kepalaku, bahkan di setiap titik neuronku berada. Sulit betul untuk menampik semuanya.

Manusia butuh input berupa ilmu pengetahuan agar lebih bijaksana dalam menentukan sebuah pilihan. Dengan kebijaksanaan, kita akan lebih melek dengan sisi gelap dan terang sebuah jalan. Tentu saja, dalam hidup, kita mesti menjumpai beberapa cabang jalan yang harus kita lewati, setidaknya kebijaksanaan memberi kita tanda terhadap masing-masing jalan yang berada di hadapan. Dari segi individu, kebijaksaan itu sesuatu yang penting.

Namun, tetap saja, manusia juga butuh output sebagai pengejawantahan dari throwing the action up. Ide dan proyeksi hanyalah mugen tsukoyomi jikalau tidak dibarengi dengan aksi. Kemungkinan kalian pernah mendengar lelucon semacam itu di internet. Setelah dipikir-pikir, anekdot tersebut ada benarnya juga. Tetapi, bukan itu yang sedang ingin kukatakan pada khalayak. Melainkan sebuah klise yang mengganggu ketentraman mentalku hingga saat ini, yakni over-input, without output indeed. Serius, ini berbahaya.

Salah satu pengajar dari unit kepengasuhan pondokku pernah mewejangku seperti ini,

“Capek itu hanya mindset, lelah itu hanya mindset, sakit itu hanya mindset, dan malas itu juga mindset. Semua persoalan yang menyangkut tentang suasana hati kita, di mana semestinya kita bekerja dengan giat, belajar dengan maksimal, namun terhalang oleh keengganan itu, maka ini berkonotasi pada pengelolaan mindset kita, pola pikir kita terhadap hal tersebut. Oleh karena itu, kita harus pintar mengatur mindset kita supaya impian yang kita tuju dengan mudah tercapai, insha Allah.”

Fatwa beliau menuai banyak sekali menuai pro dan kontra, bahkan kerap kali aku menjumpai beberapa santri yang sering mengaitkan hal-hal konyol dengan konteks mindset-management. Wajar saja jika demikian, lagipula mereka masih sangat kanak-kanak untuk memahami pernyataan tersebut. Di satu sisi, aku setuju dengan fatwa beliau bahwa suasana hati dan body pada manusia itu tergantung pada pola pikir manusia pula. Managing mindset is hard as climb the high hill. Ada beberapa tantangan tangguh yang harus kita hadapi dengan sekuat tenaga, jika kita kalah, kita sengsara.

Tunggu sebentar, ada pendatang baru yang masuk ke neuronku. Ah, ternyata si penyambat, jejiwa teenager-nya masih sangat terasa saat ia baru mengambang di atmosfer dekat tubuhku. Keremajaan, labilitas tinggi membuatnya sulit untuk diterka, sulit untuk diatasi. Terkadang, tuan logika dan emosi saja kewalahan menghadapinya. Apalagi dengan tangan kosong, tidak menggunakan senjata sama sekali. Itu sama saja dengan bunuh diri.

“Aku terkenal dengan kata ‘labil’, maka izinkan aku bertanya. Jika mindset adalah salah satu partisi krusial bagi manusia untuk berpikir dan bertindak logis dan efektif. Lantas, bagaimana dengan remaja yang secara biologis saja sudah tidak mendukung? Sebagaimana yang kita ketahui bersama, perombakan sistem hormon dalam tubuh remaja cenderung cepat, gencar, sehingga mengubah beberapa sistem kendali pada manusia. At the same time, labilitas tingkat tinggi juga semakin menyeruak. Bukankah begitu?”

Di saat itu, satu neuron bak tertikam, terdiam mematung dan tak tahu hendak membalas dengan apa dan seperti apa. Wajar saja, labilitas itu meresahkan, di mana tuan logika dan emosi harus memaklumi beberapa pernyataan bahwa aspek biologis seperti puberty itu mustahil untuk dihindari. Walaupun dalam konteks manipulatif, fisik manusia bisa saja dibuat tak tumbuh dan berkembang. Benar-benar hanya otak saja yang berkembang.

“Tunggu sebentar, anak baru. Maksud anda menanyakan hal itu, ada apa? Ada yang salah dengan anda?” tuan Emosi angkat bicara.

“Jelas saja ada. Kami dikenal dengan labilitas yang menjulang, namun pada dasarnya kami bisa menjadi tokoh yang ‘selalu menang’ dalam segala situasi. Tidak percaya? Lihat fisik kami, lihat kecerdasan kami, lihat kemampuan kami dalam berpikir kritis. Itu menjadi sebuah kesulitan kami saat ini, permasalahan mental memang umum terjadi di kalangan remaja. Maka dari itu, kami butuh partisi yang bersedia membantu kami untuk mengoorganisir plus dan minus yang kami miliki. We’re the best quality of humankind, but it’ll be done if there’s no way to be kind anyway.” Remaja mengirimkan uppercut tajam kepada tuan emosi, membuat dirinya semakin menggebu-gebu.

“Jangan berlagak angkuh, anak bawah. Kau baru bisa menyentuh neuron tingkat satu saja demikian. Ingatlah, di atas langit masih ada langit, dan di atas langit tersebut, masih terdapat beberapa langit lagi. Dalam konteks ini, kau hanya seonggok manusia malang yang siap dideru oleh kehancuran. Bersiaplah!” Emosi beranjak dari kursinya, dan keluar dari neuron yang baru saja diduduki oleh si penyambat, Remaja.

Di balik itu, masih tersisa seorang pria, gerak-geriknya santai seolah tak acuh dengan keributan yang terjadi di belakang punggungnya. Ternyata, ia sedang menikmati waktu tidurnya, aneh sekali. Mengapa ia tidak kembali dan tidur di kamar saja, kalau seperti ini, ia akan menjadi target pertanyaan selanjutnya.

“Lantas, bagaimana, Tuan yang di sana?” Remaja kembali berkutik.

“Kau sulit. Sulit sekali. Aku menyimpan sebuah solusi dan sepertinya ini akan mempermudah kehidupan kita di masa depan,” sedikit berceletuk, Logika kembali melanjutkan,

“Pada dasarnya, hukum remaja berlaku demikian. Terpaksa merombak diri menuju versi yang lebih tangguh dan mutakhir, sebelum kedewasaan yang menjadi finalnya. Peristiwa ini bertajuk pubertas. Saya sangat tahu akan hal ini, di mana kemampuan otak dalam menangkap dan tingkat keseriusan melonjak drastis, kelenjar keringat berproduksi secara gencar dan tak merata, tumbuhnya bulu pubis di area-area tertentu, serta perubahan hormon testosteron yang memicu mood swing yang berepetisi,” giliran tuan Logika yang angkat bicara. Remaja hanya bisa menyimaknya,

“Peristiwa ini tentu akan sangat sulit jika hanya menggunakan mindset dan perencanaanmu sendiri, karena mindset adalah santapan hangat dan empuk bagi labilitas remaja, percayalah. Ada tiga lapisan yang dapat mengakselerasi nilai positifmu serta memperbaiki nilai negatif yang ada. Pertama, orangtua, selaku orang terdekat denganmu dan kaum-kaummu. Terdapat hubungan yang cukup intim di sana, sehingga pengaruhnya akan signifikan,” lalu Logika melanjutkan kembali,

“Kedua, adalah pihak sekolah, atau lapisan pendidikan yang ada di daerah tersebut. Ini adalah opsi paling fundamental, karena sekolah adalah sebuah media yang remaja gunakan untuk memperoleh pengetahuan dan lain sebagainya. Tentu saja, nilai-nilai yang terkandung dalam sistem sekolah adalah nilai-nilai yang sifatnya positif, sehingga idealnya para siswa yang dididik dapat mencerminkan sifat-sifat positif yang telah diajarkan sebelumnya,” berhenti sejenak, kemudian Logika kembali melanjutkan,

“Oh ya, lapisan pendidikan ini juga berkewajiban untuk memberdayakan para orangtua-orangtua remaja, sehingga mereka akan tahu bagaimana caranya menyikapi tingkah laku remaja, pergaulan remaja, tata krama remaja secara komprehensif dan teliti. Terkhusus hal ini, pemerintah masih bingung. Maka dari itu programnya tak kunjung kentara,

Terakhir, adalah dirimu sendiri, individu. Jika tidak ada kemauan individu, maka tidak akan terjadi perubahan. Ini bukan perihal mindset yang mengatur suasana hati, namun ini adalah tekad, ambisi, dan niat untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Bukankah hal itu harus diperjuangkan mulai dari remaja? Lebih cepat, lebih baik bukan?” tuan Logika selesai dengan penjelasannya. Si penyambat ulung terdiam daritadi, mengernyitkan dahinya. Sepertinya tak ada lagi yang harus diperdebatkan,

“Lantas, bagaimana contoh konkrit untuk mengubah mulai dari individu?” giliran Remaja yang berbicara, tatapannya fokus menatap punggung tuan Logika yang sedaritadi masih saja bertahan dengan posisi seperti itu. Kemudian ia membalikkan badan,

“Menulislah!”

Remaja terdiam, jawabannya tak sesuai dengan apa yang ia ekspektasikan.

“Me..Me..Menulis? Anda sedang tidak bercanda kan?”

“Jangan sekali-kali meremehkan kegiatan ini! Menulis tidak ada kaitannya dengan seusatu yang berorientasi feminim atau girly, karena menulis dapat membangun pola pikir kita secara runut. Percayalah! Lagipula, mood swing sering terjadi di kalangan remaja sepertimu kan? Oleh karena itu, menulis dapat menjadi pelampiasan, daripada mabuk-mabukkan, clubbing, dan lain sebagainya yang hedonis.”

Kini, remaja neuron itu mengangguk takzim.

 

NB : Saya selaku author dari coretan di atas meminta maaf terhadap apa yang baru saja kami suguhkan ke para pembaca. Jujur, tulisan ini has no concept, not at all. Ini hanya sekadar tulisan spontan, pelampiasan gabut dan bosan, also i’m so stuffed with all of tasks! So im really sorry if there are mistakes 🙂

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *