Guru dan Revolusi Industri 4.0

Guru dan Revolusi Industri 4.0

GURU adalah seorang pemimpin, tidak ada keajaiban dalam pekerajanku. Aku tak berjalan diatas air, aku tidak membelah lautan. Aku hanya mencintai anak-anak. Kutipan kata-kata yang sering di sampaikan oleh Marfa Collin ini adalah kata-kata yang antas diterapkan oleh semua pendidik dunia. Namun tak cukup dengan itu ada banyak ungkapan yang disematkan kepada guru akhir-akhir ini salah satunya adalah guru diibaratkan sebuah lilin yang selalu siap menerangi keadaan sekitar walau dirinya terbakar. Dan lilin hanya digunakan saat listrik padam saja. Itu artinya profesi guru dianggap sebagai profesi yang sangat mulia.

Saat ini dunia telah memasuki era revolusi industri generasi ke empat (Revolusi Industri 4.0) pada era ini, guru dituntut untuk memiliki emangat belajar yang tinggi dan kemampuan mengajar yang inovasi bahkan harus ampu berfikir think of out the box yaitu memikirkan sesuatu yang tidak dipikirkan oleh orang lain. Artinya adalah hal ini guru adalah PILAR PENDIDIKAN diperannya adalah penunjang keberhasilan anak bangsa menghadapi masa depan.

Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, artifisial, dan virtual. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya, teknologi informasi dan komunikasi tentu berimbas pula pada berbagai sektor kehidupan. Salah satunya yakni berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Disinilah peran guru dituntut untuk mencetak generasi muda yang mampu berdaya saing tinggi untuk menghadapi revolusi industry 4.0. dimana dalam hal ini peran manusia akan diganti oleh kinerja mesin dan robot.

Keberhasilan Indonesia untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti guru. Para guru dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Setiap lembaga pendidikan di Tanah Air harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan, terutama yang sangat terkait erat dengan persiapan SDM dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Bacaan Lainnya

Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter.

Menurut Dr. Rosyid Althaf, Mp, M.SI menambahakan gerakan kebaruan system pendidikan menghadapai era milenia ada tida literasi. Pertama literasi digital, meningkatkan membaca, mnganalisis dan menggunakan informasi didunia digital. Kedua literasi teknologi untuk memberikan pemahaman cara kerja mesin dan aplikasi teknologi. Dan yang kegita adalah literasi manusia.

Namun sayangnya kondisi saai ini msih saja sekolah yang memiliki guru gagap teknologi yang dapat dikatakan eggan untuk belajar. Hal ini ditemui dilapangan bahkan ada sebagian dari mereka adalah guru yang sudah PNS berumur diatas 50 tahun. Padahal diera saat ini siapapun dituntut untuk mempersiapkan diri dalam menghadapai tantangan bahkan era inipun memberikan peluang untuk mendapatkan manfaat terbesar denan perkembangan teknlogi yang telah memasuki revolusi 4.0. siapapun yang mampu beradaptasi maka dialah yang akan mendapatkan kesempatan memperoleh kemajuan dalam bidang apapun termasuak dalam pendidikan atau dunia pembelajaran.

Mengantisipasi mengahdapi era revolusi industry 4.0 pemerintah sudah mengakomodasikan dalam kurikulum 2013 salah satunya adalah dalam HOTS ( Higher Order thinking Skill ) Sebagaimana diatur dalam Peraturan Mendikbud (Permendikbud) Nomor 4 Tahun 2018 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan dan Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah, ujian nasional (UN) yang diselenggarakan oleh pemerintah, dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) yang diselengarakan oleh satuan pendidikan terus menerus disempurnakan.

Secara substantif peningkatan kualitas soal ujian baik ujian nasional maupun ujian sekolah berstandar nasional, yaitu dengan memasukkan secara bertahap standar yang disebut High Order Thinking Skill (HOTS). Guru-guru juga sudah dilatih untuk dapat membuat soal dengan standar HOTS ini. Harapannya nanti akan ditemukan keselarasan antara pengukuran capaian hasil belajar peserta didik berdasar ujian nasional dengan capaian beberapa penilaian internasional.

Hasil penilaian menunjukkan bahwa peserta pendidik Indonesia masih lemah dalam higher order thinking skill/HOTS; seperti menalar, menganalisis, dan mengevaluasi. Fakta tersebut mendorong upaya penguatan kemampuan penalaran peserta didik dalam pembelajaran. Peserta didik perlu dilatih dan dibiasakan mengerjakan soal-soal yang mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan solusi, sebagai salah satu kecakapan untuk bersaing di era revolusi industri 4.0.

Maka itu perlu ada transformasi mendasar pada sistem pendidikan di negeri ini. Sistem yang dimaksud berupa pendidikan yang benar-benar memberikan ruang kreativitas bagi anak dengan para guru yang bisa menjadi motivator dalam meningkatkan kompetensi anak. Lembaga pendidikan seharusnya menggunakan metode belajar yang tidak hanya abstraksi membaca buku lalu ujian. Namun lebih memandang kepada persoalan nyata atau tematik dan itu membutuhkan paradigma yang berkembang di masa mendatang.

Akan tetapi selain itu, pengembangan system cyber dalam dunia pendidikan diperlukan oleh guru untuk dapat memberikan materi ajar yang mutakhir sesuai perkembangan zaman, karena langsung dapat menayangkan materi itu dalam ruang kelas secara online. Dengan kata lain, pembangunan atau penyediaan fasilitas jaringan cyber sebagai bagian integrasi dengan jaringan teknologi informatika di lembaga pendidikan akan menciptakan berbagai kemudahan, baik dalam adminsitrasi akademik, non akademik, dan proses belajar mengajar, yang bermuara kepada peningkatan kualitas SDM output dari sebuah lembaga pendidikan. Bila hal ini dapat terwujud secara merata di seluruh penjuru tanah air maka pendidik di Indonesia mampu memasuki pendidikan era revolusi Industri 4.0.

Terlepas dari itu, perjuangan dan pengabdian guru sesungguhnya tidak akan terbatas oleh apapun. Pada intinya pencapain tertinggi dari seorang guru adalah melihat siswanya mampu mengenggam dunia dan mencapai keberhasilan di kemudian hari. Dimana hanya seorang guru yang bisa merasakan kebahagian itu tanpa meminta imbalan apapun.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *