Maafkan Aku, Ibu

Tahu nggak, rasanya disuruh buat cerpen sama guru? Apalagi judulnya tentang Ibu? Hufft… Rasanya kayak pengen meledak! Sumpah nggak bohong, mentang-mentang ini momen Hari Ibu. Baiklah, manut saja daripada diomelin sama pengawas, alias Mba Nova, issh ngeri deh sumpah kalo gosipin Mba Nova, seorang kakak kelas yang nyebelin, membosankan (tapi aku tahu kok, sebenarnya Mba Nova baik) hahaha, oke mari kita mulai cerpen alias cerita pendek ini.

***

Ibu, kalo soal Ibu sih, aku lumayan lah. Sebab, sebelum ke Planet Nufo, aku lumayan dekat (bisa dibilang begitu), karena kalau di rumah itu, aku selalu membantu Ibu ketimbang Ayahku yang selalu pergi keluar kota, hmmm bagaimana ya? Kalau di rumah, Ibuku itu sering marah-marah sih, tapi ya mungkin saja karena aku saja yg malas, bandel, sering melanggar aturan, dan lain sebagainya. Mungkin kalau dijumlah total dari seluruh kesalahanku maybe bisa jadi 50an lebih kesalahanku.

Oh ya! Aku jadi teringat masa-masa laluku sebelum aku ke pondok pada tahun 2019 – 2022. Selama satu tahun itu, adalah zaman aku bandel sebandel-bandelnya, sumpah deh, itu zaman kejayaanku yang mungkin ini rada-rada sad bagi orangtuaku, maksud saya, mungkin bikin orangtuaku sedih kalau diumbar. Oke. Aku mulai ceritanya ya?

***

Semarang, tahun 2020 silam, adalah zaman di mana aku dan sahabatku, alias Rafif (R.R.M.) sering bersama di tahun itu. Kami selalu bersama setiap saat, sebenarnya cuma setiap hari sih. Saat Jum’atan, acara RT, mabar, dan lain-lain, intinya hampir di setiap hari penting, hari besar, dan acara tetanggga, kami selalu bersama-sama karena bisa dibilang rumahku dan Rafif lumayan dekat, beda hanya sebatas RT saja, walaupun sebenarnya cuma beda sekitar 8-10 meter. Ya, sebenarnya RTku dan Rafif dulunya sama, sampai ada pertengkaran antar tetangga yang menyebabkan pemisahan RT, hush, malah gosipin RT lagi. Sudahlah! Ayo lanjut ceritanya, intinya tahun itu adalah zaman kejayaanku dengan Rafif seperti yang aku bilang tadi. Aku itu orangnya russsakkk banget tuh, pakai banget lagi, haha.

Kesalahan yang ku perbuat adalah…. Tahu kan? Atau jangan-jangan belum tahu? Oke, biar aku kasih tahu ya. Di tahun 2019 – 2022, adalah zaman pandemi covid-19 dan sekolah itu pada diliburkan dan sebagian ada yang masuk, online, dan lain-lain. Nah, pada masa itu, kebetulan sekolah SDITku meliburkan sekolah tatap muka dan menggantinya dengan sekolah daring, alias online.

Pada masa itu tuh, aku dan Rafif mulai merasakan merdeka tanpa sekolah selama hampir 3 tahun euy, gila! Aku dan Rafif sekolah di SDIT yang sama, dan kami juga satu kelas, juga pada saat itu sekolah online. Jadi, ya gitu, aku dan Rafif sering mencari cara-cara licik untuk menggunakan waktu itu, seperti main game? Hahaha. Sekolahku, biasanya, daring menggunakan aplikasi zoom dan Rafif sering menumpang daring di rumahku, alasan saja, padahal dia ke rumahku juga bawa laptop, mouse dan aksesoris lainnya (buat numpang wifi haha).

Jadi saat laptopku sibuk memproyeksikan muka guruku beserta teman-teman kelas, sedangkan aku dan Rafif sibuk bermain laptop Rafif yang sedang membuka aplikasi game kesukaannya. Itu lah rutinitasku sepanjang minggu, bulan, bahkan setahun berlalu pun kami selalu melakukannya, haha. Sampai orangtuaku pun tahu rutinitasku tersebut.

Hingga suatu hari, Ibuku menanyakanku beberapa pertanyaan, seperti kenapa setiap soal/PR selalu terlambat dikumpulkan? Kenapa setiap PR/soal selalu dapat nilai 100, ups, padahal selama ini aku selalu mengerjakannya menggunakan google atau kadang-kadang aku menggunakan brainly. Duh, apa yang harus kulakukan?! Ucapku dalam hati.

Baiklah dengan jujur Aku mengatakan bahwa selama ini Aku selalu menyontek lewat internet, akhirnya Ibuku mengangguk pelan. Akhirnya, aku pun lanjut mengerjakan soal dan menyontek santai seakan-akan semua itu diizinkan, padahal tidak.

Seminggu pun berlalu. Aku pun semakin membandel, walaupun tiada Rafif, aku tetap bertambah bandel. Tidak ikut kelas, tidak mengerjakan soal/PR, semakin malas dan mager melakukan aktivitas di rumah, jarang membantu Ibu dan Ayah. Intinya, aku semakin bandel dan semakin bandel, contohnya saja, aku jadi malas melakukan pekerjaan rumah kecuali makan dan mandi. Sampai aku pun malas untuk tidur malam, sumpah! Malam-malam di saat yang lain tidur, aku malah bangun untuk mencari aktivitas, karena bosan Aku pun bermain laptop untuk menghilangkan bosanku, Aku pun membuka google dan mencoba menonton youtube agar tidak bosan.

Sejam berlalu tak terasa. Aku yang memulai agenda malamku pukul 00.19, sekarang tak terasa sudah pukul 01.34, semuanya masih tertidur pulas, sedangkan aku masih memandang layar laptop yang sedang menayangkan video meme dari youtube. Tiba-tiba, seseorang hendak datang ke kamarku, aku pun panik, tapi untungnya Aku sudah sedia payung sebelum hujan. Intinya, sudah siap lah kalau ada bahaya yang datang tiba-tiba. Aku pun langsung memasukkan laptop ke dalam tas yang sudah kupersiapkan, dan langsung memasang pose pura-pura tidur, tiba-tiba seseorang datang ke kamarku. Aku pun panik dan mencoba melirik siapa yang datang, ternyata itu adalah Ayahku, ternyata dia tidak tahu apa yang terjadi di kamar itu lima detik sebelumnya.

Pagi itu, aku beranjak bangun dari tidur dan segera mengusap mataku yang masih mengantuk karena tadi malam. Aku pun berjalan menuju kamar mandi, lalu mandi agar mataku tidak mengantuk lagi, selepasnya, aku pun pergi ke arah dapur dengan niat sarapan bersama keluargaku. Aku pun makan duluan bersama adikku, tapi ada yang menjadi pembeda, dan ternyata pembeda itu adalah adalah Ibu dan Ayahku yang tidak ikut sarapan bersama di dapur. Aku pun yang tidak peduli hanya berpikir mungkin saja mereka sedang membicarakan hal-hal penting, tapi semoga saja tidak soal tadi malam.

Setelah memakan sarapan di dapur menggunakan ikan bandeng presto kesukaanku, aku pun bersiap-siap untuk mengerjakan tumpukkan PRku yang sudah menumpuk. Tapi, tiba-tiba Ibuku datang dengan menangis tersedu-sedan, mendatangiku yang sudah siap di depan laptop dengan niat ingin mengerjakan seluruh PRku. Tapi, tiba-tiba Ibuku datang dan berkata,

“Kak, apakah benar tadi malam kakak benar-benar bermain laptop secara diam-diam?”

Aku pun terdiam dan menggeleng sambil melawan Ibuku dangan kata-kata, tapi Ibuku hanya terdiam sambil mengusap air mata dan berkata,

“Benarkah begitu? Apakah Kakak tidak berbohong? Ibu tahu lho soal tadi malam saat Ayahmu datang, Ibu juga tahu,” kata Ibuku. Bagaimana bisa dia tahu?! kataku dalam hati.

Akhirnya setelah berpikir panjang lebar selebar truk gandeng. Aku mengalah, mengangguk merasa bersalah Ibuku pun tersenyum,

“Jika kau begini terus, kau ingin menjadi apa? Gamer?” Aku pun mengangguk, karena tidak mendengar apa yang dikatakan Ibu, isi kepalaku sekarang hanyalah kenapa Ibu bisa tau? Kapan Ibu terbangun dan melihatku melakukan hal itu? Kenapa Aku tidak menyadarinya saat Ibu melihatku???

Aku pun hanya terdiam mendengarkan omelan Ibu selama kurang lebih 25 menit, Aku terkejut, tiba-tiba Ibu telah sampai di ujung omelan 25 menitnya tersebut. Yang ku ingat mungkin hanyalah seperti,

“Jika kamu tidak peduli dengan sekolah, PR, dan gurumu. Tidak mengapa. Tapi, minimal kamu harus peduli dangan orangtuamu, keluarga, dan sekitar. Bukannya malah tidak peduli dan hanya memedulikan diri sendiri. Seharusnya kamu itu sudah harus ada rasa tanggung jawab, bukannya malah bangun malam dan bermain laptop,” ujar Ibu.

Akhirnya, Ibuku pergi berlalu, meninggalkanku sendirian di kamar, hendak melakukan sekolah online. Selama sekolah online Aku selalu melamun sehingga sering kena teguran dari Ibu Guruku, Aku merenung hingga sekolah online pun usai, setelah Aku menyelesaikan beberapa tugas dan soal-soal dari Ibu Guru, Aku pun mencoba meminta maaf kepada Ibu setelahku ceritakan semua yang telah terjadi, Ibu pun mengangguk mengerti lalu tersenyum terharu, bertepatan dengan saat-saat epic itu terdengar suara azan zuhur. Aku pun lekas mengambil air wudhu dan bergegas menuju musala di dekat rumah.

Setelah sholat, aku pun beranjak pulang. Setelah berdoa dan bergegas menuju rumah untuk makan siang. Aku sedikit heran sesaat sampai di rumah. Ternyata, Ibu sudah kembali riang gembira lagi dan memasakkan ayam goreng kesukaanku, aku pun langsung menyambar piring di tempat piring berada dan langsung makan bersama Ibu dan Adikku. Saat Aku berbicara dengan Ibu untuk meminta maaf, ternyata Ibu sudah ikhlas dan memaafkanku. Aku pun berjanji akan lebih membantu Ibu dan lebih fokus dalam urusan sekolah, hingga akhirnya, Rafif sudah tidak bisa menongkrong di rumahku kembali, karena aku telah berjanji, akan bersungguh-sungguh dalam urusan sekolah onlineku. Kasihan sekali dia. Hahaha.

Bagaimana masa laluku? B aja kah? Atau malah menginspirasi? Wkwk. Intinya, kita jangan terlalu mementingkan diri sendiri dan malah membiarkan yang lain seperti Ibu, Ayah, Adik, dan keluarga lainnya. Sebenarnya tidak cuma Ibu sih, kisahku ini, ada yang tentang pertengkaranku dengan Ayah, Adik, tetangga bahkan tanteku, dan lain-lain, tapi kalau aku ceritain semua, nanti kalian bosan. Iya kan? Oke, jadi sekian dari saya. Terima Kasih.

Oleh: Niscala Akhdan Andrianto, Sanja kelas 7 SMP Alam Planet Nufo asal Semarang, Anggota Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah Planet Nufo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *